
Perusahaan Pattinson group.
Masih, terlihat jelas ketegangan di ballroom perusahaan Pattinson, antara Ruby, Alex dan Rebecca. jangan lupa, Boy dan bawahnya yang masih mengawasi gerak-gerik Alex dan Rebecca.
Ruby, masih dengan gayanya yang terlihat tenang, namun tidak dengan,Alex dan Rebecca yang terus menahan amarahnya setiap ucapan bernada hinaan dan sindiran yang keluar dari mulut Ruby.
Tiga pasang mata itu, kini saling menatap tajam.
Ruby masih menatap dua manusia kejam di depannya secara bergantian, sesekali sudut bibir Ruby terangkat sebelah, mencibir dua manusia sampah di depannya.
"Pergilah! usir Alex kepada Ruby.
"Hahahah! Ruby tertawa, mendengar ucap Alex.
"Kau, mengusirku? ucap Ruby, dengan jari telunjuknya mengarah ke wajahnya.
"Apa, aku tidak salah dengar? kau mengusir, pewaris tahta perusahaan Pattinson? "Hahaha."
Ruby kembali tertawa renyah, dia tidak habis pikir di mana letak urut malu dua manusia busuk di depannya.
"Aku, tidak akan pergi! Karena ini adalah milikku, dan aku datang untuk mengambilnya dan menghancurkan kalian." tantang Ruby
"Dasar, wanita sialan!!! maki Rebecca dan ingin melayangkan kembali tangannya di wajah Ruby, tapi dengan sigap Ruby menahan tangan Rebecca dan menampar balik wajah cantik itu.
"Plak."
"Plak." dua tamparan Ruby berikan di wajah mulus Rebecca, dengan sangat keras yang membuat Rebecca meringis dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Seharusnya, aku melakukannya ini sejak dulu, dan seharusnya sekarang aku memberikan pelajaran yang lebih dari tamparan ini," gumam Ruby di depan wajah Rebecca dan mencengkeram wajahnya.
"Ahkkk!! sakit wanita sialan." pekik Rebecca saat Ruby menarik rambutnya dan menariknya kebelakang, sehingga wajah Rebecca mendongak keatas.
"Jangan, coba-coba untuk memakiku ataupun berbuat kasar padaku, kau hanya benalu yang tak tau berterimakasih kepada keluargaku, yang sudah memberimu, kenyamanan! seharusnya aku, tak membantumu saat ibumu menjual dirimu, dan aku yakin kau akan menjadi j*l*ng terkenal." bisik Ruby di telingan Rebecca dan menarik lebih keras rambut Rebecca.
"Sakiiitt! cicit Rebecca, yang memicingkan matanya kearah Alex, untuk meminta tolong.
Ruby, menghempaskan Rebecca kedepan dengan kasar, membuat kening Rebecca membentur lantai.
"ternyata, Rubyku sadis juga." gumam boy
Rebecca mendongakkan kepalanya, melihat Ruby yang tersenyum mengejeknya, dengan rasa marah akibat, tak terima di perlakukan kasar dengan, wanita yang dulu sering dia bodohi, dengan nafas yang memburu Rebecca bangkit dan ingin menyerang Ruby, tapi sayang pergerakannya mudah di baca oleh Ruby, Ruby pun kembali menghempaskan, Rebecca dengan tendangannya yang mampu membuat Rebecca terhempas jauh.
"Ahhkkk." Rebecca berteriak saat perutnya terasa sakit.
__ADS_1
Alex, hanya mampu tercengang dan membeku, saat menyaksikan pelakuan Ruby kepada Rebecca. dia tak manyangka atas perubahan Ruby, yang dulu mudah ia bodohi dan manfaatkan, sekarang berubah sangat menakutkan. Alex terhenyak saat mendengar teriakkan kesakitan Rebecca dan matanya membulat saat, melihat darah kelauar dari atas paha Rebecca. Alex, pun mendekati istrinya dan begitu gugup saat darah mengalir terus dari paha istrinya.
"Jastinnnn!!! teriaknya memanggil sang asisten yang berada jauh darinya. asisten Alex pun dengan cepat mendekati atasannya.
"Bawa, dia kerumah sakit.! perintah Alex, dan asisten Alex pun mengangkat tubuh lemah Rebecca dan membawanya keluar sari ballroom itu. Alex menoleh kebelakang dan menatap nyalang Ruby. Alex pun mendekati dengan perasaan marah.
Sedangkan Ruby, membeku saat melihat begitu banyak darah yang keluar dari paha Rebecca, tapi Ruby mencoba menjauhkan rasa bersalahnya, karena dia pikir Rebecca pantas mendapatkannya.
"Aku, tidak akan memaafkanmu, Ruby Pattinson …!! geram Alex. sedangkan Ruby hanya bersikap santai dan menatap Alex datar
"Kalau, sampai aku kehilangan kembali calon anakku, aku bersumpah akan melenyapkanmu dari dunia ini, dan akan aku pastikan nyawamu hilang, dan aku akan merayakan kematianmu." geram Alex dengan amarah yang menggebu.
"Cih! apa kau yakin, dia anakmu? bukankah kau tau sendiri gimana sifat istrimu itu! "murahan." ujar Ruby dengan tersenyum sinis.
"KAU ….!!! erang Alex dengan rahang mengeras dan tangannya mengepal.
"Oh, ayolah Lex! coba kau pikir bukankah ini semau adalah karma buat mu? karena menghabisi nyawa orang-orang yang tak bersalah, jadi kau memang pantas kehilangan orang-orang yang kau sayangi dan juga harus kehilangan calon anakmu!" ucap Ruby tercekat saat dia harus kehilangan bayinya, karena ulah pria di depannya ini.
