Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 101


__ADS_3

Ruby kini sudah tiba di mansionnya dan di sambut dengan gembira oleh sang mommy dan juga para pelayan.


Ruby turun dari mobil dan berlari kearah sang mommy.


"Baby, hati-hatilah.!" pekik Boy.


"Mommy, ….!!! seru Ruby dan menghampur kepelukan mommy.


"Kangen,!" liriknya.


"Mommy, juga kangen, sayang." balas sang mommy.


"Baby, masuklah. diluar dingin," Boy menghampiri ibu dan anak itu dan menyela obrolan mereka.


"Iya, sayang. ayo masuk." ajak sang mommy, sambil merangkul pundak putrinya dan membawanya masuk kedalam mansion.


"Nyonya, Ruby." bibi lili dan para pelayan lain menyambut Ruby yang sedang berjejer rapi di ruang tamu.


"Selamat datang kembali, nyonya." seru bibi lili.


"Terimakasih, bi." balas Ruby, dia mendekati wanita tua itu dan memeluknya.


"Aku, merindukanmu, bi." ujar Ruby tulus.


Bibi lili tersenyum dan mengusap tangan Ruby.


"Nyonya, mau makan sekarang,? saya memasak makanan kesukaan anda, nyonya.!"


"Oh, yah. aku mau bi, aku sudah rindu masakan rumah. apa lagi masakan bibi." sorak Ruby dengan tidak sabarnya.


Mereka semua melangkah kedalam ruangan makan. dan kini mereka menikmati makan siang bersama, dengan kehangatan dan canda tawa. jangan lupa juga tingkah posesif si tuan arogan.


"Baby, aku pergi dulu." pamit Boy dan mengecup kening Ruby. hari ini dia ingin melakukan satu hal yang sangat penting dalam hidupnya.


"Mau, kemana.?" tanya Ruby penasaran.


"Ada, sesuatu yang sangat penting." jawab Boy yang sedang fokus dengan ponsel pintarnya.


Ruby menyipitkan matanya dan menatap Boy lekat.


"Ini, urusan pekerjaan, baby." sambung Boy lagi yang melihat raut wajah, penuh tanda tanya sang kekasih.


"Benarkah.!" ujar Ruby dengan nada tegas.

__ADS_1


"Benar, baby."


"Baiklah, aku pergi dulu. bay baby," love you." pamitnya kembali dan mengecup bibir Ruby. tanpa mendengar sautan Ruby, Boy sudah melenggang menuju mobilnya.


"Dia, kenapa,? Aneh." cibir Ruby.


Wanita itupun, masuk kembali ke dalam mansion dan menghampiri sang mommy yang sedang, menikmati siaran TV.


"Ada apa, dengan wajah mu, sayang.?" tanya mommy dengan senyuman. dia merasa lucu dengan wajah cemberut putrinya.


"Paman, mesum itu aneh, mom.!" cebik Ruby dengan bibir yang mengerucut.


"Nak, boy.?" tanya mommy heran.


"Hu'um. dia hari ini pergi tanpa mengajaknya. anehkan mom? biasanya dia tidak bisa jauh-jauh denganku.?" ujar Ruby dengan mendegus kesal.


Ruby lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang, mommy. dan meletakkan tangan mommy di kepalanya.


"Mungkin, nak Boy sedang mengurus pekerjaan, sayang. bukankah selama kau dirumah sakit nak Boy mengabaikan pekerjaannya,? jadi jangan khawatir dia pasti sedang sibuk sekarang." hibur sang mommy, dengan tangan yang membelai rambut Ruby sayang.


Ruby terdiam. dia memejamkan matanya menikmati usapan lembut sang mommy. apa yang di katakan sang mommy benar. mungkin paman mesum sedang bekerja sekarang.


*


*


*


"Bagus, kerjaan kalian memang sangat keren." puji Boy pada anak buahnya. matanya berbinar menatap ballroom hotel yang sudah ia sulap menjadi seindah mungkin. Boy menyulap ballroom itu dengan nuansa putih, bak negeri dongeng.


"Aku, yakin Rubyku pasti menyukai semua ini." gumamnya dengan tersenyum senang.


"Ah, aku sudah tidak sabar menunggu nanti malam." gumamnya lagi dengan wajah cerah.


"Kau, serius ingin melamarnya nanti malam, dude.?" Bram bertanya dari arah belakang dan mengagetkan Boy.


"Ck! kau menghancurkan khayalan indahku bersama, Rubyku." cebik Boy.


Bram hanya menyengir dan menepuk pundak sahabatnya itu.


"Aku, tidak ingin berlama-lama, dekat dengan Ruby tanpa ikat. itu sangat menyiksaku." keluh Boy.


"Why, bukankah kau bisa melakukannya dulu baru, kalian menikah." usul Bram asal.

__ADS_1


"Brengsek!! kau pikir aku pria penjahat kelamin." pekik Boy kesal.


"Yah, daripada kau tersiksa." jawab Bram acuh.


"Sialan, … pergilah. kau mengganggu kesenangan ku saja." usir pria arogan itu.


"Apa, kau sudah melakukannya dengan wanita tembok itu,?" sela Boy dengan mata menyipit.


Bram hanya tersenyum usil dan melenggang pergi. meninggalkan tuan mudanya itu. Boy hanya bisa mengeram marah saat di acuhkan oleh asistennya itu.


"Bram, … sialan!!!! maki Boy.


Sementara di negara lain.


"Kau, mau kemana." seorang pria barubaya bertanya pada seorang gadis cantik dengan rambut blonde itu.


"Aku, ingin mengunjungi kakak, dad." jawab Gaby.


Gadis itu, meminta izin kepada sang Daddy.


Gaby yang sangat merindukan Boy, nekat mendatangi pria pujaan itu.


"Kuliahmu.?" tanya sang Daddy pendek.


"Apakah, aku boleh melanjutkan kuliahku di sana, Daddy.?" Gaby menjawab pertanyaan sang Daddy dengan pertanyaan. gadis itu ingin menjalankan rencananya bersama nyonya Lezi.


"Terserah kau, saja. kau sudah dewasa dan berhak menentukan masa depan mu sendiri." jawab Daddy Boy.


"Terimakasih, dad." seru Gaby bahagia.


"Jadi, kapan kau akan berangkat."


"Mungkin Minggu depan, dad.!" jawab Gaby dengan wajah ceria.


"Hm, baiklah."


Gaby dan nyonya Lezi, saling tersenyum miring. mereka akan menjalankan rencana yang sudah mereka susun dengan rapi.


"Kak, Boy,! tunggu aku." batin Gaby.


Senyum manis dan cerianya tidak pernah hilang di wajah cantiknya. dia sangat bersemangat untuk memisahkan Ruby dan Boy. sudah cukup dia mendapatkan laporan dan juga foto-foto Ruby dan Boy yang sedang bermesraan. hatinya begitu sakit melihat pria yang dicintainya memeluk wanita lain.


"Kak, kau hanya milikku. dan aku tidak akan membiarkan wanita itu, memilikimu." batinnya dan seringai licik pun muncul di wajah cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2