
Sementara, di belahan dunia lain.
"apa, yang sedang Rubyku lakukan, Bram.! Boy menanyakan kabar Rubynya, yang sudah beberapa hari in tak melihat wajah mengemaskan Rubynya.
asisten Bram memberikan iPad yang berisikan foto-foto, Ruby saat bersenang-senang di sebuah mall di negara K yang di kirimkan Amber.
Boy yang melihat tingkah mengemaskan Rubynya, tersenyum dan mengusap foto Ruby yang sedang bergaya bak foto model.
"lihatlah, dia begitu mengemaskan, dia seperti anak remaja sekolah," ujar Boy tersenyum.
" tapi, bukankah kalau, Rubyku berpenampilan seperti ini, akan banyak mata buaya darat yang menikmati kecantikan Rubyku, ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana kalau Rubyku di goda pria lain."
"brengsek." Boy menghempaskan iPad yang ada di tangannya, saat melihat seorang pria muda mendekati Rubynya.
"sial, ini tidak bisa di biarkan, akkhhh." Boy mengamuk dan membanting semua barang-barang di atas mejanya.
sedangkan asisten Bram, hanya menatap nanar Ipad-nya yang baru di belinya.
"kita, kembali ke negara K, sekarang." perintah Boy.
"tapi, tuan pekerjaan anda belum selesai," ujar asisten Bram mengingat.
Boy hanya bisa mengeram frustasi.
"akhhh!! sial, ini semua gara-gara si,tua bangka
menyusahkan itu," geram Boy.
__ADS_1
"tuan, dia ayah anda."
"cih." Boy hanya berdecih dan memijit pelipisnya.
Boy yang sekarang berada di negara sang Daddy. karena penyakit yang di derita sang Daddy, Boy terpaksa mengambil alih semua urusan perusahaan daddy-nya itu. dan di sinilah dia sekarang, mengerjakan pekerjaan sang Daddy sambil bergerutu kesal.
"sabar, tuan." hibur asisten Bram, yang sedang berjongkok mengambil Ipad-nya.
"seperti, aku yang bersabar menghadapi anda,dan bersabar karena iPad baruku menjadi korban." jerit asisten Bram, dalam hati dan menatap sendu iPad yang baru di belinya.
Boy tak menyahut, dia kembali mengerjakan pekerjaannya, agar cepat selesai dan dia akan kembali kepada Ruby.
tiba-tiba, ruangan Boy terbuka tanpa di ketuk, yang mengalihkan pandangan Boy dan asistennya yang sedang membahas sesuatu.
seorang gadis remaja cantik dan imut memasuki ruangan Boy tanpa mengetuk terlebih dahulu, dia segera berlari kecil untuk mendekati, Boy yang sedang berada di sofa.
"kakak ....!!! pekik remaja itu girang. dan lansung meloncat di pangkuan Boy.
"kakak ...,! aku merindukanmu." ucap remaja itu yang memanggil Boy kakak.
asisten Bram, yang melihat tingkah remaja itu hanya memutar bola matanya malas.
"kakak, juga merindukanmu, Gaby." ujar Boy, dengan tangannya mengusap rambut adiknya sayang.
"apa, kakak akan menetap disini,? dengan mata berbinar dan wajah penuh harap, Gaby menunggu jawaban Boy.
"tidak, girl, kakak hanya sebentar disini, mengantikan Daddy, setelah Daddy sembuh kakak akan kembali lagi ke negara K. jawaban Boy membuat wajah cerah Gaby, berubah muram.
__ADS_1
"hey, ada apa dengan wajah adik, kakak yang imut ini," Boy mencubit gemas pipi sang adik yang masih duduk di pangkuan Boy.
asisten Bram, yang sejak tadi menyaksikan drama adik kakak itu hanya berdecak malas.
sedangkan Gaby, tersenyum sinis kepada Bram yang masih asyik memeluk tubuh kekar Boy.
"kenapa, kakak tidak tinggal bersama kami disin.? ujar Gaby, dengan menampilkan wajah sedihnya.
boy membelai wajah sang adik dan memberikan kecupan manis di dahinya.
"kakak, tidak bisa girl, pekerjaan kakak juga banyak disana." tolak Boy lembut.
"padahal, aku berharap kakak mengecup bibirku," batinnya kecewa, saat Boy hanya mengecup keningnya.
"katakan, kau dari mana dengan penampilan seperti ini," tanya Boy, saat baru menyadari penampilan adiknya yang cukup terbuka.
"aku, melakukan ini hanya untukmu, kakak." jerit Gaby dalam hati.
"apa, yang anda harapkan dari , tuan Boy, nona muda.? gumam asisten Bram dalam hati.
"hey ....! seru Boy, menyadarkan adiknya dari lamunan indah.
"oh, kapan semuanya akan terjadi." ucap Gaby dalam hati.
"aku, hanya ingin memakainya saja, kak." jawab Gaby dengan senyum terpaksa dan kembali, memeluk dan menghirup aroma maskulin Boy yang membuatnya menggila.
"aku, bersumpah kau akan menjadi milikku, kak." gumamnya dalam hati dan menyeringai.
__ADS_1
Boy, mengusap-usap punggung sang adik yang begitu dia sayangi, tanpa merasa curiga sedikitpun karena rasa sayangnya kepada adiknya ini. sedangkan asisten Bram memicingkan matanya, saat melihat seringai licik di bibir nona Gaby.
"aku, tidak akan membiarkan rencana anda berhasil, nona." monolog asisten Bram dalam hati.