Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 46


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat, memasuki sebuah halaman yang cukup besar, dan juga sebuah bangunan villa yang begitu mewah, nyaman dan asri.


Butuh 2 jam perjalanan untuk sampai ke villa tersebut, yang memang didirikan di sebuah desa terpencil yang di sekeliling hanya ada pohon-pohon tinggi dan di daerah pengunungan yang indah.


Sang pemilik villa sengaja membangunnya jauh dari kota atau kebisingan, agar dia bisa menghilangkan penat dan lelah di villa ini, yang kualitas udaranya terjamin bersih dan segar.


Seseorang pria dengan berawakan tinggi kekar dan memiliki wajah tampan, itu keluar dari mobil mewah tersebut.


Pria gagah itu melangkah memasuki villa, saat seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


Pria itu terus melangkah dan memasuki sebuah kamar tamu yang cukup besar. Pria itu tersenyum miring saat melihat seorang wanita tengah berbaring di atas tempat tidur, dan di temani seorang perawat wanita.


Pria itu melangkah dan mendekati wanita itu yang terbaring, lemah di atas ranjang yang cukup besar.


"Bagaimana, keadaannya sekarang.? tanya pria tersebut sambil menatap wanita itu dengan lekat.


"Kondisinya, sudah mulai stabil tuan! jawab sang suster.


"Hm! bagus, aku ingin kau terus awasi dia dan jangan biarkan dia sendiri." perintah pria tersebut.


"Baik, tuan."


"Kalau, dia sudah sadar panggil aku." perintah pria itu lagi.


"Siap tuan." jawab sang suster.


Setelah melihat dan menanyakan keadaan wanita itu, pria gagah dan tampan itu keluar dari kamar tamu itu dan memasuki kamarnya sendiri.


Pria itu merebahkan tubuh tinggi kekarnya di atas ranjang king size-nya saat memasuki kamar dengan nuansa maskulin,dan di sekeliling kamar hanya berdindingkan kaca-kaca besar, yang bisa memanjankan pandangan kita oleh alam pengunungan di sekitar villa. pria itu bangkit dari ranjangnya dan menuju balkon, dia memejamkan matanya dan menghirup udara dengan rakus.


Pria itu tersenyum miring di dalam diamnya.


entah apa yang ada di dalam pikiran pria ini.


"Aku, yakin kau pasti akan datang sendiri padaku, sayang." gumam pria itu yang tidak lain adalah Alex Graham.


"Aku, akan memberikan waktu padamu, untuk bersenang-senang sebentar, setelah itu kau akan menjadi milikku lagi, Ruby sayang." monolog Alex sambil terkekeh sendiri.


"Aku, akan menanti detik-detik kehancuranmu lagi, Rubyku sayang." Hahahah." Alex terus saja tertawa sendiri di balkon kamarnya.


"Tok, tok, tok! Alex memandang pintu kamarnya dengan tajam dan menyuruh orang yang sudah menganggu hayalan indahnya.


"Tuan! seru sang pelayan sambil memberi hormat kepada Alex.


"Pesanan anda sudah datang, tuan." lapor sang pelayan.


"Bawa dia kemari." perintah Alex dingin.


Sang pelayan itu pun keluar dan melangkah meninggalkan kamar Alex. Beberapa detik kemudian sang pelayan datang kembali dan dia membawa seorang wanita cantik dan seksi.


Wanita itu mengedipkan matanya kepada Alex, dan mendekati Alex dengan gaya mengoda. Pelayan tadi sudah keluar dari kamar Alex, meninggalkan Alex dan wanita sewaannya.


Alex memberi kode kepada wanita itu dengan telunjuknya untuk mendekat padanya.

__ADS_1


Wanita cantik dengan penampilan seksi itu pun mendekat kepada Alex dan langsung duduk dipangkuan pria itu.


"Puaskan aku j*l*ng." bisik Alex di telinga wanita itu. dan siang itu Alex dan wanita sewaannya menghabiskan waktu untuk berburu kenikmatan sesaat.


Semetara di mansion Pattinson.


"Apa kau yakin, baby." ucap Boy lembut sambil mengusap-usap rambut panjang Ruby yang sedang tertidur di pahanya.


"Iya, aku sangat yakin." balas Ruby sambil mendongak memandang wajah Boy dari bawah.


"Baiklah, kalau itu yang terbaik untukmu, baby.! ujar Boy pasrah dan mengecup bibir Ruby sekilas.


"Berhentilah, menciumiku terus paman." protes Ruby sambil cemberut kesal.


"Oh, baby! kau begitu mengemaskan." ucap Boy sambil menciumi seluruh wajah cantik Ruby.


"Stop paman." pekik Ruby dan mendelik kesal pada Boy.


"Aku, tidak akan bisa berhenti, baby! sebelum kau berhenti juga memperlihatkan wajah mengemaskanmu ini." ujar Boy sambil mengigit kecil pipi mulus Ruby.


"Paman …, stop! ini sakit sekali." rajuk Ruby saat Boy mengigit gemas pipi Ruby yang membuat Rubynya kesakitan dan merajuk.


