
Terlihat Boy dengan wajah panik sedang mondar-mandir di depan ranjang. terkadang terdengar nafas berat dan raut wajah kekhawatiran. Boy yang baru saja mendapatkan panggilan dari sang Daddy, yang mengatakan kalau sang adik tersayangnya menyusulnya kemari dan belum memberi kabar satu pun.
Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, tentu saja Boy begitu panik dan khawatir.
"kau, dimana girl." Boy bergumam lirih dan kembali menghubungi seseorang di seberang sana.
"Sial." umpat Boy frustasi.
"Gaby, kamu dimana." gumanya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Clek." pintu kamar mandi terbuka dan terlihat sosok wanitanya disana dengan penampilan segar dengan rambut basah tergurai indah.
dan handuk yang melilit tubuh mungilnya.
Boy meneguk air ludahnya kasar, saat pemandangan di depannya begitu membuat lanuri kelaki-lakiannya meronta.
Ruby mendekati suaminya dengan seutas senyum yang mampu membuat perasaan Boy tenang.
Boy merentangkan tangannya saat Ruby lebih mendekat padanya.
Boy meraup tubuh mungil istrinya. dan menghirup rakus wangi lembut yang berasal dari tubuh dan rambut kecoklatan Ruby.
"Ada apa." tanya Ruby dengan menaiki kedua alisnya keatas.
Boy menghela kembali nafas beratnya dan mengeratkan pelukannya kepada istrinya.
"Belum ada kabar dari Gaby, sayang." jawab Boy sendu.
Ruby menggerai pelukannya dan mendongak menatap manik sang suami yang bisa membuatnya terlena.
__ADS_1
"Sabar, aku yakin adik paman pasti baik-baik saja." Ruby mencoba menghibur sang suami yang sangat terlihat khawatir.
"semoga saja, baby." ujarnya sambil mengecup puncak kepala Ruby.
"Jadi, hari ini kita pulang.?"
"Tapi aku ingin bersenang-senang bersama mu, baby." rengek Boy, saat percobaannya yang pertama kali gagal total.
"Kita, masih bisa melakukannya di mansion, paman mesum-ku." terdengar kekeh Ruby saat melihat wajah merenggut suaminya.
"tapi, aku ingin sekarang, baby." pinta Boy, dengan tangannya mulai bermain-main di atas tubuh Ruby yang masih terbungkus sehelai handuk itu.
"p-paman." suara lirihan tertahan keluar dari mulut Ruby. ketika sang suami meremat dua gundukan mengemaskannya. dan mulut suaminya sudah berada di ceruk leher panjangnya.
*
*
*
"apa dia sudah bangun.?" suara berat pria mengejutkan dua orang bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga gadis di dalam kamar itu.
"Belum tuan." jawab sang anak buah.
"Buka." perintahnya.
pintu kamar itupun terbuka lebar, memperlihatkan seorang gadis cantik sedang terbaring di atas ranjang. gadis itu masih betah terlelelap saat semalam dia begitu kelelahan.
niat hati ingin mengagalkan pernikahan sang kakak, tapi dia harus mengalami penyekapan yang dilakukan oleh Bram, asisten kakaknya sendiri.
__ADS_1
Bram menyoroti tubuh mungil di depannya dengan sangat lekat dan intens.
seulas senyum terbit di bibirnya saat gadis di depannya mulai mengerjap dan tidak lama kemudian mata gadis itu terbuka lebar.
"Selamat pagi gadis jaalang kecil." sapaan Bram membuat Gaby tersendat kaget dan seketika gadis itu menoleh kearahnya.
setelah Gaby tersadar dari keadaan yang dialaminya, diapun segera bangkit.
"stttt." ringisnya saat kepalanya berdenyut nyeri.
Gaby menelisik kamar yang di tempatinya sekarang dengan tatapan binggung.
"Aku, dimana." tanyanya dengan lirih. dan masih menatap sekitarnya.
"ini, dimana.?" tanyanya dengan raut khawatir.
"kakak, Boy." sentak Gaby tiba-tiba.
Gaby beranjak dari ranjang dan segera berjalan kearah pintu, tanpa melirik Bram yang sejak tadi memperhatikannya.
"Buka pintunya." teriak Gaby.
"Buka pintunya, sialan." maki Gaby dan menghunus Bram dengan tatapan tajamnya.
"Aku, akan mengatakan pada kakak, Boy. kalau kau sudah berani menculikku." pekik Gaby.
Bram hanya tersenyum sinis dan berjalan mendekati Gaby.
"Coba, saja." jawab Bram santai.
__ADS_1
"Bagaimana reaksi Boy, kalau dia mengetahui fakta yang sebenarnya, kalau kau bukan adiknya tapi hanya adik palsunya, yang menjadi penyebab ibunya meninggal." ucapan Bram membuat tubuh Gaby membeku dan wajahnya tiba-tiba memucat.