
"Tok, tok, tok."
"Clek."
"Hm, aku ingin bertemu dengan, kakak, Boy." Gaby yang begitu gusar sejak tadi di kamarnya memikirkan, Boy dan Ruby yang seharian di dalam kamar. dengan memberanikan diri, Gaby ingin menemui sang kakak. dan di sinilah dia sekarang di depan kamar Ruby dan Boy.
Ruby menyengitkan alisnya keatas dan menyoroti lekat wajah Gaby, yang terlihat salah tingkah. Gaby menelisik penampilan Ruby yang hanya memakai gaun tidur tipis yang terbuat dari kain satin dan di lapisi kimono tidurnya yang berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih Ruby.
Gaby, menajamkan maniknya saat melihat leher Ruby yang terdapat banyak tanda merah. sebagai remaja yang bergaul dengan bebas pasti Gaby tau tanda yang berada di leher Ruby.
Dada Gaby tiba-tiba, bergemuruh dan dia menatap Ruby tajam, penuh permusuhan.
"Dasar, wanita murahan." maki Gaby dalam hati dengan perasaan tidak suka.
"Aku, ingin ketemu kakakku." ujar Gaby ketus.
Ruby menatap heran gadis di depannya dan dia merasa ada niat tidak baik yang akan di bawah gadis ini.
"Suamiku masih tidur." jawab Ruby santai dan menekan kata suami, agar gadis di depannya ini mengerti kalau kakaknya sudah memilik privasi sendiri.
__ADS_1
"Tapi, aku ingin bertemu dengan kakak. jadi menyingkirlah." balas Gaby sengit dan berusaha menyingkirkan Ruby yang menghalanginya.
Ruby, menyentakkan tubuh Gaby kasar, hingga tubuh Gaby terdorong kebelakang.
"Ingatlah, batasan mu. kau tidak boleh menerobos ke kamar seseorang tanpa izin, meskipun itu kamar kakak mu. apalagi kakakmu Boy sudah memiliki istri, jadi dia sekarang adalah milik istrinya dan bukan milik kau lagi. dan kau tidak usah repot-repot mengurusi suamiku, karena aku masih bisa mengurusi suamiku sendiri. dan bisa memberikan kepuasan buat suamiku. ingat kau cuma seorang adik. tapi tunggu, kenapa kau begitu posesif kepada suamiku? bukankah kau adalah adiknya, seharusnya kau tidak usah repot-repot membangunkan kakak bukan, atau kau bukan adik Boy.?" perkataan dan pertanyaan Ruby membuat Gaby tersendat kaget dan ia bergeming di tempatnya.
"Apa, aku benar adik, Boy? atau kau hanya adik palsu Boy.?" pertanyaan itu membuat Gaby mulai memucat.
"Ada apa dengan wajahmu.?" tanya Ruby menelisik wajah Gaby yang berubah pucat.
"A-ku, adik kakak, Boy dari ibu sambung kakak." jawab Gaby gugup.
"Benarkah.?" tanya Ruby lagi, yang merasa ada yang tidak beres dengan gadis ini.
"Kenapa, kau gugup begitu.?"
"Tidak, apa-apa. aku hanya merindukan, kakak." jawab Gaby sekenanya.
"Merindukan.?" tanya Ruby membeo.
__ADS_1
"Kenapa, kau merindukan suamiku.?" tanya Ruby dengan raut heran.
"Aku, hanya merindukan kebiasaan kakak, kalau dia baru bangun tidur." jawab Gaby, dengan senyum sinis.
"Kebiasaan apa.?" tanya Ruby, lagi sambil menatap wajah Gaby.
"Kakak, kalau pagi hari dia akan memasuki kamarku dan membangunkanku dengan penuh sayang. dia akan mengecup keningku dan memeluk tubuhku. kadang kami tidur bersama." jawab Gaby, dengan tersenyum puas dalam hati, karena dia bisa membuat Ruby cemburu dan itu akan membuat Boy dan Ruby bertengkar nantinya.
"Begitukah.?" balas Ruby santai.
Gaby hanya mengangguk heran akan raut wajah santai Ruby.
"Kalau, begitu, tunggu suamiku bangun. karena dia begitu kelelahan sehabis membuatku mwnyerit di atas kasur. jadi pergilah, karena aku ingin melanjutkan bercintaan kami." cibir Ruby dan dia juga mengusir gadis itu.
"Sana, pergilah. atau kau mau mendengarkan suara percintaan kami.?" seru Ruby.
Dengan perasaan kesal Gaby meninggalkan area kamar Ruby.
"Dasar, wanita jaalang." makinya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
__ADS_1
Ruby menutup pintu kamarnya dan memikirkan semua ucapan Gaby tadi.
"Apa dia ingin menjadi pelakor.?"