Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 41


__ADS_3

"Ayo, baby kita pulang.! ajak Boy dan memandang Alex yang sedari tadi terdiam melihatnya memeluk Ruby.


Ruby mendongak menatap, Boy dan mengangguk, dia menoleh kedepan di mana Alex masih menatapnya tajam.


"Aku, harap kau membereskan, semua barang-barangmu dan meninggalkan perusahaan ini, Karena ini semua milikku dan kau tak berhak berada di sini." ucap Ruby dengan nada dingin.


"Alex, terenyah atas sikap Ruby kepadanya, wanita yang selalu menatapnya penuh cinta itu, kini berubah dengan tatapan benci."


"Hehehe! Alex terkekeh mendengar ucapan Ruby.


"Aku, tidak akan pernah meninggalkan, apa yang sudah menjadi milikku! jadi jangan bermimpi untuk mengusirku Ruby sayang ….!!! ucapan tolak dari Alex mampu membuat Boy meradang.


"Eh …! jangan pernah kau memanggil Rubyku sayang, karena dia wanitaku sekarang." geram Boy, yang ingin memberi pukulan lagi kepada Alex, tapi tangannya di cekal Ruby. Ruby, menggeleng pelan agar tidak melayani, Alex dan menariknya lembut untuk pergi dari sana, tapi tangannya di cekal oleh Alex dan menariknya kasar.


"Ingat, Ruby! kau masih istriku dan aku tak percaya dengan berkas ini, semuanya tidak sah,"ayo ikut aku." Alex terus menarik paksa Ruby, kerena dia tidak terima atas berkas perceraian mereka.


"LEPASKAN BRENGSEK," bugh." Boy yang tak terima wanitanya di sentuh itu,lantas menghantam Alex dengan membabi-buta. Amber membawa nyonya meninggal Boy yang masih memukuli Alex.


Sedang Bram hanya melihat sang tuan muda, melampiaskan amarahnya yang sejak tadi dia tahan.


"aku, peringatkan padamu bajingan, jangan pernah menyentuh Rubyku, dia milikku! hanya milik Boy Raymond Cole, wanita yang kau buang dan kau sakiti, dan aku beruntung menemukannya, disaat yang tepat dan mengobati luka hati dan fisiknya, karena perbuatanmu bajingan!! terimakasih, karena kau membuangnya dan aku mengambilnya, tak kusangka kau membuang berlian demi obsesimu! dan terimakasih, juga karena luka yang kau beri, aku bisa mendapatkan hatinya." semua perkataan Boy, mampu membuat Alex membeku, ada rasa tidak terima, Ruby bersama pria yang ada diatasnya ini.


"Sebelum, aku kehilangan kesabaran, maka menjauhlah dari wanitaku, jangan pernah berharap dia akan kambali padamu, kerena aku tak akan membiarkannya, meskipun dia masih istrimu, aku akan memisahkan kalian! karena Ruby Pattinson hanya milik Boy Raymond Cole," ingat itu baik-baik brengsek." Boy berkata penuh penekanan, kalau Ruby adalah wanitanya yang tak suka di sentuh. setelah memberi pelajaran dan peringatan kepada Alex, Boy pun meninggalkan, Alex yang masih termenung di lantai, dengan penampilan berantakan dan wajah yang babak-belur.


"Aku, tak perduli Ruby tetap istriku! dan aku akan mengambilnya kembali." gumamnya penuh keyakinan, kalau Ruby masih istrinya. Alex bangkit sambil meringis sakit akibat pukulan boy tadi, dia pun mengumpat kasar pria arogan itu.


"Brengsek! umpat Alex yang melihat wajah tampannya hancur.


"Aku, akan membalas mu pria brengsek." ujarnya sambil melangkah keluar dari ballroom tersebut.


*********


"Akhhh! pranggg," Alex yang sudah berada di ruangan kerjanya itu mengamuk dan membanting semau barang yang ada di atas mejanya.


"Ahkk!!! teriaknya mengema di ruangan itu.


"Ruby Pattinson, kau istriku, dan aku tidak akan meninggalkan apa yang sudah menjadi milikku, termaksud dirimu, Ruby sayang." seringai muncul di bibir seksi Alex saat mendapatkan ide untuk merebut semuanya kembali termaksud Ruby.


"Kau, akan tetap menjadi istriku, Ruby Pattinson," hahahah." Rubyyyyy …. Kau istriku.!!!! Teriak Alex seperti orang kesetanan.


********

__ADS_1


Ruby yang sedang menunggu Boy, begitu gusar.


Mata indahnya tetap mengarah ke dalam loby perusahaan sang Daddy, tak lama matanya berbinar, saat melihat sosok yang ditungguinya telah berjalan, dengan gagahnya di dalam sana. Ruby membuka pintu dan turun, berlari kearah Boy, Ruby meloncat keatas tubuh Boy, dan melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Boy dan juga kakinya yang sekarang melingkar di pinggang keras Boy.


Boy yang masih kesal itu, tidak menyadari Ruby yang sedang berlari kearahnya. hampir saja tubuhnya itu terhuyung kebelakang saat Rubynya melompat ke gendongannya.


