
"Tok … tok … tok …." sebuah pintu kamar mewah di ketuk oleh salah satu pelayan di mansion Rebecca. sang pelayan membawakan Rebecca sebuah rangkaian bunga mawar putih dan juga sepucuk kertas.
"Clek." Rebecca membuka pintu kamarnya, yang masih mengunakan lingerienya yang transparan.
"Gluk." pelayan laki-laki itu hanya bisa meneguk ludahnya kasar. laki-laki mana yang bisa tahan dengan penampilan wow seperti di depannya.
"Ada apa.?" tanya Rebecca dingin. membuyarkan lamunan pelayannya itu dari fantasi liarnya.
"I-ni, … nyonya, ada kiriman paket dari anda," jawab sang pelayan tergagap, sambil menyerahkan kiriman rangkaian bunga itu pada Rebecca.
Dengan alis yang terangkat tinggi dan pandangannya menatap lekat pada rangkaian bunga mawar putih yang di terimanya dari sang pelayan.
"Dari, mana kau dapatkan ini.?" Rebecca, bertanya sambil menatap bergantian pelayan dan rangkaian mawar itu.
"Saya, tidak tau, nyonya. tapi dia juga menitipkan ini pada anda." ujar pelayan itu sambil menyerahkan selembar kerta kepada Rebecca.
Rebecca menerima kertas itu dengan rasa penasaran dan binggung.
"Pergilah," usir Rebecca pada pelayannya.
"Baik, nyonya." pelayan itupun, menjauh dari hadapan Rebecca, setelah memberikan hormat kepada nyonya yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya dengan wajah penasaran.
"Dari siapa.?" cicit Rebecca, lalu menutup kembali pintu kamarnya dan melangkah kearah sofa di dekat jendela kamarnya.
Rebecca, meletakkan rangkaian mawar itu diatas meja dan membuka sepucuk kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
Rebecca membolakan matanya dan menutup mulutnya dan raut wajahnya terlihat terkejut. dan detik berikutnya dia bersorak kegirangan saat mengetahui siapa pengirim rangkaian mawar dan sepucuk surat untuknya.
Rebecca meraih mawar tersebut dan mendekatkan kehidupannya, Rebecca menghirup dalam-dalam mawar itu. senyum indah nampak terlihat di wajahnya dia bahkan mencubiti dirinya sendiri, seakan ini adalah mimpinya.
"Aww." ringisnya saat dia mencubit sendiri tangannya.
"Ternyata, aku tidak bermimpi. ini adalah nyata," ahkk." Rebecca berteriak bahagia.
"Aku, masih tidak percaya, kalau tuan muda, Boy Raymond Cole. ingin bertemu denganku." ujarnya dengan wajah yang begitu bahagia.
"Apakah, tuan Boy, sangat terpukul. karena kehilangan wanita sialan itu? jadi dia ingin melampiaskan rindunya pada diriku? oh aku sungguh merasa beruntung tuan, Boy menyadari keindahan tubuhku dan langsung ingin bertemu denganku." ujarnya dengan wajah bahagia dan puas.
"Tidak, sia-sia aku menyingkirkan wanita sialan itu. dan lihatlah tuan Boy datang sendiri kepadaku," hahaha." Rebecca tertawa lepas dan dia merasa puas, akhirnya rencana untuk mendekati Boy berhasil.
"Sebaiknya, aku ke salon dulu dan membeli gaun seksi untuk aku gunakan nanti malam," monolog Rebecca yang segera berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi.
"Oh Tuhan, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan, tuan Boy," tuan Boy kau akan menjadi milikku," hahaha." Rebecca terus saja bersorak senang, sambil berputar-putar di dalam kamar mandinya. dia bahkan menggoyang tubuhnya dan membayangkan tubuh Boy berada di atasnya.
"Oh, aku sudah gila, ….!!!
"Tuan, Boy. kau begitu membuatku tergila-gila," tidak henti-hentinya Rebecca meracau, menyebut nama Boy Raymond Cole.
*
*
__ADS_1
*
Kembali ke rumah sakit.
Ruby yang kini sudah keluar dari masa kritisnya. dokter menyatakan kondisi Ruby sudah stabil dan dia hanya butuh banyak istirahat sementara waktu.
"Baiklah, tuan Boy. saya permisi dulu," pamit sang dokter saat selesai memeriksa keadaan Ruby.
"Terimakasih, dokter.?" sela sang mommy, saat Boy hanya terdiam di tempatnya.
"Sama-sama nyonya," balas sang dokter, dan berjalan mendekati pintu di kamar VIP itu.
"Syukurlah, putriku Ruby baik-baik saja." ucap sang mommy dengan menghela nafas leganya.
Sang mommy lalu mendekati putrinya dan mengelus sayang rambut Ruby.
"Maafkan, aku," karena sudah gagal melindungi Ruby." sela Boy yang masih setia berada di sisi Ruby.
"Tidak, nak. ini semua bukan salahmu. namanya musibah kita tidak akan tau kapan akan datang." jawab sang mommy dengan bijik.
"Sekarang, istirahatlah nak. biar mommy yang menjaga Ruby. kau sudah terlihat lelah dan butuh istirahat nak." sang mommy mencoba membujuk Boy kembali, agar mau beristirahat. karena sejak kemarin Boy tak sedikitpun berpaling dari putrinya itu.
"No, mommy. aku akan disini sampai Ruby tersadar. dan orang yang pertama yang harus dia lihat adalah aku." tolaknya dan bersikeras tetap disisi Ruby.
Sang mommy hanya bisa pasrah dan berjalan kembali, keara sofa di kamar rawat itu.
__ADS_1
Sedangkan boy, tidak memperdulikan dirinya. dia tetap masih disisi Ruby. hanya panggilan alamlah yang membuat Boy meninggalkan Rubynya sebentar, setelah itu kembali lagi.
Boy bahkan tidak memperdulikan lagi penampilannya dan juga makannya. dia seakan tidak memperdulikan semua itu, yang dia pikirkan hanya keselamatan dan juga kesehatan Rubynya.