Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 112


__ADS_3

"pagi, baby." bisik Boy tepat di telinga Ruby dan meninggalkan kecupan setelah.


Ruby mengerjap dan meleguh, sehingga selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot kebawah, memperlihatkan buah dada yang berbiji pink itu.


Boy meneguk air ludahnya, saat netranya di suguhkan oleh buah yang sekarang menjadi, buah kesukaannya.


Ruby yang belum sadar akan keadaannya itu, langsung terkesiap saat, tangan kekar sang suami meremat salah satu buah indah nan manis itu.


Boy menggenggam, meremas dan meremat lembut buah indah di hadapannya. Boy memajukan wajahnya dan meletakkan wajahnya di antara kedua buah yang pas di genggamannya itu. Boy memainkan biji berwarna pink yang sudah mengeras, sesekali ia memainkan biji buah itu dengan jarinya. dan buah satunya ia menggunakan Indra pengecap nya untuk merasai manis dan niikmatnya dua buah indah di depannya.


Ruby hanya bisa mengeerang tertahan, sambil menjambak rambut suaminya lembut. suara indah yang keluar dari mulutnya, membuat sang suami bertambah panaas oleh gairah di pagi hari.


Boy, menyusuri sejengkal demi sejengkal kulit lembut sang istri dengan mulutnya. Boy menjeda cumbuannya dan menatap pusat tubuh sang istri dengan rasa kagum dan penuh gaiirah. Boy mendekat wajahnya di pusat inti sang istri dan mulai mencumbunya.


Ruby hanya bisa terkesiap dan memekik dengan kepalanya mendongak keatas, jemari lembutnya meremas kain yang membungkus ranjang king size mereka.


Boy kembali keaatas dan bersiap untuk memasuki inti lembut dari mahluk mengemaskan di bawahnya.


mereka megeerang bersama saat tautan tubuh mereka menyatu. dada mereka naik-turun dan wajah keduanya sudah berubah merah padam karena gairaah yang menguasi keduanya pagi.


Boy mulai mengerakkan pelan pinggangnya dan lama-kelamaan gerakan tubuhnya semakin kuat dan semakin dalam.

__ADS_1


membuat mahkluk mengemaskan di bawah kuasainya tidak mampu berkutik.


Terjadilah pagi cerah dan panas bagi ke dua pasangan suami-istri itu.


*


*


*


"Selamat pagi nak, Gaby." mommy menyapa Gaby dengan lembut dan ramah. saat gadis itu baru tiba di ruang makan untuk sarapan bersama.


"panggil, mommy, sayang. sekarang kau adalah keluarga kami jadi jangan sungkan, ok." ujar mommy lembut dan mengusap telapak tangan Gaby.


Gaby hanya bisa terharu atas sikap lembut sang mommy, seumur-umur baru kali ini ada seorang ibu yang begitu lembut dan tulus, berkata padanya, biasanya dia akan mendapatkan hina, cacian, bahkan kekerasan dari ibu palsunya, nyonya Lezi.


"i-iya, mommy." jawab Gaby dengan mata berkaca-kaca dan ucapan gugup.


"Ayo, sarapan, sayang. kau mau makan apa.?" tawar mommy dengan penuh kasih sayang.


Gaby kembali lagi tersentuh atas kelembutan, mommy Ruby.

__ADS_1


Gaby, begitu iri atas kehidupan dan juga kasih sayang yang di dapatkan Ruby. terlahir dari kedua orang tua terpandai, seorang ibu yang begitu penyayang, dan terakhir mendapatkan seorang suami yang begitu menyayanginya.


" Tidak, bisakah dia berbagi, kebahagiaannya padaku? aku hanya meminta kakak, Boy untukku. bukankah dia sudah mempunyai segalanya.?" gumam Gaby dalam hati.


"Nak, ayo makan." sela sang mommy, membuyarkan lamunan egois Gaby.


Gaby hanya mengangguk dan mulai memakan sarapannya. Gaby menautkan alisnya saat menyadari sesuatu. dan dia menatap keseliling mansion. mommy yang melihat raut wajah binggung Gaby bertanya


"Ada apa, nak.?" tanya sang mommy.


"hm, kakak tidak ikut sarapan, mom.?" jawab Gaby, dengan memandangi anak tangga yang ada di depannya.


"Mereka, sarapan di dalam kamar, sayang. maklum pengantin baru." ujar sang mommy sambil terkekeh.


"Di kamar.?"


"Iya, katanya mereka ingin menghabiskan waktu di dalam kamar." saut mommy.


"ternyata, kakak sudah tidak menyayangi ku lagi. dia bahkan tidak menghiraukan ku di sini, dia hanya sibuk berduaan bersama istrinya." monolog Gaby dan iapun termenung dan hanya mengaduk-aduk sarapannya.


Boy

__ADS_1


__ADS_2