
"Jadi, Meraka sedang mencari gadisku.?" Boy bertanya kepada asisten Bram, kini mereka sedang berada di balkon kamar rawat Ruby.
"Iya, tuan! "Saya mendapat informasi,kalau meraka gagal menguasai harta warisan nyonya Ruby tuan.!'
"Kenapa? tanya boy heran.
"Meraka, membutuhkan stempel khusus nyonya Ruby tuan.!" lapor asisten Bram
"Stempel,?" gumam boy, yang menatap asistennya itu untuk mendapatkan informasi lengkap.
"Iya tuan, stempel khusus untuk memperkuat pengalihan seluruh harta kekayaan tuan Robert Pattinson tuan!"
"Mungkin, stempel itu ada pada nyonya Ruby tuan.!"
Boy hanya diam mendengar semua laporan asistennya itu sambil menatap Ruby yang sudah bangun.
"Ternyata, keputusanku membawa gadisku jauh dari mereka, sangatlah tepat.
"Apa, kau yakin mereka tak mendapatkan jejak gadisku sedikit pun.?" tanyanya sambil menatap tajam asisten Bram.
"Iya tuan!
"Hmmm...bagus, awasi terus mereka dan ajukan kerjasama dengan perusahaan Pattinson.! Aku ingin melihat tampang si brengsek itu yang sudah berani menyakiti gadisku.!"perintah boy dingin.
"Baik tuan!
Setelah mendengar semua laporan Bram, boy melangkah kearah ranjang pasien, dimana Ruby sudah terbangun dan berusaha menggapai gelas yang berisi air minum. tiba-tiba tangan kekar mengambil alih gelas itu dan membantunya untuk minum.
"Kenapa tidak memanggilku, hmm? ucap boy lembut sambil jari jempolnya membersihkan sisa-sisa air di bibir Ruby.
"Oh, vitaminku! teriak boy dalam hati.
"Aku, tidak mau merepotkan paman terus.!" cicit Ruby.
"Baby…,! bisakah kau tak memanggilku paman,!" Come on baby aku masih muda.!" protes boy yang tak terima Ruby masih memanggilnya paman. Ruby hanya memutar matanya malas, kebersamaannya dengan boy beberapa hari ini membuat dia sudah terbiasa dengan sikap boy, apalagi panggilan baby yang di tujukan untuknya.
Keadaan Ruby juga sudah membaik dan dia mulai terapi untuk kesembuhan tulang saraf retak di bagian belakangnya. setiap terapi juga boy selalu menemaninya, dia seakan seperti seorang suami yang begitu fosesif.
Boy sendiri tak akan membiarkan Ruby melakukan terapi sendiri, melihat begitu cantiknya gadisnya itu, tak jarang juga para dokter terpesona dengan wajah Ruby yang cantik, yang membuat sang tuan muda arogan itu tidak rela, itu sebabnya dia selalu mengekori Ruby kemana pun gadisnya itu berada.
"Kau ingin duduk baby.!" ucap Boy saat melihat Ruby berusaha bangkit, Ruby hanya menganggukkan kepalanya dan boy membantu Ruby duduk sambil bersender pada bantal yang di susun boy.
__ADS_1
"Terimakasih! ucap Ruby sambil tersenyum
"Cup! Boy mengecup bibir Ruby, dia tidak tahan senyum cantik gadisnya.
Ruby membeku saat mendapatkan kecupan dari boy, dia menatap boy dengan tatapan sulit di artikan.
"Kenapa, kau menatapku seperti itu? Hmm….!" Cup"
Sekali lagi boy mencuri kecup di kening Ruby.
"Apa yang paman lakukan,? A...aku tidak pantas untuk paman perlakukan seperti ini,! Aku hanya seorang gadis cacat, dan parahnya lagi aku di buang oleh suamiku sendiri.!" ucap Ruby, dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan menatap boy intens.
"Sstt! jangan bicara seperti itu baby, bagiku kau adalah wanita yang mampu membuat hati ini berdebar kencang, dan mulai sekarang kau adalah wanitaku, satu lagi kau harus melupakan pria brengsek itu, baby,aku tidak suka kau mengingatnya.! apa kau mengerti baby.!" Bisik boy sambil menempel kening meraka.
"Tapi, aku hanya wanita cacat yang tak pantas untuk paman, dan aku juga masih istri orang.!" kata Ruby sambil memundurkan kepalanya hingga kening mereka terpisah dan Ruby memalingkan wajahnya saat boy terus menatapnya tajam.
"Kau, akan tetap menjadi milikku Ruby Pattinson.!" geram boy saat mendengar perkataan Ruby kalau dia masih istri Alex.
"Aku, akan memisahkan kalian, bagaimanapun caranya,!"
"Dan, kau akan menjadi milikku selamanya.!" ucapnya yang tak terbantahkan.
