Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 32


__ADS_3

Alex menyesuri koridor rumah sakit dengan berlari.


Rasa cemas dan khawatir yang dia rasakan sekarang. saat mendapatkan panggilan telepon dari salah satu pelayan di mansion, yang mengatakan kalau sang mama jatuh dari tangga di lantai dua. umpatan dan makian beberapa kali Alex terima, saat menabrak orang-orang yang yang melewati koridor rumah sakit, Alex tak menghiraukan umpat mereka, Alex terus berlari mencari keberadaan sang mama. Hingga dari jauh Alex melihat pelayan dan sopir yang membawa sang mama kerumah sakit. dengan langkah tergesa Alex mendekati ruangan ICU itu.


"Apa yang terjadi.?" dengan nafas yang masih tersengal-sengal Alex bertanya kepada salah satu pelayan di mansion.


"Kami, menemuka nyonya terkapar di lantai dasar tuan, dan kondisi nyonya sangat mengenaskan."


"Kemungkinan nyonya jatuh dari tangga di lantai dua tuan." Alex mendengarkan semua informasi dari pelayannya itu.


Alex mendudukkan tubuh tingginya di ruang tunggu, perasaan begitu kacau dan juga kini penampilannya berantakan. Alex tak mempedulikan penampilannya, yang sekarang Alex pikirkan keadaan sang mama, seseorang yang satu-satunya Alex punya di dunia ini. Pelayan dan sopir tadi kini sudah pergi setelah pamit dengan tuan mereka.


Alex beberapa kali mondar-mandir dengan perasaan gusar di depan ruangan ICU, dia begitu mencemaskan keadaan sang mama tercinta, bukankah tadi pagi mamanya baik-baik saja, dan sempat bersitegang dengan Rebecca.


"Rebecca." gumam Alex


"Dimana perempuan itu.? tanyanya pada dirinya sendiri.


"Aku,tidak akan melepaskan mu Rebecca …!! kalau kau yang melakukan ini pada mamaku.!" geram Alex dan mengepalkan tangannya


Tidak lama pintu ruangan ICU, itu terbuka dan sang dokter keluar dengan wajah yang penuh penyesalan.


Alex lantas mendekati sang dokter dan menanyai kondisi sang mama. Sang dokter menghela napas sesaat, dan menatap alex penuh prihatin.


" Bagaimana, kondisi mama saya dokter.? Tanya Alex dengan perasaan takut.


"Maaf, tuan kami tidak bisa menyelamatkan nyawa mama anda, pasien terlalu banyak mengeluarkan darah, dan usia mama anda tidak mendukung keselamatan mama anda," jadi, mama anda tidak bisa di selamatkan. sang dokter menerangkan semua kondisi mama Alex yang tidak bisa di selamatkan.


Dunia Alex seakan, hancur mendengar kematian sang mama yang begitu tiba-tiba. Alex seakan kehilangan keseimbangan badannya, kakinya begitu lemas bagai tak bertulang, dengan tangis tertahan Alex merosot kelantai dan tertunduk guna menyembunyikan kesedihan yang di rasakan alex sekarang "mama." lirihnya tercekat saat dirasakan begitu sesak di dada.alex bangkit dan memasuki ruangan itu, Alex mendekati sang mama yang sudah tak bernyawa itu. di tatapnya wajah mamanya yang pucat, air mata Alex terus membanjirinya pipinya, Alex menutup mukanya dengan tangis yang kini terdengar, dia terduduk lemas di lantai samping mayat mamanya, Alex menangis sambil menyambak rambutnya yang mulai memanjang itu, Alex bangkit dan memeluk mamanya dan meraung sejadi-jadinya.


*


*


*


Kini Alex sedang berada di balkon kamarnya, dengan minuman dan gumpalan asap rokok yang keluar dari mulut Alex. Sudah 1minggu Alex menyendiri di dalam kamarnya itu, merenungi kepergian orang-orang yang Alex cintai. sudah 1 Minggu juga Alex tak ke kantor, semua uruasan kantor Alex serahkan kepada Rebecca dan asistennya. Penampilannya pun tak Alex hiraukan, wajah yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus dan rambutnya yang sekarang sudah memanjang, tapi itu semua tak mengurangi kadar ketampanan Alex.

