
Ruby, merapikan kembali penampilannya, sekali lagi.
malam ini Ruby, mendapatkan sebuah undangan pesta pernikahan dari salah satu kolega bisnisnya.
malam ini, Ruby mengenakan gaun berwarna hitam yang terlihat, elegan dan sedikit glamor, gaun indah itu memperlihatkan pundak mulus Ruby dan juga kaki jenjangnya, dan penampilan Ruby, di sempurnakan dengan dandanan yang cukup berani, yang terlihat lebih berkelas.
"Perfect," puji Ruby, yang sedang menilai sendiri penampilan, lewat cermin besar di kamarnya.
"waktunya berpesta," serunya dengan semangat.
"ingat, kau harus berhati-hati, disana." suara dingin itu, mengejutkan Ruby dari aktivitas yang sedang bergaya ria di depan cermin.
"ck! Ruby decak, "kau, membuat seleraku hilang, mber.! degus Ruby.
"aku, hanya mengingatkanmu, by.!
"baiklah ... baiklah,! sekarang ayo kita berangkat." ajak Ruby dan mengulurkan tangannya, untuk mengambil tas pesta yang sangat, mewah dan memiliki harga yang wow tentunya.
"kau, yakin akan ke pesta dengan, pakaian ini.? Amber menyengitkan alisnya saat menyadari pakaian yang di kenakan Ruby, yang cukup terbuka.
Ruby hanya mengedikkan bahunya yang polos dan meneruskan langkahnya, keluar dari kamar.
"astaga, aku yakin seratus persen, tuan Boy Raymond Cole, pasti langsung terbang besok kesini." Amber bergumam dan menyusul Ruby.
"mom," panggil Ruby, saat melihat sang mommy berada di ruang santai bersama bibi lili.
sang mommy, menyipitkan pandangannya dan menatap lekat penampilan sang putri, dari atas kebawah.
"sayang, kau cantik sekali." puji sang mommy.
"terimakasih, mom," cup.! balas Ruby dan mengecup pipi sang mommy.
"aku, pergi yah, mom." pamit Ruby.
"kau, mau kemana, sayang," pertanyaan mommy, menghentikan langkah Ruby.
"aku, ada acara di luar, mom." jawab Ruby.
"hm, berhati-hatilah, nak," pesan sang mommy.
Ruby hanya mengangguk dan mengecup kedua pipi sang mommy dan melanjutkan langkahnya, menuju pintu keluar di ikuti, oleh Amber di sampingnya.
*
*
__ADS_1
*
"apa, kau yakin memakai pakaian ini,?" tanya Amber sekali lagi, saat mereka bersiap akan pergi.
"yakin, kenapa? apakah aku terlihat berbeda,?
tanya Ruby antusias.
"ya, kau terlihat berbeda, dan aku yakin, kau juga akan membuat, tuan muda Boy Raymond Cole, mengamuk," oh, Tuhan,! selamat aku dari amukan tuan Boy." monolog Amber dalam hati.
"kau, nyaman dengan penampilanmu ini,! tanya Amber lagi, berharap Ruby akan berubah fikiran dan menganti penampilannya.
tapi, harapan Amber sia-sia saat Ruby mengelekkan, kepalanya.
"sekarang, ayo kita berangkat, kau membuang banyak waktu dengan pertanyaanmu itu," protes Ruby.
dengan berat hati Amber, mengikuti perintah Ruby, dan bersiap untuk melindungi Ruby dari wanita-wanita bergeng dan juga para pria bermata seribu tentunya.
*
*
*
"iya, apa kau meragukan, kemampuanku.?
"aku, tau sudah memilik keberanian sekarang, tapi kau juga harus, jeli dalam menilai orang yang ingin merencanakan sesuat licik kepadamu, apa lagi ini adalah pesta yang pertama kali untukmu." ucap Amber memberi peringatan kepada Ruby agar lebih berhati-hati.
"baiklah,! balas Ruby dan turun dari mobil.
Ruby terus melangkah memasuki hotel itu, dan di sambut beberapa pengawal pribadi koleganya, dan mereka mengantar Ruby dan Amber, memasuki ruangan yang di hiasi begitu mewahnya.
"berhati-hatilah, ada wanita licik itu disini," bisik Amber dan melirik, Rebecca yang sedang berbincang dengan beberapa pria berkelas.
