
Sementara di lantai atas di dalam kamar, sepasang pengantin baru itu, kini saling menyentuh satu sama lain.
Bibir mereka kini saling menyatu, saling menyesap, melumut dan mengecap. lidah mereka kini saling bermain di rongga mulut mereka.
Boy membuka satu persatu anak kancing kemejanya dan melempar kain itu kesembarangan arah dan kini tangan kekarnya melempaskan ring yang melilit di pinggangnya dan juga melemparkan kain berwarna hitam itu. kini dada bidang dan punggung kokoh itu terpampang di depan Ruby yang sudah merona sejak tadi.
Ruby sendiri kini sudah poolos tanpa satu helai kain pun dan menambah rasa gugup saat Boy menyentuh salah satu aset di dadanya yang sangat pas di pergelangan suaminya itu.
Boy menatap wajah istrinya yang sudah merah karena malu atau sudah terbawa suasana.
Boy kembali menyatukan bibir mereka dengan tangan kekarnya menari-nari di atas kulit mulus dan lembut istrinya. deesahann lolos dari mulut Ruby saat Boy bermain di inti pusat tubuhnya, Ruby meremas pelan rambut Boy dan sesekali menariknya saat suaminya itu sengaja mempermainkannya, Boy kembali keatas tubuh Ruby dan menggapai salah satu gundukan istrinya dan merasainya, dan menyesapnya pelan dan lembut dan sesekali menggigit butiran kecil dengan warna pink itu.
Ruby yang sudah mulai tidak tahan hanya bisa memejamkan matanya dan mengigit kecil bibir bawahnya.
"Apa, kau siap, baby.?" tanya Boy, dengan suara berat dan serak, dadanya pun sudah naik-turun karena gairahnya.
__ADS_1
Ruby hanya mengangguk kecil dengan rona wajah yang semakin memerah.
Boy sudah siap untuk melakukan penyatuan pada inti istrinya. meskipun ada keraguan di dalam wajahnya saat menatap alat berharganya yang begitu tinggi besar dan menjulang.
Karena sudah di hadapkan dengan gaiirah, Boy mulai melakukan tautan tubuh mereka secara perlahan.
Ruby memekik, antar nikmatt dan sakit saat benda berharga Boy menerobos inti tubuhnya dengan sempurna.
Boy mengertakkan giginya dan mengeraskan tulang rahangnya, saat merasakan benda terlarangnya begitu sesak didalam sana dan tempat asing ini begitu nikmatt. dengan mengikuti laruni kelaki-lakiannya, Boy mulai mengerakkan pinggangnya secara perlahan. dan dia kembali mengeerang saat merasakan begitu dahsyatnya bendanya saat berada di dalam pusat tubuh istrinya.
Lama- kelamaan, heetakkan itu semakin menggila dan membuat pasangan pengantin baru itu bergantian untuk mengeluarkan suara nikmaat mereka.
*
*
__ADS_1
*
"Dear." panggil seorang wanita yang berjalan dari arah dapur. Amber dengan segera berlari kearah sang kekasih yang seharian tidak bertemu dengannya.
Bram dengan senyum lembutnya dan merentangkan tangannya saat melihat kekasihnya itu berlari kearahnya.
"Miss you." lirih Amber di ceruk leher Bram. kini Amber sudah berada di gendongan Bram.
"Miss you too, sayang." balasnya dan mengecup bibir wanitanya yang sedang menatap dirinya. dan mereka pun saling bercumbu sambil berjalan kearah sofa.
Amber melempaskan tauatan bibir mereka, wanita itu menelisik wajah lelah prianya dan wanita itu mengusap-usap wajah lelah kekasihnya.
Amber turun dari pangkuan Bram dan duduk di sebelah prianya itu, setelahnya dia menarik lengan Bram dan merebahkan tubuh lelah kekasihnya di baha mulusnya.
Bram tersenyum, saat tangan Amber membelai rambut yang mulai memanjang itu. Bram menatap wajah cantik Amber dari bawah dan Amber juga menatap Bram dari atas. Amber menunduk wajahnya dan melu mut sebentar bibir Bram. dan kembali menegakkan lehernya, setelah itu dia kembali mengusap-usap rambut Bram sambil menonton TV. Bram mengambil tangan Amber dan meletakkannya di bibirnya dan mengecup sayang telapak tangan Amber.
__ADS_1
"Love you." ucapnya lembut.
"I love you too, dear." balas Amber.