Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 78


__ADS_3

"Hey … bangunlah sayang, kita sudah sampai." bisik Bram lembut di samping telinga wanitanya.


"Hg." lenguh Amber dan mengerjapkan berlahan.


"Bangunlah, sayang.!" bisik Bram lagi, saat Amber kembali memejamkan matanya.


"Hmm." gumam Amber, yang merasa berat untuk membuka matanya.


Bram menghela nafas saat wanitanya tak kunjung membuka mata. dia yang begitu gemas dengan wanitanya itu, langsung menciumi seluruh wajah Amber.


"Sayang, wake up,!" bisiknya di sela-sela kecupannya di bibir seksi Amber.


Amber dengan malas dan berat membuka matanya. hal pertama dilihatnya adalah senyum lembut pria tampan di depannya. Amber pun membalas senyum Bram yang mampu membuat jantungnya berdebar.


"Kita, dimana.?" tanya wanita itu saat dia tersadar sepenuhnya dari tidurnya.


"Tunggu disini." perintah Bram tanpa menjawab pertanyaan Amber. dan pria itu membuka pintu mobilnya dan turun, dia mengelilingi mobil itu dan membukakan pintu mobil satunya untuk sang wanitanya, Bram membungkuk badannya, membantu wanitanya melepaskan sabuk pengamannya.


Amber hanya diam terpaku di tempatnya, menyaksikan sendiri perlakuan manis dan senyum lembut yang di berikan pria kaku di depannya ini.


Bram meletakkan telapak tangan kirinya diatas kepala Amber saat wanita itu turun dari mobil.


Bram meraih tangan Amber dan menariknya lembut untuk masuk ke dalam villa.


" Kita, dimana.?"


"Terus, ini villa siapa.?"


"Kenapa, anda membawa saya kemari.?" dengan wajah penuh tanda tanya, Amber memberikan begitu banyak pertanyaan pada kekasihnya.


Bram hanya mengedikkan bahunya dan terus melangkah untuk masuk ke dalam villa.


"Tuan, ak ….!! belum selesai ucapan Amber, dengan cepat Bram menyela ucapan wanitanya itu.

__ADS_1


"Shutt, diamlah." sela Bram.


Amber hanya mencebikkan bibirnya dan membuang wajahnya kesamping.


"Dasar, pria kaku menyebalkan." gumamnya dalam hati.


"Tunggu dulu." ucap Amber dan menghentikan langkah mereka yang sudah di depan pintu masuk villa.


"Ada apa, sayang." Bram mencubit pipi Amber gemas.


"Isshh, lepaskan … sakit.! keluh Amber mengusap-usap pipinya yang merah akibat cubitan gemes Bram.


"Upz …, sorry sayang! dengan wajah menyesal Bram mengusap pipi memerah Amber akibat ulahnya.


"Apa, masih sakit.?" tanyanya sambil mengusap dan meniup pipi Amber.


Amber hanya bisa menggelengkan kepalanya, sejak tadi jantungnya berdetak kencang, dengan perlakuan manis Bram, apalagi dia bisa merasakan nafas segar Bram di pipinya.


"Oh, Tuhanku, jantungku." teriaknya dalam hati.


Pria itu kembali menarik tangan Amber dan melanjutkan langkah mereka untuk memasuki villa.


"Berarti tuan Boy, … juga ada di sini.?" tanya Amber dengan pandangan menelisik isi dalam villa itu.


"Ini, villa punya, tuan Boy.!" tanyanya lagi, saat wanita itu melihat foto tuan Boy ada disana.


"Ternyata, kau cerewet juga." ujar Bram sambil terkekeh.


"Mana wanita tembok, yang aku kenal dulu." Bram terkekeh lagi dan menolehkan wajahnya kesamping.


Dia dapat melihat bibir seksi Amber mengerucut imut.


"Sayang, jangan mengodaku." ujarnya dan memutar badan Amber menghadap padanya.

__ADS_1


"A-aku, tidak mengoda, tuan.!" bantahnya dengan gugup, saat Bram mulai mendekatkan wajahnya.


"Kau, tadi mengodaku, sayang …, dengan cara seperti ini." ujarnya dan memperagakan bibir Amber tadi. Amber tertawa lepas hingga kepalanya tertarik kebelakang. saat melihat tingkah Bram, yang menurutnya sangat lucu.


Bram hanya terdiam menikmati wajah cantik Amber saat tertawa lepas seperti sekarang, sejak beberapa bulan bersama, baru kali ini Bram melihat tawa lepas Amber, yang begitu membuat kadar kecantikan Amber bertambah.


"You, are so beautiful, dear."bisik Bram, dan menarik tengkuk wanitanya dan mempertemukan bibir mereka. Bram melumut lembut bibir Amber, menyesap dan mengigit kecil, kini lidahnya sudah bermain-main di dalam mulut Amber.


Amber memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Bram. Amber juga membalas ciuman Bram tak kalah lembutnya, merasai dan menikmati bibir merah alami Bram.


Ciuman mereka masih berlanjut dan makin memanas. Bram mengangkat Amber kedalam pangkuannya dan mengendong wanitanya itu, menuju kearah luar villa tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Amber mempererat kalungan tangannya di leher Bram dan juga mengapit erat pinggang Bram dengan kedua kakinya.


Sedangkan di dalam villa.


Boy yang sejak tadi mendegus kesal dan mengumpat asistennya itu. sudah 1 jam pria itu menunggu asistennya yang tak kunjung menunjukkan batang kepalanya.


"Dasar, asisten sialan!!! makinya dan masih mondar-mandir di depan Ruby, yang sedang menonton tv.


" Paman, kau menghalangi pandanganku." rengek Ruby.


"Lebih, baik kau memandang wajah tampanku saja, baby. bisa membuat matamu cerah dan bersinar. daripada kau memandangi tv, bisa membuat matamu sakit, baby." ucapan narsis Boy, membuat Ruby menganga dan mengedip-kedipkan matanya.


"Oh, baby lihatlah wajah begitu lucu." Boy menghempaskan tubuh tingginya, di samping Rubynya dan menggangkat wanitanya dalam pangkuannya.


"Mengapa, kau begitu mengemaskan, baby." ujar Boy dan menarik pelan hidup mancung Ruby.


"Ish, sakit paman." aduh Ruby dan menepis tangan Boy.


Boy tertawa senang saat melihat wajah cemberut Rubynya. dia begitu senang menggoda wanitanya ini, menjadikan hiburan menyenangkan buatnya.


Saat membuat Rubynya kesal dan merengek manja padanya.

__ADS_1


"Oh, baby, … i love you." ucap Boy dan menarik Rubynya dalam pelukannya.


__ADS_2