
" Dokter pasien koma !" panggil pendamping.
" Ambil alat untuk defribrilator !" teriak dokter.
" Adek, jangan tinggalkan kak Abi . . !" teriak Abi. Abi sudah tidak terkontrol, sebagian, menenangkan Abi.
" Sedikit ada harapan pak Abi, mungkin 20 persen harapan buk Ais bisa hidup " kata dokter sambil mengelap keringat, setelah bersusah payah, untuk menyelamatkan nyawa Ais.
" Tapi jika alat di lepas, nyawa buk Ais sudah tidak ada, ini tergantung anda, karena kita tidak tahu kapan buk Ais akan bangun !" kata dokter.
" Aku yakin istriku akan bangun, sehari dua hari, atau sebulan dua bulan, bahkan setahun, dua tahun aku akan menunggunya, aku yakin dia akan kembali ke raganya " kata Abi.
Ais akan di pindahkan ke ruang ICU, Abi sudah tidak Kepikiran pada ke dua putranya lagi, yang ia pikirkan saat ini adalah Ais.
" Bi, anak yang tidak kau akui ternyata mirip kamu !" kata Roy yang baru datang, melihat melalui pembatas kaca dari ruangan anak.
" Kalau tidak mau buat aku saja ?" kata Roy.
" Ais koma !" jawaban Abi. jawaban Abi membuat Roy tercengang.
" Apa Bi, !? tidak mungkin, Ais, wanita kuat Bi, tidak mungkin hanya menghadapi seperti ini dia menyerah !" Roy mengguncang tubuh Abi yang lemah.
" Harapan hidup Ais, hanya dua puluh persen Roy " kata Abi meneteskan air mata.
" Ais !" Roy mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kau yang sabar nak, ini ujianmu, kau harus kuat !" kata bu Dwi pada putranya.
Seketika, dalam otaknya Abi, jadi teringat, kelahiran ketiga putrinya.
{ " Kak, perut Ais sakit " kata Ais.
" Nanti ya dek nunggu pagi, sekarang masih gelap !" kata Abi, di saat lahiranya Zhafira.
" Masih kuat dek ?" tanya Abi,
" Jangan beringsik malu sama tetangga !" bisik Abi di telinga Ais.
" Aghhhhht !" Abi teriak karena dadanya di gigit Ais yang menahan sakit melahirkan.
Mengajak jalan Ais, agar lahiranya lancar, di saat lahiranya Intan.
" Kak, jika anak kita perempuan lagi bagai mana, kak Abi, tidak akan ceraikan Ais kan ?" tanya Ais.
" Laki - laki perempuan itu titipan allah sayang " kata Abi menciumi wajah Ais sambil memegangi perut Ais yang sudah terasa.
" Ssssst !" desis Ais.
Lalu ia baringkan di brankar klinik.
" Aghhhhhht. . !" teriak Abi, karena tanganya di gigit, sampai berdarah.
Dua kali terluka, Abi kini punya akal agar Ais tidak menggigitnya.
" Dek, kakak bawain kain, agar jangan tubuh kak Abi lagi yang kau gigit !" kata Abi.
__ADS_1
" Aghhhhhht !" teriak Ais.
brakkkk
srekk !
Baju Abi robek, kancing bajunya kocar kacir, di ruangan bersalin. Ingatan itu membekas di dalam pikiranya. }
" Ternyata lebih indah kau menggigit kak Abi dek !" gumam Abi.
Abi tersenyum sendiri, terus menangis seperti orang gila.
Sesaat kemudian pandanganya gelap.
" Istigfar Abi, istigfar !" teriak Arman, menepuk pipi Abi, sesaat Abi jatuh pingsan. Abi membuka matanya, dan mendapati Jay dan Arman sudah ada di atasnya.
" Ais hanya tidur kan bang, Ais hanya tidur kan kak, tapi kenapa dia tidak bangun - bangun, menyiapkan keperluan Abi !" kata Abi, menggoncangkan dua pria ada di depanya yang diam mematung.
" Ais masih istirahat, dia masih lelah !" kata Arman.
{ " Kak Abi, pulangnya jangan sore - sore ya ? anak kita kangen !" kata Ais.
" Kamu atau anak - anak yang kangen !" kata Abi.
Saat Abi pulang
" Happy, anyversary, terima kasih telah memberikan bibit unggulmu, hingga, menjadikan anak kita para wanita hebat !" kata Ais, saat anyversary yang ke tujuh saat Ega masih kecil dalam gendongan Ais.
