
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Ruby menatap wajah tampan yang begitu ia rindukan itu.
"Kenapa, paman begitu jahat padaku,?" lirihnya sambil menitikkan air matanya.
"Paman, pergi dan tidak memberikan kabar padaku, apa paman tau kalau aku begitu merindukan mu," tangisan Ruby pun pecah yang sejak tadi di tahannya.
"Paman, jahat." ujarnya sambil memukuli dada bidang Boy.
"Paman, tidak pernah mencintaiku, …! paman pasti hanya kasihan padaku," lirihnya lagi yang mampu, membuat Boy membeku di tempatnya.
"Apa, paman tau? setiap hari aku menunggu paman, berharap paman akan datang dan memeluk."
"Paman, jahat!!!
"Aku, membencimu, paman.!!! teriaknya dan masih memukuli dada Boy.
Boy menarik Ruby kepelukannya kembali, membenamkan wajah Rubynya di dadanya dan memperat pelukannya sembari menciumi kepala Ruby.
"Maaf." hanya kata maaflah yang mampu Boy ucapkan, dia menggutuk dirinya sendiri karena membuat Rubynya menangis dan terluka, Boy menitikkan air matanya, merasakan sakit pada hatinya seperti ditusuk sebilah pedang saat melihat wanita yang begitu ia cintai itu menangis dan terluka karena perbuatannya.
Boy menarik kedua bahu Ruby menjauh dari dadanya, agar dia bisa melihat wajah sedih itu, yang sialnya semua karena ulahnya.
Boy menangkup kedua pipi Ruby. mengecup kedua mata indah wanitanya yang masih terlihat sisa air mata dan terakhir mengecup bibir Rubynya.
Ruby masih menutup matanya, dia enggan menatap wajah tampan di depannya ini, meskipun hatinya berteriak ingin kembali membenamkan wajahnya di dada nyaman Boy.
"tatap, aku baby," please." lirihnya memohon saat Ruby enggan menatapnya.
"Baby, please." lirihnya kembali.
dengan terpaksa Ruby menatap netra biru kehijau-hijauan milik Boy, Ruby dapat melihat tatapan penyesalan dari Boy dan juga tatapan rindu.
Tanpa sadar Ruby mengulurkan tangannya untuk, mengusap air mata Boy, yang keluar dari mata pria itu.
"Sorry." ucap Boy, dengan suara serak karena kesedihan yang dia tahan.
Ruby mengangkuk dan kembali mengusap air mata Boy, dia juga mengecup kedua mata Boy yang terus mengeluarkan air mata.
"Ternyata, paman mesum, cengeng juga." ejek Ruby dan terkekeh lirih.
Boy menarik tengkuk Ruby dan membenamkan bibirnya di bibir ranum Ruby, Boy menyesap dan melumut bibir yang sudah menjadi candunya itu.
__ADS_1
Mereka saling mengungkapkan rindu, dengan ciuman yang membuat mereka lupa diri, ciuman itu pun semakin lama semakin menjadi, kini Ruby sudah berada di bawah kungkungan, Boy yang masih asyik menyesap bibir ranum Ruby.
Boy melepaskan ciumannya, saat mereka sudah kehabisan nafas, wajah Ruby sudah merona merah, karena terbawa suasana. Boy menempel kening mereka, yang bisa merasakan hawa nafas mereka masing-masing.
Boy mendegus frustasi, saat dia merasakan kepala bawahnya on.
"Baby, mari kita menikahi." bisiknya yang masih mengontrol perasaannya yang sempat ikut terbawa suasana panas tadi.
Ruby yang terkejut hanya mengerjapkan matanya dan memandangi mata Boy, untuk mencari keseriusan disana.
"Menikahlah, denganku, baby."
"Please, menikahlah denganku.!" ucapnya dengan memohon.
Ruby yang tidak bisa berkata-kata, hanya mampu mengangkukkan kepalanya dan tersenyum bahagia.
"Yes," sorak Boy kegirangan, dia kembali mengecupi seluruh wajah cantik Rubynya.
"Thank you, baby." ucapnya tulus dan kembali melumut bibir Ruby.
