
" Hai, ... Amber.!" seorang gadis cantik, dengan penampilan seksi menyapa Amber yang sedang merapikan penampilannya, di depan cermin wastafel.
Amber, menoleh ke samping dan diapun tersenyum, saat melihat wanita yang menyapanya tadi.
"hai, ... Cindy.!" balas Amber ramah.
Cindy mendekat kearah Amber, wanita itu ikut merapikan penampilannya di cermin wastafel yang memiliki ukuran memanjang, bisa di pakai untuk tiga atau empat orang.
Cindy, menatap Amber dari cermin dan wanita itu tersenyum sinis, saat melihat tanda merah di leher Amber.
"kau, terlihat berbeda malam ini,?" tanya Cindy, dengan wajah mencemoh.
"hm, hari ini pernikahan Ruby, jadi aku harus tampil berbeda bukan,? tidak mungkinkan aku harus memakai pakai tidak layak hari ini." jawab Amber santai.
"wow, ternyata kau seorang bodyguard yang sangat lancang, menyebutkan nama untuk majikan mu sendiri. apa kau lupa? kalau kau hanya pelayan nyonya, Ruby Pattinson. jadi aku pikir kau tidak pantas menyebutkan namanya dan aku lihat kau terlalu bertingkah, karena nyonya Ruby menganggapmu sahabat." sinisnya dengan raut wajah iri.
Amber menatap pantulan, Cindy lewat cermin dan Amber hanya tersenyum samar melihat kesinisan wanita yang tiga langkah darinya itu.
"Cih, penampilan mu sangat buruk. kau seperti wanita penggoda." cibir wanita itu lagi dengan tatapan mendelik kepada Amber.
Amber hanya terdiam, mendengarkan hina Cindy. wanita itu memang selalu bersikap sinis padanya, dan juga selalu iri pada kedekatan Ruby dan Amber.
"seharusnya, aku yang dekat dengan nyonya, Ruby. bukannya wanita robot ini." batin Cindy penuh dengan kedengkian.
"Aku, baru tau ternyata kau hanya wanita murahan, yang berusaha menggoda para pria kaya disini. lihatlah lehermu, terdapat banyak tanda merah. apa selain menjadi bodyguard, kau juga berprofesi sebagai jaalang, ... Amber.?" ejek Cindy, yang penuh nada hinaan dan cemoohan.
Amber, diam mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut Cindy. yang memang selalu dia ucapkan apabila mereka bertemu.
Amber membalikkan badannya, kearah wanita dengan penampilan yang tidak kalah seksinya dari Amber, Amber menyadarkan paha-nya pada dinding wastafel dan melipat kedua tangannya di dada. Amber menelisik penampilan Cindy, dari atas turun kebawah. Amber pun mendesis dan menyorot Cindy dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Amber berjalan mendekati Cindy yang juga menatapnya tajam, meskipun ada ketakutan di dalam hatinya tapi sekuat tenaga wanita itu melawan rasa takutnya. kini mereka saling berhadapan tanpa jarak. Cindy mendongakkan sedikit leher jenjang mulusnya untuk menatap manik coklat Amber.
Dengan, tersenyum miring Amber, mengelilingi tubuh Cindy sambil berdecih dan menyoroti penampilan Cindy.
"Apa, cermin depanmu tidak bisa kau lihat, Cindy,?" bisik Amber di dekat telinga Cindy. membuat tubuh Cindy tiba-tiba membeku.
"Coba, lihat.!" Amber memegang bahu Cindy dan membalikkan tubuh wanita itu kearah cermin.
"Lihatlah," perintah Amber.
Cindy menuruti perintah Amber, untuk menatap cermin dengan ukuran besar itu, dengan dahi mengerut binggung.
"why." jawabnya dengan tatapan binggung.
Amber berdiri di belakang Cindy dan mendekatkan mulutnya di dekat telinga sekestaris Ruby itu.
"Apa, kau tidak lihat. penampilan mu, lebih dari seorang jaalang." bisik Amber dan menyeringai.
Dada, Cindy yang dihiasi gumpalan tinggi nan besar itu, terlihat naik turun karena emosi mendengar ejekan dan hinaan Amber.
Cindy membalikkan badannya secara tiba-tiba dan mengangkat tangannya untuk memberi Amber pelajaran.
