
" Hai Abi kau keparat, ternyata ke luguanmu hanya kedok !" teriak Azzam kakak Nadia yang dapat laporan dari Nadia. Tanpa pikir panjang Abi keluar, dan meraih kopi sisa tadi malam walau kondisinya semakin lemah.
Bught. . Bught. . !" k
akak Nadia mengahajar Abi, tapi dengan nafas sesaknya Abi hanya pasrah, sambil menggenggam gelas dan kopi yang ada di dalam pelastik.
" Jangan kak, jangan sakiti mas Abi !" tangis Nadia Abi tersenyum sinis menahan sesak dan sakit di tubuhnya, Nadia di tarik kakak.
" Kau bodoh kau anggap dia malaikat, dia telah merusak masa depanmu !" kata Azzam kakak pertama Nadia Bugh. . ! Prang. . ! Badan Abi terpental jauh dan di depanya, ada empat kaki, tegap gagah memandangnya.
" Jika kau ambil nyawaku, aku Iklas, tapi aku mohon tunjukan ke besaranmu, ungkap semua ke benaran " kata Abi, yang sudah pasrah seperti malaikat maut di depanya.
" Amankan kopinya mas !" teriak Roy teriak pada Arman.
" Jika kalian mendekat lagi, pistol ini, membelah otak kalian !" kata Roy, yang sedari semalam, di tugaskan Ais mencari Abi.
" Suit suit !" siulan Roy, semua anak buah Roy keluar, berbadan kekar dan bertato.
Arman berusaha menyadarkan adiknya, masih sadar, tapi sudah tidak kuat berbicara
" Ayo tunggu apa lagi, angkat Abi " teriak Arman panik.
" Dia alergi obat !" kata Arman.
Setelah sampai di rumah sakit Ais sudah menunggu, Abi di masukan ke ruang UGD semua alat terpasang tapi Abi masih tetap merasa sesak.
" Cri susu murni !" teriak seorang dokter Seno panik, sedang Roy, memberi sample kopi pada dokter lain, untuk memeriksa, hasil lab.
" Bagai mana Sen ?" tanya Ais.
" Dia alergi obat Ais, jadi kita akan mengeluarkan efek obat itu !" kata Seno. Ahirnya, Abi muntah - muntah setelah meminum susu, tapi terdapat penyempitan pada paru - paru Abi karena efek obat, jadi membuat Abi kritis.
" Allah, allah allah !"
__ADS_1
" Adek maafkan kak Abi !" gumam Abi di sela nafasnya yang tersengal - sengal. Keluarga Nadia datang.
Plak. . !
umi Kulsum ibu Nadia menampar Ais.
" Jika kalian ke sini, akan menyiksa aku dan suamiku, jangan pernah kau injakan kaki di sini !" kata Ais.
" Seharusnya aku yang marah padamu dan suamimu !" bentak umi Kulsum.
" Dan meminta pertanggung jawaban suamimu, karena telah meniduri putri kami " Kata umi Kulsum. " Atau akan aku adukan pada kantor polisi !" ancam umi Lagi.
" Silahkan, laporkanlah, karena bukan suami saya yang akan masuk penjara, tapi anak anda, atau anda sekalian, karena membela yang salah !" kata Ais.
" Kau suka sekali memutar balikan fakta " kata umi lagi.
" Biarpun kau sewa pengacara hotman parispin kau akan kalah, karena ke lalaian anda putri anda memasukan obat perangsang dalam dosis tinggi, ke minuman kak Abi, dan kak Abi, tidak sembarangan obat bisa di konsumsi, karena paru - parunnya, beruntung dokter, segera menyelamatkanya, walaupun masih kritis, harapan masih hidup sudah ada !" kata Ais.
" Abah umi !" sapa Seno pada mertuanya.
" Jadi ini yang di bilang mantan kamu kata Ratna ?" bentak umi Kalsum. Seno yang tadinya menunduk menghormati sekarang tegap tangan umi Kalsum siap menampar Ais lagi, tapi dengan sigap Seno menghadangnya.
" Kenapa orang pintar, tingkahnya seperti binatang " kata Seno, memandang Nadia.
" Dia memang mantanku, penghuni hati ku !" teriak Seno, tapi kami bukan penzina, untuk menghalalkan cara untuk mencapai tujuan, aku mencintainya karena allah, maka aku tidak menyekutukan allah, maka dari itu, aku lebih bahagia melihat dia bahagia, tapi ke bahagiaanya di rusak oleh putri anda !" bentak Seno pada mertuanya.
" Kita pergi dari sini, tidak ada gunanya bicara pada orang yang mendewakan binatang " kata Seno sambil melirik Nadia.
" Seno kau menantu durhaka, ceraikan saja Ratna, tidak sudi dia punya suami sepertimu " teriak umi kalsum, saat Seno sudah mendorong kursi roda Ais.
" Aku tunggu umi " jawaban Seno. Umi kalsum duduk lalu menangis sesenggukan.
" Dosa apa aku, hingga anak - anak ku mendapatkan musibah srperti ini ?" kata umi Kulsum
__ADS_1
" Umi benar apa yang di katakan Seno, kita harus cari tahu, jangan hanya yang kita dengar dari Nadia " kata abah Rohman.
" Jadi abah lebih percaya, wanita itu, dari pada Nadia putri abah sendiri !" bentak Nadia lalu pergi.
" Kau harus makan, agar kau bisa menguatkan Abi, di saat kau sakit Abi lah yang menguatkanmu !" kata Seno.
" Kita makan masakan padang !" kata Ais. " Baiklah " jawab Seno. Nadia dan Ratna menghampiri Seno yang sedang mendorong kursi roda Ais memasuki warteg.
" Dasar pelakor " teriak Ratna.
" Lihatlah dokter yang punya jiwa menolong, tapi juga punya jowa membunuh perlahan, dia bermesraan, dengan istri pasienya yang sedang kritis, alangkah memalukan dia " kata Ratna.
" Tega sekali ya istri pasienya " bisik para pengunjung.
" Buk pesan, nasinya, beserta isinya !" kata Ais pada pedagang.
" Kau masih seperti dulu, cuek dengan orang yang menghina kita " kata Seno.
" Meladeninya, yidak bikin perurmt kita kenyang " kata Ais
Brak. . !
" Mas aku isteimu, sedang hamil anakmu, kenapa kau lebih peduli dengan pelakor ini !" tunjuk Ratna pada Ais. Seno akan berdiri tapi di tahan oleh Ais.
" Makan dulu, biar tidak emosi !" kata Ais lalu, Seno duduk lagi, sedang semua orang yang ada di situ hanya menatap heran. Ratna menangis sesenggukan di dekat mereka makan.
" Hai kau pelakor, !" bentak Ratna pada Ais, saat akan mengambil minuman yang telah di siapkan oleh Seno.
" Cukup bilang aku pelakor, lihatlah adikmu, dia lebih rendah dari pada pelakor, dan pelacur, dia mau di tiduri pria dengan geratis, hingga menggunakan obat perangsang, yang membahayakan nyawa sang pria " kata Ais lantang. Nadia mendekat akan mendaratkan tamparanya, tapi Ais tidak lemah, lalu memelintir tangan Nadia dan mendorongnya.
" Kenapa, kamu marah, karena merasa terhina, bukankah, itu semua benar, hingga suamiku kritis " kata Ais.
" Jika Abi menikahimu, maka aku akan menikahi Ais !" kata Seno
__ADS_1