Ruby melepaskan ciuman Boy, membuat pria di atasnya mengerutkan keningnya.
"Why," tanyanya binggung.
"sial." Boy mengeram frustasi, saat tidak dapat lagi menahan hasratnya, hanya dengan melihat wajah mengemaskan Rubynya.
Boy menjauhkan tubuhnya dari Ruby, dan bangkit.
Boy menarik nafas dan mengusap wajahnya kasar.
dia menatap wajah mengemaskan di bawah sana, yang tersenyum padanya. Boy mengulurkan tangannya, "come on, baby," panggilannya dan langsung mengangkat Ruby keatas bangkuannya dan mengendongnya keluar.
"Paman, turunkan aku," rengek Ruby.
"Aku, bisa jalan sendiri paman.!" rengeknya lagi dengan manja.
"Shutt, diamlah," saut Boy yang mengendong Ruby keluar dan berjalan ke arah dapur.
Ruby mengalungkan kedua tangannya di leher Boy dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, saat semua pelayan di sana menatap mereka.
"paman, turunkan aku,"
__ADS_1
"Aku malu, paman," rengeknya manja.
Boy tak menghiraukan rengekan sang pujaan hatinya itu, dan menatap keselilingnya . dia baru menyadari kalau para pelayan di villanya sedang menyaksikan mereka.
"Keluarlah, dan jangan ada yang masuk, sebelum aku menyuruh kalian." perintah Boy kepada para pelayannya.
mereka pun patuh dengan perintah sang tuan muda, dan meninggalkan villa itu dengan sang tuan dan kekasihnya saja di dalam villa.
Boy kembali melangkah, menuju dapur dan tentu saja masih ada Ruby di gendongannya. dengan memiliki tubuh mungil, membuat Boy mudah mengendongnya kemana-mana.
Boy menurunkan dan mendudukkan Ruby di meja makan, sedangkan dirinya melangkah dapur, memasang afron dan membuka pintu kulkas.
Boy mengeluarkan daging dan juga sayuran yang mudah dan cepat untuk dimasak, karena sejak tadi Rubynya itu merengek karena kelaparan.
"Paman, kapan masakannya matang, aku sudah sangat lapar." rengeknya lagi, dan mendekati Boy yang sedang menumis daging dan sayuran yang di potong-potong kecil tadi. Ruby memeluk pinggang Boy dari belakang dan menyenderkan pipinya di punggung Boy. pria itu hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah manja Rubynya.
kini Ruby menyusup kedepan boy dan mencoba melompat ke gendongan Boy dengan susah payah.
Boy hanya terkekeh dan mengangkat Rubynya kegendongannya dan melanjutkan masakannya.
Kini Ruby seperti anak koala yang tak mau lepas dari gendongan ibunya. Ruby menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu dan sesekali mengecup bahkan mengisap leher Boy.
membuat Boy mengeram tertahan.
"Baby, … jangan mengodaku." ucap Boy frustasi.
Ruby hanya tertawa senang, karena berhasil mengoda paman mesumnya itu.
Boy menurunkan Ruby dan mendudukkannya di dekat kompor. Boy mengambil sedikit masakan di sendok kecil, meniupnya di rasa sudah dingin Boy menyuapkannya kepada Ruby.
"Bagaimana, rasanya,? tanyanya antusias.
Ruby mengunyah masakan yang disuapkan Boy tadi, dia terdiam dan berpikir seperti seorang chef profesional yang menilai masakan anak buahnya.
Ayolah, baby, katakan bagaimana rasanya." tanyanya lagi.
"Hmm, karena aku sudah sangat lapar, maka aku bilang ok." jawab Ruby dengan kedua jempolnya dia ancungkan kepada Boy.
Boy hanya tersenyum dan mengusap rambut Ruby gemas.
"Baiklah, mari kita makan." ajak Boy, dia menurunkan Ruby dan membawa dua porsi masakan hasil olahannya sendiri, ke meja makan.
__ADS_1
Ruby dan Boy, menghabiskan makan siang menjelang petang mereka, dengan keromantisan yang membuat orang yang melihatnya mengiri.