
"Sayang, kau sedang apa.?" Ruby bertanya pada suaminya saat pria yang baru dua hari menjadi suaminya itu merenung di balkon. Ruby menyelipkan kedua tangan mungilnya di kedua sisi pinggang keras Boy dan memeluknya erat, menyesupkan kepalanya di punggung kokoh Boy.
Boy mengusap-usap, telapak tangan mungil Ruby yang berada di perutnya.
"Sayang." Bisik Ruby di balik punggung Boy.
"Hum." Sahut Boy dan menarik Ruby kearah depan.
Ruby mendongakkan kepalanya dan menatap sendu manik biru suaminya itu.
Ada rasa kesedihan dan juga kekecewaan terpancar dari mata Boy. Ruby kembali menyesupkan wajahnya ke dalam dada bidang Boy, menghirup aroma maskulin kesukaannya.
"Katakan, padaku. Apa yang sedang kau pikirkan.?" Ruby bertanya di balik dada bidang suaminya.
Boy terdengar menghela nafas panjang, setelah itu membuangnya secara berlahan, sambil mengeratkan pelukannya kepada istri tercintanya.
Boy mengecup puncak kepala, Ruby dan menghirup aroma manis mawar di rambut istri cantiknya.
"Katakan padaku, sayang. Apa yang menganggu fikiran mu.?" Ruby mendongakkan, mengecup sekilas dagu lancip suaminya yang di tumbuhi tunas jambang yang tertata rapi.
"Hanya masalah wanita licik itu dan Gaby." Jawab Boy, membalas kecupan istrinya di bibir ranum Ruby.
"Wanita licik dan Gaby.?" Cicit Ruby dengan tatapan penuh tanda tanya dan alis yang menyengit tajam.
__ADS_1
"Hu'um. Istri lain dari Daddy, ibu dari Gaby. Wanita yang sudah menghancurkan kebahagian keluarga kami. Wanita yang sudah membuat mommy pergi meninggalkan ku." Sahut Boy dengan wajah yang terlihat sedih dan berubah marah.
Ruby mengeratkan pelukannya di pinggang keras, boy. Dia ikut merasakan kesedihan atas apa yang suaminya itu alami selama ini.
Ruby memundurkan wajah dan tangannya terangkat membingkai wajah rupawan suaminya. Wanita itu mengecup lama dan penuh sayang kening Boy, menyalurkan kekuatan kepada suaminya. Boy memejamkan matanya saat kecupan lembut dan hangat yang ia terima dari sang istri.
"Apa, yang kau lakukan pada wanita dan adik mu itu." Seru Ruby sambil mengelus-elus wajah suaminya.
Boy mendekatkan telapak tangan Ruby kearah bibirnya dan mengecupnya sebentar.
Ruby menunggu jawaban Boy dengan wajah penasaran. Wanita itu begitu ingin tahu kenapa tiba-tiba, suaminya itu menginginkan adiknya pergi.
"Mengirimnya, kepenjara dan soal Gaby, aku sudah mengembalikannya kepada keluarga aslinya." Jawab Boy dengan raut wajah yang menerawang ke depan dengan tatapan tajam.
"Aku, hanya memberikan balasan atas perbuatan jahat mereka. Yang lebih penting, mereka tidak akan pernah bisa menganggu hubungan kita dan merencanakan sesuatu yang akan membuat kita berpisah." Seloroh pria itu dengan nada dingin.
"M-maksud kamu apa, sayang.?"
"Mereka merencanakan memisahkan kita.!"
"A-apa? Tapi mengapa mereka ingin memisahkan kita.?"
"Karena, kekuasaan dan obsesi semata, baby.!"
__ADS_1
"Tapi, mengapa mereka ingin memisahkan kita? Bukankah kita sudah menjadi satu keluarga. Dan juga bukankah Gaby adalah adik kamu.?"
"Mereka, bukan keluarga ku. Mereka hanya penipu yang ingin menghancurkan, kebahagiaan ku, baby."
"Benarkah.?"
"Hu'um."
"Soal, Gaby dia bukanlah adikku. Ternyata selama ini aku sudah tertipu oleh wanita licik itu. Dia hanya adik yang menyebabkan aku harus kehilangan, mommy." Tatapan Boy, menajam kedepan dengan deru nafas yang sudah mulai naik turun.
Ruby kembali membingkai wajah suaminya yang kini berubah merah padam akibat amarah yang membelenggunya. Ruby mengecup kedua mata suaminya yang mulai meneteskan air mata.
"Tenanglah, bukankah sudah ada aku? Yang akan selalu memberikan mu, kebahagiaan, sayang. Aku janji tidak akan meninggalkan mu dan aku berjanji akan selalu berada di sisimu. Kau adalah suami dan juga cintaku sekarang, kau juga tidak sendiri, ada aku dan calon anak-anak kita nanti. Kita akan membangun keluarga yang bahagia dan penuh kehangatan." Ucap Ruby dengan tatapan tulus yang ia berikan kepada suaminya. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang.
Boy tersenyum, apa yang dikatakan sang istri ada benarnya. Sekarang yang aharus ia pikirkan adalah masa depan bersama istri dan calon anak-anak mereka.
Boy menundukkan wajahnya dengan mendekatkan wajahnya kepada Ruby, dan detik berikutnya bibir mereka kini sudah saling membelit dan menyesap.
Boy, mengangkat tubuh bungil Ruby dalam aatu tarikan saja dan berjalan ke dalam kamar.
"Baiklah, baby. Mari kita mencetak anak yang banyak." Pungkas Boy sambi memandangi wajah cantik istrinya yang sekarang berada di bawah kuasanya.
Terjadilah malam panjang dan panas, untuk dua sejoli itu untuk mencapai puncak mahligai kenikmatan.
__ADS_1