"Baby, hati-hati! ujar Boy lembut


"Baby, kau kenapa hmm? cup." Boy bertanya lembut dan mengecup rambut Ruby, saat wanitanya itu memeluknya begitu erat. Ruby menjauhkan kepalanya dari ceruk leher Boy, dia menatap wajah Boy dengan terperinci, dia takut wajah tampan paman posesifnya itu terluka.


"Hei …! seru Boy saat Ruby terus menatapnya.


"Apa, ada yang sakit paman? apa pria itu memukulmu? katakan dibagian mana dia memukulmu.? tanyanya dengan wajah khawatir, yang masih berada di gendongan Boy.


"Jangan, khawatir, baby! pria brengsek itu, tidak akan mampu melawanku," ucap Boy sombong.


Ruby tak menjawab dia kembali mengeratkan lingkaran tangannya di leher Boy.


Boy kembali melangkah dengan Ruby masih di gendongannya dan masuk kedalam mobil setelah asisten Bram membukakan pintu mobil untuknya.


Ruby tetap melekat di tubuh Boy seperti anak kangkuru. Boy merasa senang, karena Rubynya begitu manja yang terlihat mengemaskan. Boy meletakkan dagunya di kepala Ruby, sambil menciumi dan menghirup wangi rambut Rubynya.


Sedangkan Ruby sudah terlelap, karena merasa nyamun berada di pangkuan paman posesifnya itu.


"Bram! seru Boy, kepada sang asisten dengan mata yang terpejam.


"Iya tuan! jawab asisten Bram.


"Tetap, awasi pria brengsek itu! jangan sampai dia melakukan hal berbahaya kepada Rubyku." perintah Boy tegas. dia sangat yakin kalau Alex akan melakukan segala cara untuk, menyakiti Rubynya.


"siap tuan." jawab asisten Bram lagi.


"Tenanglah, baby! tidak akan aku biarkan, pria brengsek itu menyakitimu kembali," cup." bisik Boy dan mengecup bibir manis Ruby.


"Oh vitaminku,! gumam boy.


********


Sementara di rumah sakit.


Kini, Rebecca terbaring lemah di salah satu kamar VIP di rumah sakit terbesar di negara K. Rebecca harus kehilangan colan bayinya karena, mengalami pendarahan hebat dan kandungannya tidak dapat di pertahankan.

__ADS_1


Rebecca, hanya seorang diri di rumah sakit, tanpa ada satu sanak keluarganya yang menemaninya, asisten Alex tadi hanya mengantarnya dan menitipkan Rebecca pada salah satu suster.


Mata Rebecca mulai mengerjap berlahan, dan terbuka berlahan, Rebecca mendesis Karena bagian bawahnya terasa sakit, saat dia hendak menggapai minum yang ada di nakes.


"tega, kau Alex Graham! membiarkanku sendiri di rumah sakit ini.! ucapnya kesal, yang menyumpah serapai suaminya.


"stthh" desis saat dia akan bergerak.


"apa, yang terjadi padaku? tanya pada dirinya sendiri.


"bayiku." cicitnya dan meraba perutnya yang merasa ada yang hilang.


"bayiku-! ucapan Rebecca terhenti saat pintu kamar rawat terbuka, dan seorang suster yang di tugaskan untuk menjaga Rebecca.


"syukurlah, nyonya sudah sadar." ujar suster tersebut dengan ramah.


"Anda, membutuhkan sesuatu nyonya? suster itu menawarkan sesuatu kepada Rebecca, tapi Rebecca hanya diam dan menelisik sang suster.


"kau siapa? tanya Rebecca.


"aku, suster yang di tugaskan untuk menjaga anda nyonya.! ujar sang suster.


"Alex Graham, sialan!!!! makinya dalam hati.


"apa, yang terjadi dengan bayiku.? tanya Rebecca dengan perasaan deg-degan.


"semoga, bayiku baik-baik saja.! batinnya sambil mengelus perutnya yang rata.


"maaf, nyonya! bayi anda tidak bisa di selamatkan, karena pendarahan hebat yang anda alami." lapor sang suster dengan wajah prihatin.


"deg"


"bayiku! tidak ..., ini tidak mungkin, bayiku ...!!!


Rebecca yang begitu terpukul saat mendengar kalau bayi dalam kandungannya tidak bisa di pertahankan. Rebecca terus meraung dan mengamuk di kamar rawatnya. sang suster itupun, memencet tombol yang ada diatas ranjang pasien, dia meminta bantuan, karena tidak sanggup menganangi Rebecca sediri yang terus meraung dan sesekali menyumpahi seseorang.


"aku, akan membalas mu, Ruby sialan ...!!! aku akan membunuhmu wanita murahan."


"akhhh." Ruby ...!!! aku akan membunuhmu."


Rebecca terus saja meraung dan mengamuk.

__ADS_1


sang dokter terpaksa memberikan suntikan penenang buat Rebecca.


"aku akan menghabisimu, Ruby." gumam Rebecca di sisa kesadarannya.


__ADS_2