Cindy mengayunkan tangannya kearah pipi kanan Amber, bermaksud menampar wajah wanita yang sudah berani menghinanya itu. tapi sayang tangan wanita itu harus terhenti di udara, saat Amber dengan gesit menahan pergelangan tangan Cindy dan memelintirnya kebelakang tubuh sintal Cindy.
"Lepaskan, wanita sialan." ringis Cindy, saat dirasa pelintiran Amber begitu sangat kencang dan kuat, membuat telapak tangannya terasa remuk.
"Jangan, coba-coba memancing amarahku, jaalang. kau tau aku sangat suka bermain-main dengan benda seperti ini," Amber mengambil sebuah benda tajam di balik gaunnya dan meletakkannya di wajah dan turun ke leher Cindy.
wanita malang itu, hanya bisa tertekun dengan tubuh mulai mengigil m, saat benda tajam yang di pegang Amber berada di lehernya.
__ADS_1
"L- lepaskan, aku Amber, ... s-sakit.!" lirih Cindy, kesakitan saat kedua tangannya di cekal Amber di belakang tubuhnya. dan benda tajam itu sudah mengores sedikit leher jenjang Cindy.
"S-sakit, ... Amber." desis Cindy, merasakan kulit lehernya teras perih dan dia melihat cairan merah keluar dari leher mulusnya.
"A-Amber, lepaskan aku,!" mohonnya lagi, dengan nada suara ketakutan. bagaimana tidak kini benda yang ada di tangan Amber sudah menari-nari di area bibirnya.
Amber tersenyum mengerikan di belakang tubuh Cindy, itu terlihat saat wanita seksi itu menatap pantulan mereka di cermin.
"Apa, kau tau Cindy," sambil berbisik kembali di telinga Cindy, dan wanita itu hanya menggelengkan pelan dengan wajah pucat dan air mata yang membasuh wajah ketakutannya.
Amber terkekeh dan kembali mendekatkan bibirnya di telinga Cindy. " Maukah, kau menemaniku bersenang-senang malam ini,? aku begitu merindukan, mengukir tubuh seseorang dengan benda kesayangan ku ini. jadi katakan, apa kau mau aku menggukir tubuhmu,? kalau kau mau aku akan memulainya dari wajah yang selalu kau bangga ini." bisikan mengerikan dan benda yang sudah menari-nari di sekitar wajahnya, membuat tubuhnya lemas dan seketika meluruh kelantai bersamaan kesadarannya menghilang.
"Cih," lemah." decih Amber, sambil menyimpan kembali benda kesayangannya di balik paha mulus nan jenjang miliknya.
"Baru, pemanasan begitu saja dia langsung, pingsan, dasar wanita sok berani dan sombong." sungut Amber.
"Aku kan, belum puas bermain-main dengannya. baru juga luka goresan sedikit di leher," cih, keberaniannya sangat buruk sekali." sungutnya lagi.
Dengan wajah kesal, Amber meninggalkan Cindy di dalam toilet. tidak lupa Amber juga menguncikan Cindy didalam sana dan membuang jauh-jauh kunci toilet itu.
"Biarlah, dia melatih keberaniannya di dalam sana." gumamnya dan melangkah menjauh dari toilet yang sudah ia pasangin poster dengan tulisan, "TOILET RUSAK."
Wajah Amber terlihat puas, diapun berjalan meninggalkan area toilet itu dan kembali ketempat di mana pria-nya menunggu lama.
"Maaf, dear membuatmu lama menunggu." dengan senyum cantik, Amber mendekati Bram yang sedang berdiri di body mobil mewahnya, dengan gaya cool.
Bram hanya membalas senyum Amber dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang kekasih.
Dengan segera Amber masuk kedalam pelukan Bram dan menghirup Aroma maskulin bercampur aroma rokok pria-nya.
__ADS_1
"Kita, pulang sekarang.!" bisik Bram dan membukakan pintu mobil untuk Amber, membantunya masuk kedalam, tidak lupa memasangkan seat belt dan diakhiri kecupan di bibir Amber.
Amber hanya tersenyum senang, wanita itu seakan lupa akan kejadian di dalam toilet tadi dan melupakan wanita yang sedang terkapar di lantai toilet yang begitu dingin.