Setelah mengatakan itu boy pun langsung melangkah keluar dari kamar rawat Ruby di ikuti asisten Bram.
"Bram, kau urus semua berkas perceraian mereka, secepatnya dan kumpulkan semua bukti kejahatan pria brengsek itu.!"
"Siap tuan.!"
"Hmm! urus segera surat perceraian meraka, dan setelah itu aku akan menikahi gadisku.!"
"Tapi, bagaimana cara kita mendapatkan tandatangan tuan Alex.?"
"Jangan, sebut nama brengsek itu di hadapanku Bram!!! murka boy, entah mengapa dia sangat membenci nama itu. Bram hanya mampu menelan ludahnya susah.
"Kita, Ikuti cara mereka yang licik. ucap boy dengan seregai liciknya. Bram hanya diam sambil memikirkan rencana apa yang akan di lakukan tuan boy.
"Kapan, jadwal pertemuanku dengan pria brengsek itu.?"
"Lusa tuan, dan malam ini kita akan terbang ke negara K.!" pungkas Bram.
"Hmm! siapkan pengawalan ketat buat gadisku, dan tempatkan bodyguard wanita untuk gadisku nanti.!" perintah boy.
__ADS_1
"Baik tuan!
Boy kini melangkah keluar dari rumah sakit dan mendekati mobil mewahnya yang pintunya sudah terbuka oleh sang sopir, boy dengan gaya arogannya memasuki mobil dan duduk dengan angkuh di belakang, dia ingin mengurus sesuatu hal, dan meninggalkan Ruby bersama bibi lili di rumah sakit itu.
"Apa, kau sudah memerintahkan pengawal di sekitar kamar gadisku.?" Boy bertanya untuk menyakinkan keamanan Ruby.
"Sudah tuan." dan mobil mewah itu berjalan membelah jalanan Salah satu kota terbesar di negara A. Boy terus berpikir cara menghancurkan Alex, laki-laki brengsek yang sudah menyakiti gadisnya, namun satu sisi dia juga bersyukur, karena perbuatan Alex kini Ruby berada di dekatnya, jadi apakah dia harus marah atau bersyukur.?
*********
"Kalian, belum menemukan jejaknya.?" ucap Alex dingin. Saat sang anak buah yang dia suruh untuk mencari jejak keberadaan Ruby di setiap rumah sakit dan klinik di kota K. Sudah beberapa hari ini Alex sibuk mencari jejak Ruby dan bibi lili. Dan lebih membuatnya frustasi sang pengacara corlos selalu menanyai keberadaan Ruby. dan Alex mengatakan Ruby keluar negeri untuk melakukan pengobatan kelumpuh yang di alami Ruby. Alex tidak ingin sang pengacara itu mencurigainya karena itu akan sangat berbahaya bagi kedudukannya dan keamanannya, mungkin saja dia akan di penjara atas kejahatan dan penipuan.
"Apa, kalian sudah mencari di kota bibi lili.?"
"Sudah tuan, tapi kami tidak menemukan petunjuk apa-apa.!" lapor anak buah Alex.
"Brengsek." umpat Alex marah.
"Pranggg!!!!
"Mencari, gadis cacat dan wanita tua itu saja kalian semua tidak becus,!!!! Akkhhh,!!! Alex menghardik sang anak buah, saat mereka belum juga menemukan keberadaan Ruby.
"Sial…, sial….!!!" umpatnya geram.
Alex yang begitu frustasi terus mengamuk, untuk menyalurkan semua amarahnya, atas kegagalan rencana untuk mengambil alih semua harta milik keluarga Pattinson.
"Clek! tiba-tiba pintu ruangan Alex terbuka dan sorotan mata elang Alex langsung menyorot orang tersebut dengan tatapan tajam.
"Maaf, tuan saya sudah mengetuk pintu, tap-!!!
"Katakan! sela Alex kepada sang asisten jastin.
"Kita, memiliki tawaran kerjasama dengan perusahan Cole grup tuan.?" Lapor asisten jastin.
"Dan, mereka ingin mengadakan pertemuan besok.!"lapornya lagi.
"Cole group.?" Tanya Alex binggung.
"Iya tuan, perusahaan terbesar di dunia, dan Presdirnya bernama Boy Raymond Cole tuan.!"
"Hmm! atur saja semuanya.!" jawab Alex sambil berpikir sejenak.
__ADS_1
"Kalian semua keluarlah.!" Alex menyuruh semua anak buahnya keluar. Alex bangkit dan menuju jendela kaca besar yang terdapat di ruangan CEO, dia memasukkan kedua tangannya di saku celananya, sesekali terdengar nafas kasar keluar dari hidungnya.
"Aku, pasti akan menemukanmu Ruby Pattinson.!" gumam Alex.