"Maaf, baby! habisnya pipimu ini sangat mengemaskan." ujar Boy sambil menekan-nekan pipi Ruby sehingga bibir mungil Ruby terlihat mengerucut lucu. Boy tertawa saat memainkan pipi Rubynya dan Ruby berusah lepas. sesekali Boy mengecupi bibir Ruby yang dia mainkan.


"Oh, baby! kau membuatku ingin memakanmu." ucapnya yang kini kembali menciumi wajah Ruby, sedangkan Ruby hanya bisa tertawa karena merasa geli saat Boy menciumnya.


Ciuman, Boy kini semakin turun keleher Ruby. Boy menciumi leher Ruby sambil menyesapnya dan mengigit pelan leher jenjang Ruby. kini ciuman berubah sesapan itu sudah berada di tulang leher Ruby dan semakin turun, tapi saat akan mencoba memanjat gunung kembar dengan semangat 45 itu, ambyar seketika, saat asisten tak tau diri itu datang dan menganggu aktivitas baru Boy.


Boy hanya mampu mengerang kesal dan mendelik tajam sang asisten. sedangkan, Ruby yang hampir terbawa suasana itu kini hanya bisa menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Boy.


Asisten Bram yang bingung dengan tingkah dan umpatan sang tuan mudanya itu, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"tuan, mudah kenapa? kok mukanya merah? apa tuan muda sakit.? tanyanya dalam hati dan menatap lekat sang tuan mudanya.


"Tuan, muda sedang sakit.? tanyanya khawatir.


"Katakan, padaku tuan anda sakit apa.? tanya asisten Bram sambil, mendekati sang tuan muda yang kini wajahnya tambah memerah.


"Astaga, tuan! lihatlah wajah anda tambah memerah tuan." ucap asisten Bram dengan nada cemas.


"Nyonya, Ruby tolong baringkan tuan, Boy.! perintah Bram.


"Sebentar, tuan aku akan memanggilkan dokter buat anda." ucap asisten Bram.


asisten Bram langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, saat hendak melakukan panggilan, suara mengelegar Boy, membuat asisten Bram terkejut hingga ponsel miliknya retak.


"brammm!!!! teriak Boy.


"iya tuan." sahut asisten Bram.


"apa ada yang sakit tuan.?" sahut asisten Bram , saat wajah Boy bertambah merah akibat menahan marah.


"tuan ....!!! pekik asisten Bram, saat melihat dada tuanya naik turun.

__ADS_1


"tuan, apakah jantung anda bermasalah.? tanya Bram bertambah khawatir.


"brammm ....!!! pekik Boy kencang. sedangkan Ruby hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol Boy dan asistennya.


"aku, akan membunuhmu, Bram sialan." pekik Boy yang masih memaki dan mengumpat Bram.


"salah saya apa, tuan." tanya asisten Bram dengan polosnya.


"kau, tanya salahmu apa? ucap Boy kesal.


dengan polosnya asisten Bram menganggukkan kepalanya. yang mana membuat Ruby kembali terbahak.


"karena mu, aku harus mengalami sakit kepala Bram ....!! geram Boy dan menajamkan matanya kepada asisten Bram.


"kalau, begitu aku akan menghubungi dokter Lucas, tuan." tawar asisten Bram.


"Brammmm!!!! teriak Boy lagi.


"kau, membuat kepalaku bertambah sakit dan juga kepala bawahku ikut sakit." ucap Boy dan melirik Ruby yang masih tertawa.


"kepala bawah? cicit asisten Bram.


"jangan, bilang kau tidak mempunyai kepala bawah Bram." Boy memicingkan matanya.


menunggu jawaban asisten oon-nya itu.


asisten Bram menggeleng bingung.


membuat Boy Raymond Cole hanya bisa memijit pelipisnya.


sedangkan Ruby, hanya bisa tertawa sambil memegangi perutnya.


"maaf, tuan! kepala bawah itu apa.? dengan hati-hati asisten Bram bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"oh God ....!!! geram Boy.


"kepala, bawah adalah kepala yang bisa mencetak kepala juga." jelas Boy dengan sabar.


"kepala, bawah bisa menyetak kepala bawah juga.? gumam asisten Bram dalam hati dan memandangi kebawah.


"kalau, kau masih binggung! kau bisa menanyakannya pada Amber." saran Boy sambil menyeringai.


"Amber tuan? tanya Bram lagi.


"iya Amber."


"apakah, Amber juga punya kepala, tuan.? tanya Bram bertambah binggung.


"oh Tuhan! bisakah aku menenggelamkan asisten bodohku ini." umpat Boy geram dalam hati.


"Amber, tak mempunyai kepala, tapi amber mempunyai bibir bawah." ucap Boy enteng.


"bibir bawah?

__ADS_1


"brammmm!!!! teriak Boy kesal dan meninggalkan asisten oon-nya itu di sana.


asisten Bram terus saja berpikir, dengan ucapan sang tuan mudanya. dia lantas berjalan keluar untuk mencari Amber, dan menanyakan tentang, kepala dan bibir bawah.


__ADS_2