"jangan, khawatir aku bisa mengatasinya." ucap Ruby santai dan mendekati sang, pengantin yang berada di depan.
kini, Ruby menjadi pusat perhatian, semua orang, tak terkecuali Rebecca dan gengnya.
semua mata memandang Ruby kagum, apalagi para lelaki yang tak melepaskan pandangan kagum mereka. Rebecca mengepalkan tangannya saat Ruby menjadi pusat kekaguman semua orang yang ada disini.
"sial! wanita ini harus segera disingkirkan, dia sudah membuat orang kagum padanya, seharusnya hanya aku, yang menjadi primadona disini, bukan bekas wanita cacat, seperti dia." geram Rebecca dalam hati.
"bukankah, dia wanita yang kemarin itu, Beca.? sela teman Rebecca.
"iya, dia wanita yang kemarin, tapi tunggu ..., dia terlihat sangat berbeda, dia terlihat lebih anggun dan berkelas, apa kau tau gaun yang dia pake? itu gaun stoknya terbatas dan harganya juga wow." geng sosialita Rebecca sibuk, menghitung harga yang di pakai Ruby, yang membuat Rebecca tambah meradang.
__ADS_1
"ternyata, dia wanita yang berharga,! seru teman sosialita Rebecca.
"kau, benar, semua yang dia pakai sangat mahal dan bukan ke." sambung teman Rebecca yang lain.
"terus, dia siapa? pertanyaan itu serentak keluar dari mulut mereka, dan pandangan mereka beralih ke Rebecca.
Rebecca tak mengatakan apapun, dia meninggal gengnya, dan mendekati Ruby, Rebecca mengulur tangannya untuk mengambil, minuman yang ditawarkan oleh pelayan, dengan tersenyum licik Rebecca terus berjalan mendekati, Ruby yang sedang berbincang dengan para tamu disana.
"aku, mau lihat seberapa berharganya, dirimu." ucapnya dalam hati dan menyeringai.
Rebecca, terus berjalan kearah Ruby dan saat dia sudah berada dua langkah di dekat Ruby, Amber lebih dulu menghentikan langkahnya.
"byurr," upz ... sorry,! ujar Amber saat minuman yang ada di tangannya membasahi gaun Rebecca.
"akkhh! gaunku ....!! pekik Rebecca heboh, membuat semua orang disana memperhatikan Rebecca, begitu juga Ruby. dia menghela nafas saat Amber memperlihatkan cengirannya.
"kau ...!! geram Rebecca sambil menunjuk wajah Amber yang ada di hadapannya.
"iya, aku kenapa? ujar Amber menantang.
"soal, gaunmu, maaf." ucap Amber dengan wajah sok bersalahnya, di lebih mendekat wajahnya ke Rebecca dan berbisik, "karena, aku sengaja," bisiknya dan tersenyum miring.
dada Rebecca naik turun dengan sangat cepat, dan wajahnya sudah memerah dan pandangannya sudah nyalang menatap Amber.
"maafkan, aku nona! aku ...tidak sengaja, mengotori gaunmu," mohon Amber, dengan wajah polos.
semua tamu, disana mulai berbisik-bisik. membuat amarah Rebecca bertambah.
"maafkan,. saja dia nyonya, bukankah nyonya memiliki harta kekayaan yang di berikan, tuan John? jadi anda bisa membeli lagi gaun seperti itu." sambung salah satu tamu undangan yang sangat mengenal, tuan John.
"benar itu." seru tamu undangan lain.
"kecuali, semua surat ahli waris itu palsu," hahahah." sambung tamu yang lainnya lagi diakhiri tawa mengejek.
semua, tamu undangan Kembali berbisik-bisik.
Rebecca yang tak tahan di jadikan bahan olokan lagi,. segera meninggalkan tempat itu, dengan amarah yang mengelap, Rebecca terus melangkah kakinya keluar dari hotel tersebut.
Amber tersenyum puas saat melihat wajah memerah Rebecca. sedangkan Ruby mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya jengah. sudah sejak tadi Amber, mengawasi gerak-gerik, Rebecca dan menguping pembicaraan geng sosialita Rebecca itu. Amber juga memperhatikan Rebecca, saat dia ingin membuat Ruby malu, dengan mengotori gaun Ruby.
"akkkhhh ....!!!!! teriak Rebecca setelah sampai di basement hotel.
dia memandangi mobil Ruby, tajam dan detik berikutnya senyum mengerikan terlihat di wajahnya yang merah karena amarahnya.
"kau, sudah terlalu berani padaku, Ruby! jadi, mari kita liat apa yang akan terjadi padamu, malam ini," hahahaha." tawa Rebecca, mengelegar di basement hotel tersebut.
__ADS_1