
" B-bandara.?" Lirih Gaby terkejut.
"K-kita kenapa disini.?" Tanya gadis itu gugup.
"Bukankah, kau seharusnya mengantarkan ku, ke apartemen, kak.?" Lanjut lagi.
"Kenapa, kau mengantar aku kesini." Tanyanya lagi dengan wajah binggung dan perasaannya mulai tidak enak.
Bram hanya terdiam, seperti menunggu seseorang. Ia menulikan semua pertanyaan, Gaby padanya. Sedangkan Amber hanya diam menanti, apa yang sebenarnya yang akan di lakukan kekasihnya ini.
"Katakan, padaku. Apa yang kita lakukan disini." Sentak Gaby, yang mulai gusar.
"Bram, sialan. Antarkan aku, ke apartemen, kk.!" Hardik gadis itu yang mulai gelisa.
"DIAM." Bentak Amber lantang.
"Jangan, ikut campur urusanku, wanita sialan." Bentak balik Gaby.
"Dasar, wanita murahan dan rendahan. Ingat kau hanya seorang pelayan yang tidak berhak membentak ku." Hardik gadis itu dengan nada hinaan kepada Amber.
Bram mengertakkan giginya dan rahangnya sudah mengeras. Dia tidak akan terima kekasihnya di hina, apa lagi yang menghina kekasihnya adalah jaalang kecil di belakangnya.
Bram yang ingin mengeluarkan amarahnya terhenti, saat melihat sikap gesit Amber yang kini melayangkan satu tamparan di pipi Gaby dan menarik rambut blonde gadis manis itu.
"Lepaskan. Aku akan melaporkan kalian semua pada kakak nanti." Ringis Gaby kesakitan saat rambut rapinya di tarik sangat keras oleh Amber.
__ADS_1
"Sakit," lirih gadis itu lagi.
"Cih, tidak ada yang akan peduli pada jaalang kecil seperti mu." Bisik Amber dan melepaskan tangannya dari rambut Gaby kasar, sehingga gadis itu terhuyung kedepan.
"Kau, memang pantas di buang jauh-jauh dari kota ini. Atau kau pantasnya di musnahkan dari muka bumi ini. Dasar pelakor kecil yang tidak tau diri." Sarkas Amber.
"Kalian berdua keterlaluan. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengadukan kalian pada, kakak, yang sudah berani berbuat kasar pada adik kesayangannya." Balas Gaby sengit.
Amber terkekeh pelan dan menatap sinis pada gadis di belakangnya. " Mana ada adik kesayangan di buang." Cibir Amber.
"A-apa maksud kamu.?" Dengan nada gugup, Gaby bertanya pada gadis garang di depannya yang menatapnya hina.
"Adik dengan bakat pelakor, memang harusnya di buang jauh-jauh." Sinis Amber.
"I-itu, tidak mungkin. Kakak, tidak mungkin membuang aku." Elak Gaby dengan wajah yang sudah berubah pucat.
"BUKA." Teriak Gaby, sambil memukul-mukul kaca mobil dan ruas pintu mobil.
"Buka, aku mohon." Pinta Gaby dengan wajah yang sudah penuh aliran air mata.
"Kumohon."
"Bram, aku mohon, buka pintunya. Aku tidak ingin pergi jauh dari kakak." Isak gadis itu.
"BUKA, PINTU NYA AKU MOHON." Teriak Gaby lagi.
__ADS_1
"DIAM. Bentak Bram garang.
"Please, buka pintunya." Pinta gadis itu lagi, dengan wajah menyedihkan.
Amber tidak menghiraukan gadis itu, dia memasang headset di telinganya, agar emosinya tidak terpancing.
"Aku, sudah memberikan mu, kesempatan untuk meninggalkan kota ini bukan? Tapi kau memang gadis jaalang yang nekat. Kau masih saja berusaha menganggu hubungan Boy dan Ruby," cih, terima saja akibat dari rencana busukmu itu. Dan satu lagi. Ini, semua adalah rencana, kakak, tersayangmu itu, Boy Raymond Cole." Ucapan Bram terakhir Bram membuat Gaby membeku dan menatap tidak percaya pada Bram.
"I-itu tidak mungkin." Cicitnya.
"Kakak, tidak mungkin membuangku."
"KAU BOHONG."
Kakak, sangat menyayangi ku. Dia tidak mungkin membuangku." Bentak Gaby dengan tangisan yang mulai histeris.
"Kau, tidak bertanya? Kenapa Boy memerintahkan ku, untuk membuang mu, jauh." Sinis Bram dengan tersenyum miring.
Gaby menatap manik abu-abu Bram dengan manik matanya yang sudah mengabur akibat genangan air mata, gadis itupun menggeleng pelan.
Bram terkekeh Sejenak dan kembali menatap gadis imut di belakangnya dengan sorotan tajam.
"Itu, karena Boy sudah mengetahui semua niat mu datang kemari dan sepertinya dia juga sudah mengetahui kalau kau bukan adik sedarah dengannya, alias adik palsu yang mengakibatkan mommy, Boy depresi karena kehadiran mu sehingga dia nekat bunuh diri. Dan rahasia nyonya Lezi dan dirimu sudah di ketahui semua orang. Kalau kau hanya seorang anak palsu dari keluarga Cole."
"I-itu tidak mungkin, … lepaskan aku, biarkan aku bertemu kakak."
__ADS_1
"Kumohon."
"Bram, kumohon."