
Ruby yang kini sedang bersenang-senang, di sebuah mall terbesar di negara K. Ruby mengelilingi mall itu dan membeli beberapa barang yang menurutnya menarik buatnya, dia juga membelikan Amber beberapa gaun yang cantik, Ruby tidak ingin di temani oleh wanita itu, kalau dia tidak mengubah penampilannya. dengan terpaksa Amber mengubah penampilannya, dia membuang jauh pakaian yang sering melekat di tubuh indahnya itu, sekarang Amber, berjalan bersama nyonyanya dengan memakai gaun yang sangat pas di tubuhnya, Amber terlihat sangat manis dan cantik.
"Ya, Tuhan …!!! pekik Ruby kegirangan saat melihat tampilan baru Amber, " kau, terlihat cantik dan manis." Ruby memuji Amber, sambil menelisik penampilan Amber dan di akhiri siulan nakal dari Ruby.
"Anda, berlebihan, nyonya! seharusnya anda tidak perlu memberikan saya pakaian ini nyonya." ujar Amber sambil melirik beberapa, paper bag yang ada di tangannya.
"Diamlah, mulai sekarang, kau harus memakai pakaian seperti ini setiap menemaniku,karena aku tidak suka cara berpakaian mu, yang terlihat seperti robot, dan mulai sekarang, berhentilah memanggilku, nyonya! ok."
"Tap-i,! ucapan Amber terputus saat mendengar selatan dari nyonya.
"Tidak, ada penolakan dan ini perintah, aku tidak mengizinkan mengikutiku lagi, kalau kau menolak, apa, kau mengerti, Amber.?
dan sekarang Ruby dan Amber bersenang-senang bersama, seperti sahabat yang menghabiskan waktu bersama. Ultimatum Ruby yang tidak ingin dibantah.
"Siap, nyon-! Amber tak bisa melanjutkan perkataannya saat mendapatkan pelototan dari Ruby. Amber hanya bisa menarik nafas dan dengan terpaksa menuruti semua perintah Ruby.
"Terus, saya harus memangil anda, siapa.? tanya Amber dengan raut wajah waspada.
"Jangan, sampai anda menyuruhku memanggil nama anda, itu sama saja anda memecat saya, nyonya." Amber bermonolog dalam hati.
"Bagaimana, kalau kau memanggilku, by saja,"ok."
Amber hanya mampu mengangkuk lemah.
"Ya, Tuhan! semoga aku terhindar dari tuan muda arogan. doa Amber dalam hati.
"Sekarang, tersenyumlah, karena kita akan bersenang-senang, dan menghabiskan uang paman mesum itu," cih, bukankah dia memberikan izin untuk menghabiskan uangnya, yang katanya tidak akan pernah habis," ck, dasar sombong." Ruby mengerutut sambil memanyunkan bibirnya, dan sesekali mencebikkan bibir mungilnya.
Amber tersenyum melihat tingkah nyonya yang baru dia tau kalau, nyonyanya itu adalah wanita ceria dan baik hati. Amber merekam semua kegiatan Ruby dan mengirimkannya ke asisten Bram. dia juga mengambil gambarnya sendiri dan memperlihatkan ke asisten Bram.
"Apakah, aku terlihat cantik.? tulis Amber saat mengirimkan gambarnya ke asisten Bram. Amber mengirimkan foto nya yang bergaya mengoda dan menampilkan buah dadanya yang sedikit terbuka dan bibirnya di baut bak Artis iklan lipstik.
Amber tersenyum, setelah mengirimkan gambar dan video untuk tuanya, Amber berniat kembali mendatangi Ruby. tapi matanya langsung melotot saat dia tidak menemukan nyonyanya itu di sana.
__ADS_1
"Dimana, nyonya, Ruby.! gumamnya, saat tidak mendapati Ruby di butik terkenal di dalam mall itu.
Amber pun kesana-kemari, mencari Ruby, tapi nihil dia tidak mendapati nyonyanya itu.
"Kemana, nyonya Ruby." ujar Amber, dengan nada cemas.
