
Masih terlihat ketegangan di dalam mobil, Bugatti Veyron warna hitam mengkilat yang terparkir mewah di parkiran bandara. Bram memarkirkan mobilnya di area parkiran khusus dan tersembunyi.
Gaby Masih, terisak pilu atas apa yang ia dengar barusan. Ia tidak bisa membayangkan tidak akan pernah bertemu dengan Boy lagi.
Yang paling membuatnya merasa sesak adalah, ternyata Boy sudah mengetahui semua rahasianya bersama nyonya Lezi.
"Kumohon, bertemu kan aku dengan, kakak." Mohon gadis itu, yang kini suaranya berubah serak.
"Aku mohon." Lirihnya.
"Ck, kau tidak akan pernah lagi bertemu dengan, Boy. Dan nikmatlah kehidupan barumu bersama ibu kandung mu disana." Ujar Bram dan membuka kunci mobilnya dengan sidik jari Amber.
Bram turun dan di ikuti Amber saat melihat beberapa pria dengan pakaian serba hitam, mendekat padanya. Mereka semua membungkuk hormat, saat berada di depan, Bram
"Tuan." Sapa mereka.
"Hm." Bram hanya membalas sapaan mereka dengan bergumam.
"Apa, semuanya sudah, siap.?"
"Sudah, tuan."
"Hm, bawa dia." Perintah Bram dan mengedikkan kepalanya kearah mobil. Memberikan kode kepada para pria tinggi besar itu untuk membawa Gaby.
"Buat dia tetidur." Perintah Bram.
"Baik, tuan."
Merekapun mendekati mobil mewah, Bram dan akan membaw Gaby pergi jauh dari kota ini dan juga kota di mana ia besar. Gaby akan tinggal bersama ibu kandungnya, yang masih hidup dan masih bekerja sebagai pemuas na* su para lelaki kesepian.
Sedangkan, Gaby mulai gusar dan gelisa saat gadis itu melihat Bram dan Amber turun dari mobil dan menemui beberapa orang pria yang bertubuh besar-besar.
Gaby mencoba membuka pintu mobil Bram, tapi sial pintu mobil itu terkunci. Gaby hanya bisa meremas tangannya sendiri yang sudah berkeringat dingin.
__ADS_1
"Kakak." Cicit gadis itu sendu.
"Kakak, aku tidak ingin jauh darimu kak."
"Aku sangat mencintaimu, kak."
"Tapi, kakak tega melakukan ini padaku."
"Kakak tega."
Gumam gadis itu pasrah. Dia hanya bisa pasrah atas apa yang akan dia terima setelah ini.
Gaby terloncat kaget saat, sesekali membuka pintu mobil, dan membekap mulutnya. Tidak butuh lama kesadarannya sudah hilang.
Iapun di gendong oleh salah satu dari anak buah Bram dan membawa gadis itu kearah landasan khusus. Bram hanya tersenyum miring melihat kepergian jaalang kecil pengganggu.
"Semoga kau bahagia, jaaalang kecil." Batin pria itu.
Yang ada dalam benak Amber adalah, orang-orang yang menghadap Bram dan memberi hormat, bagaikan seorang prajurit memberikan penghormatan kepada raja mereka.
Amber masih menatap punggung kokoh para anak buah Bram, hingga mereka menghilang.
"Apakah, punggung mereka begitu menggoda, sayang? Sehingga pandangan mu tidak berpaling dari mereka." Sentak, Bram mengejutkan wanitanya.
"Mereka, mau kemana.?" Amber menjawab pertanyaan kekasihnya dengan pertanyaan pula.
"Ck." Bram hanya berdecak kesal.
"Ayo," ajak pria tampan itu, dan segera mengapai telapak tangan wanitanya dan membawanya kedalam mobil.
"Kita mau kemana, dear." Tanya Amber, saat tidak mengenali arah yang membawa mereka pergi.
"Kesesuatu tempat." Sahut pria itu dan mengecup telapak tangan wanitanya yang sejak tadi berada di genggamannya.
__ADS_1
" Ck, menyebalkan." Lirih wanita itu.
Bram hanya terkekeh dan mengusap rambut Amber sayang.
"Dear." Seru Amber dan menoleh kearah Bram.
"Hm." Jawab pria itu yang fokus kedepan.
"Apa kau, mengenal orang-orang tadi.?" Amber menegangkan punggungnya dan berubah posisi tubuhnya menghadap kesamping.
Bram hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan wanitanya.
"Dear.!"
"Katakan. Apa kau mengenal mereka.?"
"Hu'um. Mereka anak buah Boy."
"Benarkah,"
"Hu'um."
"Wow, tuan Boy, keren. Memiliki anak buah yang sangat hebat. Mereka kan para bodyguard khusus kerjaan, kan, dear."
"Hm, i-ya." Sahut Bram gugup.
"Maafkan aku, sayang."
oh, iya BESTie. mungkin tinggal beberapa bab lagi novel ini akan tamat. saya mau lanjut kisah Amber dan Bram di buku baru.
maaf kalau telat update-nya☺️☺️🙏🙏
dan terimakasih sudah mampir di karya recah saya😁😁☺️☺️
__ADS_1