Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 10 bertemu rebecca


__ADS_3

"Beca!" Ruby berseru saat melihat Rebecca memasuki cafe dan berjalan ke arahnya.


Senyum indah terbit dari wajah cantik Ruby, membuat jantung pria yang dari tadi menatapnya berdegung kencang.


"Maaf aku datang terlambat, By."


Rebecca mendekati Ruby dan duduk di kursi di depan Ruby.


"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang," dusta Ruby yang tidak ingin sahabatnya itu merasa bersalah. Padahal sudah satu jam Ruby menunggu menjadikannya objek kekaguman pria yang dari tadi menatap dirinya.


"Cih! Sikap yang menjijikkan," batin Rebecca.


"Kau ingin pesan apa, Beca?" Ruby menawarkan menu kepada sahabatnya itu.


"Aku pesan jus lemon saja."


"Kau tidak pesan makanan?"


"Aku tidak lapar, By," tolak Rebecca.


"Baiklah, aku pesan jus lemon juga kalau gitu."


Rebecca hanya memutar matanya jengah. Sebenarnya dia malas berlama-lama dengan Ruby si gadis cacat. Namun, demi tujuannya, dia menahan ego.


Sesungguhnya dia tidak sudi duduk bersama dengan Ruby. Apa kata teman-teman sosialitanya jika melihat Rebecca si gadis seksi nan cantik ini duduk bersama seorang gadis cacat meskipun gadis cacat ini pewaris dari perusahaan terbesar di kota K.


"Mengesalkan," batinnya lagi.


"Oh iya, kamu ingin bicara apa?"


"Aku ingin bicara tentang Alex!


"Alex kenapa? Apa .…" Obrolan itu terjeda saat pelayan kafe mengantar pesanan mereka.


"Alex berubah, Beca. Dia membenciku dan menuduhku penyebab kami kehilangan calon bayi kami. Dia juga menyebutku pembawa sial." Ruby menceritakan semuanya kepada Rebecca sembari menangis sedih.


"Jelas dia membencimu. Dia kan tidak pernah mencintaimu. Dasar gadis cacat bodoh!" batin Rebecca.


"Tenanglah, By! Mungkin Alex ada masalah di kantor. Kau tahu Alex sering dicemooh para pemegang saham di perusahaan hanya karena dia suamimu dan status CEO-nya hanya pengganti. Mungkin itu yang membuat dia marah kepadamu."


"Terus aku harus bagaimana untuk membuat Alex seperti dulu lagi yang selalu mencintaiku, Beca?"


"Kena kau gadis bodoh!" batin Rebecca bersorak senang, itu berarti tujuannya sebentar lagi akan terwujud.


"Kenapa kau tak menyerahkan semua sahammu kepada Alex dan jadikan dia pewaris perusahaan supaya jabatan CEO tetap miliknya? Aku yakin Alex akan senang dan kembali padamu." Rebecca tersenyum licik.


"Benarkah Alex akan kembali padaku kalau aku menyerahkan semua warisan itu kepadanya?"


"Iya, aku yakin. Bukankah dengan cara itu Alex tidak akan dicemooh orang lagi termasuk para pemegang saham di perusahaan?" Rebecca mencuci otak Ruby yang polos sambil bersorak gembira dalam hatinya.

__ADS_1


Lama Ruby terdiam dan memikirkan semua perkataan Rebecca. Menurutnya Rebecca benar. Mungkin dengan menyerahkan semuanya kepada Alex, suaminya itu akan kembali seperti dulu.


Demi suami yang sangat Ruby cintai, Ruby rela melakukan apapun.


"Baiklah! Aku akan menyerahkan semuanya kepada Alex."


"Yes! Berhasil! Selangkah lagi aku akan melemparmu dari semua kehidupan mewahmu itu Ruby bodoh! Hahaha." Rebecca tertawa jahat dalam hati.


"Aku akan menemui pengacara Daddy besok, untuk mengganti nama ahli waris menjadi Alex."


"Hmm." Rebecca mengangguk.


Sedangkan tak jauh dari kursi Ruby, pria yang dari tadi melihat Ruby, menatap gerak - gerik kedua gadis yang berbeda bentuk dan rupa menurut pria itu. Dia binggung saat Ruby bercerita sambil menangis, tapi tak lama dia kemudian tersenyum.


"Ada apa dengan gadisku?" gumam pria itu yang masih di dengar sang asistennya dan membuatnya tersedak minumannya sendiri.


"Berisik!" uar pria itu dengan suara dinginnya.


"Maaf, Tuan."


"Cari tahu tentang gadisku, Bram!"


