Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 108


__ADS_3

" Bagaimana reaksi Boy, kalau dia mengetahui fakta yang sebenarnya, kalau kau bukan adiknya tapi hanya adik palsunya, yang menjadi penyebab ibunya meninggal." ucapan Bram membuat tubuh Gaby membeku dan wajahnya tiba-tiba memucat.


"Pasti, Boy akan sangat membencimu dan lebih parahnya kau akan kehilangan seorang kakak yang sangat menyayangimu mu." lanjut Bram, membuat wajah Gaby pias dan memucat.


Gaby melangkah mendekati Bram dan segera berlutut di kaki pria itu.


Bram menjauhkan kakinya saat Gaby berusaha menyentuhnya.


"Jangan, berani menyentuhku jaalang kecil." sarkas Bram sambil menundukkan wajahnya menatap Gaby, dengan wajah jijiknya.


"Kumohon, jangan beritahukan semuanya kepada kakak, Boy. aku tidak ingin kehilangan kakak. please aku mohon tuan Bram, jangan beritahu soal semua ini, … kumohon." dengan wajah penuh air mata, Gaby memohon kepada Bram.


"Cih," Bram berdecih jijik.


"Pergilah, tinggal kota ini. dan jangan menjadi jaalang kecil di rumah tangga Boy, karena sampai kapanpun kau tidak akan bisa mendapatkan Boy. karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. jadi, sebelum rahasia kau dan nyonya Lezi terbongkar, maka tinggal kota ini." ancam Bram sambil menghunus gadis di bawahnya tajam.


Gaby menundukkan wajahnya, dia memikirkan perkataan Bram dan diapun setuju akan meninggalkan kota ini dan tidak akan menjadi pengganggu.


Dia tidak ingin rahasia terbesarnya di ketahui oleh kakak Boy dan apabila itu terjadi sudah pasti, Boy akan membencinya dan dia akan kehilangan Boy selamanya. Gaby rela melepas cintanya daripada harus kehilangan dan dibenci oleh pria yang kita cintai.

__ADS_1


Gaby bangkit dan dia sedikit mendongakkan wajahnya, menatap pria didepannya. dengan wajah lesu dan mata bengkak karena menangis, Gaby mengangkukkan kepalanya lemah.


"T-tapi izinkan aku bertemu dengan kakak." lirih Gaby gugup dan masih melihat wajah Bram dengan tatapan penuh harap.


"Bersiaplah." jawab Bram dan keluar dari kamar yang di tempati Gaby.


"Kakak, semoga kau bahagia, aku menyayangimu." lirih Gaby dengan isakan menyedihkan.


Mungkin ini yang terbaik buat dirinya agar selalu berada di sisi Boy, daripada harus dibenci dan dibuang dari hidup pria yang ia cintai.


Gaby kembali luruh kelantai dan menangis untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. bagaimana perasaan kalian disaat harus kehilangan cinta pertama kalian dan harus merelakan dia hidup bahagia.


*


*


*


" …

__ADS_1


"Ok."


"Tut."


Boy menutup panggilannya dan meletakkan kembali ponsel setelah panggilan disembarang sana terputus.


Boy menatap punggung polos istrinya dan mendaratkan kecupan disana.


Ini sudah kedua kalinya dia gagal untuk memasuki sang istri. dan lagi-lagi sebuah panggilan yang selalu mengagalkan dirinya untuk melakukan olahraga menyenangkan bersama Ruby.


"Astaga, ini lebih menyakitkan." ringisnya saat sang alat tempurnya meronta ingin sesuatu.


"Diamlah dan tidurlah sobat. mungkin belum waktunya kita merasakan nikmatnya anu-anu sobat.!" keluh Boy sambil mengarahkan netranya pada alat tempur jumbonya yang sudah menjulang.


Boy melirik Ruby yang masih terlelap. istrinya itu tertidur dengan rasa kesalnya. bagaimana tidak disaat gelombang hasrat itu menggebu dan sang istri mulai terpancing dan mendingin lebih, disaat itupun suara laknat dari benda perseginya menganggu dirinya yang sedang merasai pusat inti sang istri.


"Maaf, baby. aku janji saat itu tiba aku akan memberikanmu kenikmatan sampai pagi." menolog Boy dengan suara sendu.


Boy mendaratkan kecupan sekali lagi pada punggung polos istrinya dan melangkah kearah kamar mandi.

__ADS_1


"Oh maaf aku, dengan rasa tidak terhormat dan tidak ikhlas aku harus membuangmu lagi kecebong ku." bisiknya sambil melakukan senam lima jari pada alatt tempurnya, untuk menghilangkan rasa sesak yang sangat menyakitkan.


"Oh, kecebong berhargaku." erangg Boy di saat rasa sesak itu sudah mengendor.


__ADS_2