
" Mungkin sayang tapi itulah jalan takdir kita, tapi saat ini lebih baik memikirkan anak - anak, dulu pernah di janjikan sama laki - laki, setelah menikah, akan di kuliahkan, tapi setelah menikah, dia mintak anak dulu, setelah ku beri anak, katanya kasihan, gara - gara di rumah terus, nambah satu lagi anak, dan bertambah lagi usahanya di ambang ke bangkrutan, dan ahirnya aku memutuskan aku tidak akan kuliah, yang penting anaku, bisa mengenbangkan bakatnya, dan berikan dia yang terbaik !" cerita Ais, Abi hanya senyum sambil menggaruk kepalanya laki - laki yang di maksud adalah dirinya.
Ponsel Ais berbunyi, Ais, menganggat ponselnya dan akan berdiri tapi pergelangan tanganya di tahan oleh Abi.
" Apa yang kau tutupi ?" bisik Abi. Ais mengangkat dan loudspeker
" Hai, kapan buk boss ke tanah air !?" tanya Ais tanpa basa basi.
" Kenapa ? Kangen ? Apa kamu mau bilang kalau di hianati Abi, tenang saja, kalau ada pria penghianat, itu jadi santapan hangatku !" kata Ira yang dari sebrang sana.
" Ha ha ha. . ! Mana pernah Abi manyu selingkuh, melirik saja tidak pernah !" kata Ais.
" Ya karena dia takut kamu colok !" kata Ira.
" Kamu hubungi aku mau ngapain ? Kalau mau nanyain Abi masih aku kurung di kandang singa " kata Ais.
" Ternyata sahabatku, lebih kejam dari yang aku bayangkan !" jawab Ira.
" Aku hanya mau nanyain, bagai mana kabar anak - anak ?" tanya Ira.
" Baik ! kapan kamu pulang ke tanah air ?" tanya Ais.
" Ini masih di Bali, lagi momong kaka ipar bayi, masih ingusan sudah berani nikah !" kata Ira.
" Kau mau nyinggung aku !" bentak Ais.
" Ha ha ha, ada yang ke singgung ternyata, tapi kan kamu pintar " kata Ira.
" Pintar bikin anak ha ha ha " bisik Ira lalu mematikan ponselnya.
" Siapa dek ?" tanya Abi.
" Sang ketua mafia Negri tirai bambu, keturunan Padang Tionghoa " jawab Ais.
" Jauhi dia dek !" kata Abi.
" Jangan pernah meremehkan seorang mafia kak, dia menjadi mafia tidak tanpa alasan, karena dia peduli pada rakyat miskin " jawab Ais.
" Tapi kak Abi takut kamu kenapa - napa !" kata Abi.
" Ais bukan anggotanya juga " kata Ais.
" Mama. . !" peluk ketiga anaknya berebut. Lalu menyalami semua yang ada di sana, di susul oleh Arief dan juga bu Dwi masuk ke rumah menyapa dengan ramah.
" Hai dek kapan kamu bikin mama sehat ?" tanya Zha pada perut Ais.
__ADS_1
" Ini mama sehat, memang kapan berangkatnya ?" tanya Ais.
" Dua puluh hari lagi " kata Zha.
" Ya sudah mulai besok kita bersiap " kata Ais.
" Emang mau kemana Bi ?" tanya Ahmad.
" Mau ke Bali om, ikut olimpiade, peewakilan dari provinsi ? " jawab Zha.
" Wah hebat, emang ikut lomba apa saja ?" tanya Ahmad.
" Kalau atlitnya karate, kalau asah otaknya Matematika om " jawab Zha.
" Okey, kalau menang, om gus janji, om belikan al qur ' an yang bisa berbicara, yang keluaran Jepang asli " kata Ahmad.
" Benar om, yakin ?" tanya Zha dengan wajah berbinar. Ahmad mengangguk dan tersenyum.
" Kalau om Faris belum bisa kasih hadiah " kata Faris menunduk.
" Om cukup bantu Zha dengan do ' a " kata Zha.
" Itu pasti sayang " kata Faris sambil mengacungkan jempolnya
" Gus Rayyen menjanjikanku, Sepeda listrik " kata Zha.