" Kak Abi yang beruntung, memiliki wanita kuat sepertimu, yang mengiringi kak Abi dari nol " Ingatan Abi berputar lagi.}
Plak. . !
" Abi kau harus sadar !" bentak Arman sambil memukul wajah Abi.
Abi menangis lagi dengan berderai air mata.
{ " Ini dek telornya kita bagi dua ya ?" tanya Abi saat sarapan, di saat masih hidup susah. Ais menggeleng.
" Ais tidak suka telor kak !" kata Ais.
" Kenapa kau tidak makan bersama ?" tanya Abi.
" Ais punya lauk sendiri !" kata Ais sambil mengeluarkan, rebusan daun ubi, dan sambal hanya cabai dan garam. daun ubi dan cabai panenan sendiri.
" Kak Abi janji, kak Abi, tidak akan makan telor selain olahanmu dek, terima kasih, telah menemani sulitku !" kata Abi.
" Jika kak Abi sudah ke cukupan jangan lupa dengan kita ya ?" tanya Ais. Abi mengangguknya, dan memeluk Ais, di depan ibunya, yang waktu itu umur Ais masih dua puluh satu, hamilnya Intan. }
{" Hu hu hu. . !" tangis Ais saat Abi pulang dari warungnya.
" Kenapa nagis dek, kamu nangis seharian ya ?" tanya Abi. Ais mengangguk.
" Pantas tidak nyusul kak Abi, apa badanmu masih belum sehat ?, apa Zha nakal ?nanti setelah mandi kak Abi pijitin !" kata Abi, tapi Ais menggeleng
" Lalu apa ?" tanya Abi yang masih bingung.
__ADS_1
Ais mengulurkan benda pipih se lidi aren, berwarna biru, bergaris dua. Abi tersenyum.
" Ais belum siap, Zha masih kecil kasihan !" kata Ais pada Abi.
" Itu anugrah sayang !" kata Abi memeluk Ais.
" Apa kau menyesal karena kak Abi masih miskin ?" tanya Abi. Ais menggeleng.
" Ais lelah karena Zha anaknya aktif " kata Ais sambil memandang anak berumur dua tahun yang acak - acak rumah.
" Nanti kak Abi bantu, adek istirahat saja, biar kak Abi yang beresin !" kata Abi.
" Tapi Ais tidak enak, kita beresin bersama ya ?" kata Ais. } Memori itu seperti di putar kembali dalam ingatanya.
" Tidak hanya kamu yang sedih, abang juga !" kata Jay lalu memeluk Abi.
" Om !" tangis Arief yang baru datang dari Bali langsung memeluk Abi dengan tangisan dia pulang karena dengar kabar bibi kesayanganya melahirkan.
" Ais orang baik, kita semua, bakalan rindu, dengan senyum cerianya !" kata Roy.
Arman dan Jay keluar.
" Ntah apa yang harus aku lakukan, jika Ais, harus pergi, mungkin adiku akan gila Jay, Ais baru koma, dia seperti orang linglung !" kata Arman.
" Kita ber do ' a, semoga, Ais di beri umur panjang !" kata Jay.
Hari pun berlanjut, di rumah sakit tidak pernah sepi untuk menjenguk Ais yang sudah sebulan terbaring koma. Putra Abi yang kritis juga sudah sehat, ke dua putranya sudah pulang ke rumah.
" Mas Abi " panggil seorang wanita cantik, yang tidak lain Ratna, istri dari dokter Seno.
" Ratna kok ada di sini ?" tanya Abi.
" Ini antar makan siang suami !" kata Ratna.
" Sudah nikah ?" tanya Abi. Ratna mengangguk.
" Mas Abi kok ada di sini ?" tanya Ratna,
" Nunggu istri, masih koma !" kata Abi menunduk. Lalu Ratna mengintip dari pintu kaca.
" Ais ?" kata Ratna.
" Jadi mas Abi istrinya Ais, pelakor itu ?" tanya Ratna yang keceplosan.
" Jangan kau jelekan istriku, dia bukan pelakor !" kata Abi.
" Dia mengganggu suamiku !" kata Ratna meyakinkan.
" Apa Suseno aji ?" tanya Abi. Ratna mengangguk.
" Suamimu yang mengganggu istriku. Paham ?" kata Abi.
" Hai ternyata kalian sudah saling kenal ?" kata Seno yang baru datang.
" Om Abi . . !" panggil anak jalanan yang baru datang, menghentikan perdebatan.dengan membawa beberapa bingkisan, dan Abi mengucap trima kasih.
__ADS_1