
" Hm, baiklah."
"Tut"
Panggilan itupun terputus, Bram meletakkan kembali ponselnya di atas nakes di dekat ranjang.
Ia meraba-raba di sebelah sisinya.
Saat ini Bram sedang tidur tengkurap memamerkan tato baru ia buat di seluruh punggungnya. Dan terdapat nama sang kekasih disana. Bram mengangkat kepalanya dan iapun menoleh di bagian sisi tempat tidur, dimana selama tidur dia memeluk wanitanya penuh kasih sayang.
Bram bangkit dari tidurnya dan merenggang tubuhnya dan berjalan kearah kamar mandi.
Bram yang memasuki kamar mandi dan di sambut oleh aroma sabut Amber yang begitu lembut. Bram dengan segera mencuci mukanya dan menggosok gigi rapinya.
Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah pintu kamar.
Bram menatap punggung mulus wanitanya yang hanya memakai bra olahraga dan juga celana training. Bram mendekat dan segera memeluk tubuh indah wanitanya dari belakang. Tidak lupa ia memberi kecupan di tengkuk Amber.
"Kau, sudah bangun.?" Tanya Amber, tanpa melihat kearah Bram, yang masih memeluknya bahkan mengecupi punggung terbukanya.
__ADS_1
"Dear." Lirih Amber, saat tangan nakal Bram menyentuh dua aset berharganya.
"Aku, hanya ingin menyentuhnya, sayang. Ini begitu indah." Ujar Bram, sambil meletakkan kedua tangannya di kedua aset indah Amber sambil bibir tebalnya mengecup bahkan menghisap leher Amber.
"Dear." Lirih Amber kembali dan berusaha menahan desaahannya.
Sedangkan Bram, kini membalikkan tubuh Amber dan langsung menggangkat tubuh Amber naik keatas dekat kompor. tidak lupa pria itu mematikan kompor. Bram kembali menatap Amber yang kini sedang mengigit kencang bibirnya, saat Bram memainkan aset indahnya dengan tangan kanannya dan aset satunya kini sudah berada di mulut pria itu.
"Dear," pekik Amber, saat tangan kiri Bram sudah berada di area terlarangnya.
"No, dear." Mohon Amber, dengan berusaha mempertahankan kesadarannya.
Sedangkan Bram menulikan pekikan dan racauan wanitanya, dia masih asik merasai, menjilati, mengigiti pelan benda itu bahkan pria itu menyesap benda indah itu dengan gemes.
Bram melempaskan benda yang kini bergantungan indah di hadapannya. dia kembali mengecup yang satunya. Bram menyatukan kening mereka. Nafas keduanya kini saling beradu, tatapan mata mereka kini sudah di hiasi dengan tatapan yang menuntun.
Bram mengecup bahkan melumut bibir ranum tebal Amber. Setelah itu dia kembali menempelkan kening mereka kembali.
Dengan suara berat dan serak Bram minta sesuatu kepada sang kekasih.
__ADS_1
Sedangkan penampilan Amber kini sudah berantakan. Dalaman olahraganya kini sudah berada di bawah perut dan memperlihatkan area benda indah nan padat miliknya, bergantung begitu menantang tepat di wajah Bram.
Manik mereka kini bertemu dengan dihiasan hasrat mereka masing-masing.
Bram meneguk salivanya dengan susah, saat menatap penampilan Amber yang begitu terlihat seksi.
"Sepertinya, aku harus cepat menikahimu, sayang."
"Kau, terlalu menggoda dan sayang untuk di biar tanpa di sentuh." Bisik Bram dengan suara serak dan berat.
"Jadi, biarkan aku merasai ini dulu. Kau adalah milikku, sayang dan semua yang ada pada dirimu hanya milikku, apa kau mengerti.!? Bisiknya Kembali.
Amber menatap manik tajam nan teduh Bram, Amber melingkarkan kakinya di pinggang Bram dan mengalunkan kedua tangannya di leher panjang sang kekasih.
Bram mengendong wanitanya dengan bertautan bibir, memasuki kamar mereka.
Bram dan Amber, memutuskan tinggal satu rumah untuk memperkuat hubungan mereka. Ayolah di negara, mereka sudah biasa pasangan kekasih tinggal satu atap tanpa pernikahan.
Bram membaringkan tubuh setengah telanjang Amber, ke atas ranjang dan menindih tubuh kekasihnya itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
__ADS_1
Saat Bram ingin mendaki gunung, tiba-tiba ponselnya berdering mengagalkan niatnya yang ingin memanjat buah mangkal Amber.
"Sial."