" Sering bertemu di toko buku " kata Ais.
" Jadi kalian sering bertemu denganya ?" tanya Ahmad. Dan di angguki lagi oleh Zha.
" Masuk sana ganti baju " siruh Ais pada Zha.
" Wanita Yang dia incar, sang ketua mafia, yang beetaruh nyawa untuk memperjuangkanya pulang ke tanah air, mereka saling mencintai, tapi wanitanya selalu bilang tidak mungkin, bagai langit dan bumi, wanita yang hidup dalam sangkar berdarah tapi hatinya bagai malaikat " Kata Ais.
" Kau kenal banyak tentang mereka ?" tanya Ahmad.
" Aku tong sampahnya hehe !" kata Ais lalu tertawa.
" Ha ha ha, ada ada saja kamu Ais " cetus Ahmad.
" Mareka berdua curhatnya sama aku, Rayyen pun sudah pernah ajak dia ta aruf, dua tahun silam, tapi namanya mafia, susah untuk di temui " kata Ais.
" Jika adiku, jodohnya seorang pembunuh, karena dia pemimpin, pasti dia bisa membibingnya, seperti hal nya Abi, Abi peganganya Al qur an, istrinya peganganya pistol, Abi membimbing kepala agar lurus, isteinya menginjak kepala, kau insporasi juga Abi !" kata Ahmad.
" Ha ha ha. . !" tawa berjamaah.
__ADS_1
" Mama kakak nakal " teriak si kecil Ega.
" Tidak ma ha ha ha !" tawa Zha.
" Malu kak, mana baju adek !" teriak Intan, Ais hendak berdiri tapi di larang buk Dwi.
" Biar ibu saja !" kata bu Dwi.
Ahmad tersenyum melihat tingkah anak - anak Abi.
" Oh ya Faris besok berangkat pagi ya, temui aku di resto, yang ini alamatnya " kata Abi sambil menyodorkan kertas kecil.
" Emang ada berapa resto Bi ?" tanya Faris.
" Di sini ada tiga, dan ini ada yang mengklaborasi di Bali, jadi ke Bali alhamdulilah sekalian akan berkerja sama dengan pemilik resort ternama, do ' a kan ya !?" kata Abi.
" Amiiin " jawab semua.
" Ayu, sebenarnya ingin juga kerja !" kata Ayu sambil menunduk.
" Bagai mana dek ?" tanya Abi pada Ais.
" Terserah kak Abi " kata Ais.
" Yu, kau kerja di rumah sini saja, jagain Ais dan sekalian beberes, kasihan mbok Darmi, tambah lagi nanti, akan hadir anggota baru, jadi tambah repot, dan kau juga bisa ajak anakmu, kalau di resto tidak bisa !" kata Abi.
" Bagai mana Yu, mau ?" tanya Abi. Ayu mengangguk.
" Tapi istriku cerewet Yu, jadi lebih baik kalau dia sudah mengeluarkan tenaga dalam tutup telinga, masalah gajih tapi tidak banyak " kata Abi hanya di senyumi Ais.
" Ya mas Abi tidak pa pa " kata Ayu.
" Mama mas Arief nakal " teriak Zha sambil mengejar Arief.
Brught
Arif terjatuh, lalu di naiki Zha.
" Bawa sini mas ayam gorengku, " teriak Zha. " Mas juga mau. " kata Arief.
Lalu Arief membalikan badanya, dan menggelitik Zha. Membuatnya tertawa terbahak - bahak, dan terbaring lelah.
" Kau tahu Zha, dulu mamamu lebih nakal sama mas, hanya telor saja mas kena jitak " kata Arief menciumi adiknya yang sedang makan ayam goreng
" mas dendam ? dan Jadi dulu belum ada ayam goreng ?" tanya Zha.
__ADS_1
" Mama kamu apa pernah makan ayam goreng, kalau tidak nunggu sisa bibi Norma sama kakek, makanya dia nakal banget kalau sama mas !" kata Arif.
" Kau beruntung jadi anaknya, tidak pernah telat makan ayam goreng, " Kata Arief, sambil mengacak rambut adik sepupunya.