"Apa, kau pernah memiliki rasa bersalah? karena perbuatanmu, aku harus kehilangan calon bayiku, KARENAMU ALEX GRAHAM ….!!! Raung Ruby dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Deg"
Alex, membeku mendengar ucapan Ruby. Ya karena kesalahannya dia harus kehilangan calon bayinya dulu, karena obsesinya dengan harta warisan Alex rela menghabisi nyawa orang tua Ruby, tapi satu hal yang tak di ketahui Alex, kalau Ruby sedang hamil saat itu. Alex membuang rasa bersalahnya itu dia tetap mengikuti egonya kalau semau adalah kesalahan Ruby.
"Kali, ini aku takkan memaafkan mu, kalau aku harus kehilangan calon bayiku lagi." ancam Alex
"Aku, tidak perlu meminta maaf padamu, yang aku mau mengambil kembali milikku, Alex Graham!"
ujar Ruby.
Alis Alex mengerut dan menatap Ruby sambil tersenyum sinis.
"Milikmu! yang mana? bukankah sudah kau serahkan semuanya kepadaku, Ruby sayang.!" ujar Alex dan ingin membelai wajah cantik Ruby, tapi niatnya itu di halangi oleh, Amber yang sejak tadi berdiri di samping Ruby.
"Cih! Alex berdecih.
Tapi semua perkataan Alex itu, mampu mengundang amarah seorang Boy Raymond Cole, yang sejak tadi menyimak perdebatan Ruby dan Alex dengan gusar, kadang kala dia tersenyum dan kadang juga dia mengumpat. Boy, tak terima saat Alex memanggil Rubynya sayang dan ingin memegang wajah berharga Ruby.
"Brengsek." umpatnya.
"Berani-beraninya, dia memanggil Rubyku sayang dan ingin membelai wajah berharga Rubyku, yang sudah menjadi milikku." Brengsek, ini tidak boleh di diamkan." erang Boy, sambil mendekati Ruby.
"Tentu, saja semuanya masih milikku, Alex Graham,! jawab Ruby.
__ADS_1
"Tapi, sayang semua sudah menjadi milikku sekarang." ujar Alex dengan bangga.
"Ck! dengan cara menghilangkan nyawa, orang-orang yang tak bersalah! termaksud keluarga paman Carlos." sindir Ruby, yang membuat Alex mati kutu.
"KAU …! dasar wanita sialan.!! amuk Alex, dan ingin menjambak rambut Ruby, tapi suara mengelegar menghentikan gerakannya.
"JANGAN SENTUH RUBYKU," teriak Boy, marah sambil mendekat kearah Ruby dan Alex.
"Tuan, Boy Raymond Cole." gumam Alex, dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Rubyku? gumamnya lagi dan menatap Ruby sinis.
"Jangan, pernah menyentuh Rubyku ataupun menyakitinya, karena kau akan berhadapan denganku." ancam Boy.
"Hehehe! tapi dia istriku tuan, Boy Raymond, kalau anda mau tau dan anda tidak berhak ikut campur urusan kami." ujarnya yang kembali ingin memegang tangan Ruby dan membawanya pergi dari ballroom tersebut.
"jangan menyentuhnya, brengsek! sentak Boy dan menarik Ruby kebelakang tubuh kekarnya.
"tapi, dia istriku, tuan Boy Raymond Cole ....!!! geram Alex, yang tak terima Boy menghalangi dirinya untuk membawa Ruby.
"istri! cih," dalam mimpimu." sinis Boy.
"Bramm!!! panggilannya.
asisten Bram, melangkah mendekati tuannya, dengan map berisi berkas berwarna coklat di tangannya.
Boy, mengambil map berkas tersebut dan memberikannya kepada Alex, yang terlihat binggung.
Alex mengerang dan meremas berkas tersebut setelah membaca isinya yang berupa berkas perceraiannya dengan Ruby. Alex menatap Boy tajam.
"jadi, kau menipuku tuan, Boy? hehe, aku tak menyangka anda licik juga dan menyukai wanita bekas buangan orang, hahahah." Alex tertawa renyah dan berkata penuh hinaan kepada Ruby.
"tutup mulutmu brengsek! "bugh." satu bogem mentah mendarat di wajah tampan boy. sedangkan Ruby hanya terdiam menyaksikan Boy memberi bogem mentah kepada Alex.
"cih! jadi anda sangat tertarik kepada wanita ini? Alex, memegang sudut bibirnya yang terluka sambil bertanya kepada Boy.
"ya, aku sangat menginginkan dia, menjadi milikku, dan Rubyku tidak pantas bersama pria sampah sepertimu,! dan aku berterimakasih kepadamu, karena sudah membuang istri secantik Rubyku kepadaku," iyakan baby, cup."
ujar Boy dan mengecup bibir Ruby di depan Alex dan membawa Rubynya dalam pelukan hangatnya.
Alex yang melihat sikap manis Boy kepada Ruby dan mengatakan Ruby adalah miliknya, merasa tidak terima, hatinya begitu terbakar dengan rahang yang sudah mengeras dan tangannya sudah mengepal, menatap pasanga di depannya dengan tajam.
sedangkan Ruby hanya terdiam di pelukan, Boy
__ADS_1
dia melirik kearah Alex dan menyerigai.
Amber dan Bram yang sejak tadi menyimak ketegangan di ballroom tersebut.