"Baik, Tuan."


Pria itu pun berdiri dan melangkah keluar dari kafe. Sosoknya menjadi pusat perhatian para wanita yang ada di sana termasuk Rebecca.


"Tampan dan seksi," batin Rebecca yang membayangkan dia ada di bawah kungkungan tubuh kekar pria itu.


"Pergilah! Aku tidak apa-apa. Aku ke sini bersama Paman Lotus!" Ruby mengarahkan pandangannya ke luar di mana Paman Lotus menunggu.


"Oke, aku pergi dulu. Bye, By.''


Rebecca berjalan terburu- buru menuju pintu keluar kafe, meninggalkan Ruby sendiri. Ruby kini termangu sembari masih memikirkan saran Rebecca.


***


Rebecca yang berada di parkiran kafe menengok ke sana ke mari seperti mencari sesuatu.


"Kemana pria tadi?" gumamnya. "Sial! Aku kehilangan jejaknya gara-gara gadis cacat itu! Menyebalkan!" Rebecca berjalan ke arah mobil sport-nya sambil bersungut-sungut.


Kini Ruby sudah berada di mobil mewahnya. Dia memandangi jalanan yang macet. Dia menarik napas panjang berkali-kali untuk mengurangi beban pikirannya.


"Antar aku ke kantor, Paman Lotus!" perintah Ruby kepada sopirnya itu.


"Baik, Nyonya."


***


Kini mobil Ruby sudah memasuki parkiran khusus pemimpin di perusahaan Daddy Ruby. Paman Lotus membantu Ruby dan menuntunnya duduk di kursi roda. Setelah menyakinkan posisi duduk nyonya itu nyaman, Paman Lotus mendorong kursi roda Ruby memasuki loby kantor.

__ADS_1


Karyawan yang mengenal Ruby sebagai pemilik perusahaan memberi Hormat dengan membungkukkan badan dan tersenyum. Ruby juga menyapa para karyawan dengan ramah.


Ruby sudah sampai di ruangan paling atas perusahaan itu. Kini dia sudah di depan ruang CEO dimana sang suami bertahta.


Tanpa mengetuk pintu, Ruby masuk ke dalam ruangan mewah itu. Dia mendorong kursi rodanya masuk.


"Kosong. Ke mana Alex?" batinnya.


Ruby pun mencari suaminya di dalam ruangan itu, tapi nihil, suaminya tidak ada di sana.


"Apa dia tidak masuk kantor?" gumam Ruby.


Ruby mendorong kursi rodanya keluar. Ia ingin menanyakan keberadaan suaminya kepada Jastin asisten Alex.


"Anda di sini, Nyonya?" Tiba- tiba asisten suaminya muncul dan mengejutkan Ruby.


"Kau membuatku terkejut, Jastin!"


"Maaf, Nyonya."


"Kemana Alex?" tanya Ruby.


"Tuan Alex ada pertemuan dengan salah satu kolega kita, Nyonya."


"Oh begitu," ujar Ruby dengan nada kecewa karena dia sudah sangat merindukan suaminya.


"Aku pulang dulu, Jastin."


"Biar aku antar, Nyonya."


Ruby tidak menjawab dia membiarkan Jastin mendorong kursi rodanya memasuki lift menuju lantai bawah.


***


Alex kini berada di sebuah kamar bersama seorang wanita. Mereka berbaring di kasur sambil berpelukan tanpa sehelai benang. Sisa-sisa peluh dari hasil percintaan mereka masih ada.


"Wanita itu berhasil menyakinkan si cacat itu, Sayang?" Si wanita bertanya menghilangkan keheningan di kamar sembari menatap wajah tampan Alex dan membelainya.


"Iya, Baby. Mungkin besok kita sudah mendapatkan semua yang kita inginkan selama ini."


"Benarkah, Sayang?"


"Iya besok si cacat itu akan mendatangi pengacara keluarga Robert."


"Akhirnya, semua usah kita tidak sia-sia!" Wanita itu bersorak gembira sambil memeluk Alex. "Love you, Sayang."


"Love you too, Baby."


Dan bibir mereka kembali saling meluumat dan menyeesap. Mereka saling bercuumbu kembali. Cummbuan itu semakin panas. Kini tangan terampil Alex sudah berada di inti tubuh wanita itu, bermain lama di sana.

__ADS_1


Sedangkan bibir seksinya menyesap guunung indah wanita itu memainkan puucuk indahnya yang mana membuat wanita itu berteriak nikmat. Dan terjadilah kegiatan panas untuk sekian kalinya pada cuaca yang juga sedang panas itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2