Sedangkan, yang di cari sedang melakukan perawat seluruh tubuhnya di sebuah salon kecantikan, yang terdapat di mall tersebut, Ruby ingin mengubah gaya tatanan rambutnya. sekarang Ruby telah melakukan perawatan tubuh, di sebuah ruangan yang cukup besar dan terdapat beberapa wanita seusianya disana. mereka melakukan perawatan sambil bergosib ria.
" Astaga, aku meninggalkan Amber." Ruby terloncat kaget saat mengingat, dia sudah meninggal Amber di butik itu.
"Pasti, dia sibuk mencarimu." gumamnya, dan menggapai ponselnya yang berada di dalam tas kecil mewahnya. Ruby pun lantas menghubungi, Amber dan mengatakan dia ada di salon, yang tak jauh dari butik tadi.
Saat Ruby, meletakkan kembali ponselnya, dia samar-samar mendengar para wanita itu menyebutkan nama Rebecca.
"Rebecca? cicit Ruby.
Ruby, pun berpura-pura menikmati perawatannya sambil menutup matanya, tapi tidak dengan telinganya. yang siap mendengar gosip para wanita itu tentang Rebecca, wanita licik itu.
"Apa, yang kau katakan itu benar? tuan John meninggal, dan semua harta kekayaannya dia berikan, kepada simpanannya." tanya salah satu wanita yang begitu heboh dan penasaran.
"Why ….! tanya Nindy bingung.
Kelly, menengokkan kepalanya, kesana-kemari untuk melihat setuasi di sekitar tempat itu, dia takut tiba-tiba wanita licik itu muncul, dan menghajarnya, seperti beberapa wanita lainnya yang terkena amukan Rebecca.
Nindy, mengikuti temannya, menengokkan kepalanya, alisnya mengerut dan menatap temannya itu binggung.
"Kau, mencari apa.?
"aku, takut wanita itu muncul tiba-tiba." bisik Kelly.
"Wanita, siapa.? tanya Nindy yang tambah penasaran.
"Simpanan, tuan, John." ujar Kelly.
__ADS_1
"Apa, dia semegerikan itu."
"Iya, dia pernah menghajar, simpanan tuan John yang lain," bisik Kelly dan berkedik ngeri.
Ruby hanya diam sambil mendengar dua wanita itu bergosip.
"Jadi, dia mendapatkan korban baru lagi.? tanyanya dalam hati.
"wanita, itu menguasi semua harta, tuan John."
"dia, juga tidak memberikan, sepersen pun buat istri sah dan anak kandung tuan John, dia bahkan mengusir istri sah tuan, John dari mansionnya." bisik Kelly dengan berapi-api.
"dasar, wanita tidak tau malu." pekik Nindy yang emosi mendengar cerita temannya itu.
"pelankan, suaramu ….!!! sentak Kelly dan mengsumbal mulut Nindy dengna tangannya.
"Aku, benci wanita seperti dia,!
"Seharusnya, yang mendapatkan semua harta tuan, John adalah istri dan anaknya,! dasar parasit busuk." geram Nindy, yang tak terima perlakuan Rebecca kepada istri dan anak tuan John.
"Jadi, tuan John meninggal karena apa.?
"yang aku dengar, tuan John di bunuh oleh rekan bisnisnya, dan semua sidik jari dan bukti-bukti tidak di temukan oleh polisi.
"tidak, mungkin! geram Nindy lagi yang tak percaya dengan perkataan Kelly.
"Apanya, tidak mungkin.? Kelly mengerut dahinya penuh tanda tanya.
"tidak, mungkin kalau tuan, John di bunuh oleh rekannya tanpa ada bukti satu pun, apalagi, tuan John adalah pembisnis yang tak memiliki musuh, dan aku yakin pasti ini, ulah wanita itu."
"Husttt," kamu jangan bicara seperti itu." Kelly mengingatkan Nindy.
Nindy, terdiam memikirkan sesuatu yang mengganjal dari kasus tuan, John.
__ADS_1
"Aku, yakin ini semua kelakuan, Rebecca."
batin Ruby.