Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 85


__ADS_3

"Sayang," Bram menyekal tangan kekasihnya saat ia, melihat Amber yang kembali dingin padanya.


"Amber, sayang," panggilannya lagi, saat wanita itu hanya terdiam. tak mengatakan apapun.


"Apa, kau marah padaku, … hm,!" tanya Bram lagi dan membawa wanitanya kearah balkon kamar.


Amber yang ditanya pun masih terdiam. Mulutnya seakan terkunci. hatinya sejak tadi berteriak ingin mengatakan kalau dia tidak marah.


"Sayang, maaf … maaf, aku mengaku salah dan aku berjanji tidak akan menyentuhmu lagi. tapi please, jangan diami aku seperti ini. kau membuatku tersiksa sayang. please sayang maafkan, aku." Bram memohon kepada kekasihnya itu dengan wajah dan tatapan sendu.


Amber yang merasa terlalu keras pun, merasa tersentuh dengan tatapan dan wajah sedih sang kekasih. perempuan itupun lantas memeluk Bram erat dan melompat ke atas gendongan Bram, mengecup bibir prianya dan menangkup wajah tampan kekasihnya itu dan mengecupinya.


"Maaf, dear. aku hanya terkejut," ujar Amber dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bram. menghirup dalam-dalam aroma maskulin prianya, yang mampu membuat dirinya merasa tenang.


Bram memeluk erat pinggang, wanitanya itu dan mendudukkan Amber di pagar balkon.


"Apa, kau tidak marah lagi padaku, sayang." senyum cerah itupun terbit di wajah tampan Bram.


Mata abu-abu Bram menatap dalam, netra coklat terang Amber.


"Love yuo, sayang." ungkap Bram, dengan tatapan tulus.


"Please, jangan pernah mendiamiku dan menghindari ku, itu sangat menyakiti ku, sayang."


"Ingin, rasanya aku menghajar diriku sendiri, karena membuatmu menangis dan ketakutan. kau boleh menghajarku, kalau kau mau, sayang."

__ADS_1


ujar Bram tulus, sambil mengusap rambut coklat wanitanya.


"Love you, … Miss you." ucapnya dan mengecup


bibir wanitanya.


"Kamu, berlebihan. kita tidak berpisah tapi kamu sudah merindukan ku." Amber terkekeh dengan tingkah berlebihan kekasihnya.


"Aku, serius sayang. aku merasa selalu merindukanmu, meskipun kau didalam kamar mandi sekali pun aku selalu merindukanmu." ungkap Bram dengan wajah serius.


Amber yang mendengar perkataan sang kekasih, hanya tertawa lepas dan menepuk bahu Bram.


"Sangat berlebihan." ujar Amber, di sela tawanya.


"Ternyata, kau tak pernah memiliki perasaan padaku. tapi tak apa, usah memilikimu aku sudah senang. dan bisa memelukmu seperti ini aku juga sudah sangat bahagia. aku yakin lama-kelamaan kau pasti bisa mencintaiku." ucapan lirih Bram, membuat hati Amber sakit.


"Dear," seru Amber menghilangkan kesunyian diantara mereka.


"Dear, serunya lagi dan kembali menangkup wajah tampan prianya. Amber mengecup berulangkali bibir seksi nan menggoda Bram.


Bram yang menahan tengkuk Amber, saat wanitanya itu ingin menjauhkan wajahnya. Bram menyesap dan melumut lembut bibir Amber, yang sudah menjadi candunya. cumbuan mereka masih berlanjut dan cahaya jingga sore menjadi pelengkap suasana romantis mereka.


"Love you to." bisik Amber di sela cumbuannya di bibir Bram.


Bram merasa bahagia, melanjutkan cumbuannya tak kalah panasnya. Bram mengendong Amber dan membawanya ke dalam kamar. Bram menghempaskan tubuhnya di ranjang, dengan Amber yang masih berada di gendongannya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan cumbuannya, dengan Amber yang berada di atas kekasihnya itu.


*


*


*


"Kau, sudah menyiapkan semuanya."


" … "


"Lakukanlah dengan hati-hati."


" …"


"Hm, jangan khawatir, aku akan membayarmu lebih. kalau kau berhasil."


" … "


"Hm."


Rebecca memutuskan panggilannya, kepada orang suruhannya. dia hanya ingin menanyakan persiapan rencananya untuk menyingkirkan Ruby.


"Baiklah, semoga aku bisa mendengar kabar baik." senyum licik itu pun terlihat di wajah cantik kw, Rebecca.

__ADS_1


__ADS_2