Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 74


__ADS_3

Pria itu terus saja menajamkan pandangannya kearah depan, dimana seorang wanita cantik sedang menikmati makan siangnya, sambil sesekali di selingi oleh obrolan hangat dengan seorang pria dewasa, yang merupakan kliennya.


Boy hanya bisa menatap meja di depannya dengan perasaan gusar dan marah. Rubynya yang sudah mulai berani membaur dengan lawan jenisnya, memberikan senyum indahnya pada pria lain.


"Lihat, pakaiannya." Boy menelisik pakaian Ruby yang memamerkan paha mulusnya dan juga pinggang rampingnya.


"Ingin, sekali aku merobek pakaian jahanam itu,!" geramnya dalam hati.


"Brengsek." makinya dalam hati, saat pria itu terus saja menatap Rubynya.


"Akan, aku congkel matanya,!" geramnya lagi.


Boy meneguk minumannya hingga tanda, dan meletakkan gelasnya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi, yang membuat sebagian pengunjung restauran, mengalihkan pandangannya kepada Boy.


Boy tak peduli dengan bisik-bisik disekitarnya, pandangannya hanya fokus kedepan, yang membuatnya semakin panas.


Boy merebut minuman asistennya yang sudah berada di mulut asistennya itu, Boy seakan buta oleh sekelilingnya, Boy menghabiskan minuman asisten Bram sampai habis dan meletakkannya lagi di meja dengan kasar, rasa panas dalam dirinya membuatnya ingin menghabiskan semua minuman didalam restoran tersebut.


Asisten Bram hanya bisa melonggo dan membuka mulutnya lebar, saat melihat tingkah sang tuan muda arogan itu.

__ADS_1


"Berikan padaku,!" Boy meminta sesuatu kepada asistennya itu.


"Ini tuan." asisten Bram memberikan yang di minta tuanya.


"Siapkan mobil," perintah Boy, dan berdiri dari duduknya, saat dia melihat Rubynya melangkah menuju toilet restauran.


Asisten Bram ikut berdiri dan berjalan keluar untuk menjalankan, tugas yang di berikan sang tuan muda.


Boy berjalan mengikuti Rubynya dari belakang, tanpa sepengetahuan Ruby. Boy mengusir semua wanita yang ada di toilet itu, dan kini dia menunggu Rubynya di balik dinding pintu keluar toilet.


Ruby yang sedang merapikan dandanannya, tanpa ada rasa curiga sedikitpun, dia tersenyum dan kembali merapikan pakaiannya.


"Masa, bodohlah kalau orang menilai penampilanku seperti wanita mengoda, aku hanya ingin terlihat berbeda, supaya orang tak menganggap ku bodoh dan mudah di tindas, jadi Ruby semangatlah untuk berubah," Ruby terus saja bergumam di depan cermin, dia tidak tau sejak tadi Boy menyaksikan tingkahnya itu.


Ruby memberasakan tas mahalnya dan melangkah keluar. tapi saat akan berjalan menuju mejanya, tiba-tiba mulutnya, di bekap dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius. Ruby hanya bisa meronta saat di bekap dari belakang, dan kesadarannya hilang hanya hitungan menit.


Boy, menggendong Rubynya dengan sangat hati-hati, dan membawanya masuk kedalam mobil yang sudah siap mengantarkannya ke tujuan Boy.


"Ke villa." perintah Boy pada sopirnya.

__ADS_1


Sedangkan asistennya masih memberikan, hukuman pada bodyguard Amber.


Mobil mewah itupun, membawa Boy ke arah puncak yang terbilang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Boy tak bosan-bosannya menatap Rubynya yang kini tertidur di pangkuannya. Boy mengusap wajah cantik itu dan mengecup kepala Ruby. Boy pun memeluk erat Ruby, seperti seorang ayah yang memeluk putrinya dan mengecupi pipinya.


"Miss yuo, baby." bisik Boy di depan wajah Ruby dan kembali menciumi wajah cantik Ruby.


"Kali, ini aku takkan meninggalkan mu baby, kau akan terus berada di sisi ku, kemanapun kau atau aku pergi kita akan tetap bersama," aku tidak ingin Rubyku di miliki orang lain, hanya aku yang bisa memilikimu, baby dan kau hanya milikku, …! milik Boy Raymond Cole" cup." bisiknya lagi dan di akhiri kecupan kembali di wajah Ruby.


Di sepanjang jalan Boy asyik menatap dan menciumi wanitanya, yang masih berada di pelukannya, Boy kadang memainkan pipi Ruby dan bahkan mengigit pelan pipi Ruby yang terlihat sedikit chabby.


"Oh, God! kau begitu mengemaskan, baby." ujar Boy sambil menarik kecil hidung mancung Ruby.


Boy meletakkan wajahnya di kepala Ruby yangberada dipeluknya itu dan ikut memejamkan mata. senyumannya tak pernah hilang dari wajah tampannya. Boy merasa nyaman dan damai saat Ruby ada dipeluknya, merasakan kehangatan yang tidak pernah Boy rasakan pada siapapun, termaksud keluarganya sendiri.


"Love yuo, baby." bisik Boy dan mengecup bibir Ruby yang masih tertidur.


"Oh, baby! aku sangat merindukan vitaminku ini." gumam Boy di atas bibir Ruby dan kembali mengecupnya, bahkan melumutnya pelan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ke villanya, Boy terus saat melumut dan menyesap vitaminnya itu. Boy menyesapnya penuh hati-hati seakan-akan bibir Ruby terbuat dari berlian berharga, dia tak bosan-bosannya mencumbui bibir Ruby, hingga bibir wanita itu membengkak.


Boy tersenyum puas atas hasil karyanya di bibir Ruby.


__ADS_2