Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 124


__ADS_3

Flashback on


Boy yang baru keluar dari kamar mandi, setelah menghabiskan seharian penuh bersama istrinya yang kini masih terbaring di ranjang.


Boy mendekati istrinya dan mengecup puncak kepala Ruby dengan sayang. Boy terkekeh melihat wajah kelelehan istri cantiknya itu.


"Istirahatlah, baby." Bisik Boy di telinga istrinya yang sedang nyenyak tidur.


Boy keluar dari kamar dan bermaksud ingin melihat keadaan adiknya Gaby, yang ia acuhkan seharian.


"Pasti, dia marah." Gumam Boy, sambil menuruni anak tangga, menuju lantai dua di mana kamar, Gaby.


Boy mengerutkan keningnya saat pintu kamar adiknya, terbuka. Pria itu lantas masuk kedalam kamar sang adik, tapi pria itu tidak melihat siapapun di dalam kamar adiknya ini.


"Kemana anak itu.?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Boy tersenyum saat melihat pintu balkon sang adik terbuka, iapun segera mendekati balkon kamar Gaby secara berlahan, untuk mengejutkan adik tersayangmu itu.


Tapi langkahnya terhenti saat pria itu, mendengar pembicaraan Gaby dengan seseorang di seberang sana.


Boy terhenyak dan membeku di tempatnya saat Gaby dan orang di seberang sana, membicarakan soal rahasia yang membuat Boy tidak percaya. Dan Boy di buat geram saat pria itu mendengar semua rencana Gaby dan orang yang melakukan panggilan bersama gadis itu, ingin melenyapkan istrinya yang sangat ia cintai.


Dengan perasaan yang membuncah, antara kecewa dan marah atas apa yang ia dengar.


Boy berlahan mundur dan meninggalkan kamar Gaby, dengan hati yang kacau bercampur amarah.


Gadis yang ia sayangi ternyata bukanlah adiknya, bahkan tidak ada setetes pun yang sama dengan gadis itu. Yang paling tidak bisa Boy terima di saat ia mengetahui, kalau gadis yang ia sayangi menjadi awal penderita sang mommy.


Boy mengapai gawai-nya dan menghubungi seseorang di seberang sana.


"Halo."


" …


"Aku, ingin kau mencari tahu tentang wanita licik itu dan juga anaknya."


" …


"Hm, aku menunggu sampai malam."

__ADS_1


" …


"Baiklah, lakukan dengan segera.


"Tut."


Boy menutup sambungan teleponnya, saat memberikan tugas kepada anak buahnya di seberang sana.


"Jadi, kalian sudah menipuku selama ini." Gumam Boy yang kini sedang berada di balkon kamar Ruby.


"Kalian, sangatlah licik dan cerdik menyimpan rapat-rapat kelicikan kalian, dan aku tidak akan membiarkan kalian melukai istriku." Ujar Boy dengan tatapan tajam.


*


*


*


"Apa, yang ingin kau rencanakan, nyonya.?" Gaby yang sedang melakukan panggilan bersama nyonya Lezi. Mereka akan berencana untuk melakukan sesuatu untuk menghancurkan pernikahan Boy dan Ruby.


Mereka berencana untuk menjebak kembali Boy, besok malam, denga sebuah butiran obat perangsang. Mereka berencana seakan-akan Boy telah melecehkan adiknya sendiri. Dan nyonya Lezi akan meminta pertanggungjawaban kepada, Boy.


Gaby dan nyonya Lezi, tertawa atas apa yang akan mereka rencanakan, mereka tidak menyadari keberadaan seseorang yang sejak tadi menyaksikan rencana busuk mereka.


"Aku, yakin kali ini rencana kita bakalan berhasil, nyonya." Ujar Gaby dengan tersenyum licik.


" …


"Yah. Dan aku yakin wanita murahan itu akan meninggalkan kakak," hahah." Ujar gadis itu lagi dengan di selingi tawa renyah.


" …


"Baiklah. Aku akan menghubungi, nyonya kalau semuanya rencana kita berhasil."


" …


"Baiklah, semoga berhasil.


"Tut."

__ADS_1


Gaby mengakhiri percakapannya bersama, nyonya Lezi dengan seringai licik.


"Kali ini kau akan menjadi milikku, kakak." Gumamnya dengan tersenyum miring.


*


*


*


" Jadi, dia tidak ada hubungannya dengan keluarga Cole, ternyata. Dan wanita itu membawanya kepada Daddy dan menghancurkan keluarga kami, yang paling penting mereka penyebab mommy mengalami depresi berat dan akhirnya bunuh diri." Seloroh Boy yang sedang membaca hasil laporan anak buahnya melalui pesan.


Boy hanya bisa mengertakkan giginya dan menetralisir amarahnya. Ia tidak ingin membuat Rubynya ketakutan. Boy hanya akan membuat dua wanita itu menderita selamanya.


"Tunggulah, kalian akan mendapatkan balasannya, atas semua perbuatan kalian." Gumam Boy pelan, dengan amarah yang berusaha ia tahan.


Boy kembali melakukan panggilan telepon untuk anak buahnya di seberang sana.


"Aku, ingin kau membaut wanita itu menderita."


" …


"Cari semua bukti kejahatan wanita itu. Dan cari tahu juga keluarga asli gadis itu."


" …


" Hm."


" …


"Tut."


Boy melemparkan ponselnya dan mengusap kasar wajahnya. Ia memasuki kamar tidur, dan segera ikut bergabung bersama istrinya yang masih terlelap.


Boy memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menyusup kan kepalanya ke ceruk leher Ruby.


pria itu ikut memejamkan matanya dan ikut mengarungi mimpi indah bersama sang istri.


"flashback off."

__ADS_1


__ADS_2