__ADS_1


"Mam, maafkan aku belum bisa membahagiakanmu dan kita belum bisa menikmati semua yang kita dapatkan." lirih Alex dengan kepala yang mengarah ke atas langit.


"Hah! Semoga kau bahagia disana ,mam." ucap Alex sambil menitikkan air mata sedihnya.


Alex menatap pintu kamarnya, saat mendengar kotakan pintu yang cukup keras dan Alex tau siapa yang melakukannya.


Sedangkan Rebecca terus saja mengetok pintu Alex, kadang-kadang dia juga mengobrak pintu itu, saat Alex tak kunjung membuka pintu.


"Alex …, buka pintunya!!! teriak Rebecca sambil menendang pintu itu.


"Buka … Lex!!! teriaknya lagi.


"Lex … Alex …!!!


"Aku, mau bicara padamu, ini sangat penting, Lex ….!!! Teriaknya lagi. "Ck! dasar Alex sialan." umpatnya sambil menendang pintu kamar itu kuat.


"Clek." Alex membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar, tanpa menghiraukan Rebecca.


"Ayolah Lex …! kenapa kau, masih menangis mamamu yang sudah pergi.!"


"Lex …, bangkitlah!!!


"Jadi, kita harus bagaimana mana Lex.?"


"Mereka, terus menanyai keberadaan Ruby." ujar Rebecca dengan gusar.


Alex yang hanya diam mendengary semua keluhan Rebecca sambil meminum minumnya di bar mini di mansion itu.


"Habisi saja semuanya." ucap Alex dingin sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar yang di tempati Ruby.


Rebecca yang tak dihiraukan, hanya mendegus kesal, dan masih menyesap minuman merah itu.


"Seharusnya, kau bersyukur Lex, karena aku tak menghabisimu, seperti mama mu itu."


"Karena, kau sangat mengoda dan aku masih ingin menikmati tubuhmu. ujar Rebecca sambil terkekeh dan menyesap minumannya.


"Baiklah, mari kita habisi mereka." gumam Rebecca dengan seregai licik.

__ADS_1


*


*


*


Sementara di rumah sakit di negara A.


Kini Ruby di nyatakan pulih dan dapat berjalan lagi setelah pasca operasi dan beberapa terapi yang di jalani Ruby. Ruby tak harus memakai kursi roda lagi, meskipun harus dengan bantuan tongkat, tapi Ruby merasa senang, setidaknya dia dapat berjalan lagi.


"Hati-hati, baby." pekik Boy, saat Ruby berjalan sendiri dengan tongkat di sela lengan tangan kanannya.


"Tak apa paman, aku bisa." ucap Ruby tersenyum manis kearah Boy yang sedang menunggunya di samping mobil. Hari ini Ruby di perbolehkan pulang setelah sang dokter menyakinkan sang tuan muda kalau kondisi Ruby sudah pulih dan stabil. Begitu juga dengan Ruby yang setiap hari merengek kepada Boy untuk pulang ,karena jujur Ruby sudah bosan dan muak berada di rumah sakit.


Kini mobil mewah Alex melintasi jalanan kota A yang lumayan macet. untuk menuju ke villa Boy yang berada cukup jauh dari hiruk-pikuk kota.


"Kita, akan kemana paman.?" tanya Ruby binggung, saat mobil yang mereka tumpangi melintasi hutan dan bukit.


"Kau, akan tinggal di villaku, baby." jawab Boy yang terus memandangi wajah cantik Ruby.


"Tak apakan sementara kau tinggal di villa.! ucap boy sambil menggenggam tangan mungil Ruby dan mengecupi. Ruby hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya kesamping, Ruby malu akan sikap Boy yang begitu manis menurut Ruby.


Tak lama mobil mereka memasuki gerbang tinggi yang terbuka otomatis. Ruby menatap takjub pemandangan di sekitar villa milik Boy itu.


"Kau suka baby? bisik Boy tepat di telinga Ruby


"Suka." jawab Ruby sambil menganggukkan kepalanya dan masih menikmati pemandangan di sekitar villa.


"ayo masuk, baby! udara di luar dingin dan tidak baik buat kamu." ujar Boy dan meraup tubuh mungil Ruby dan membawanya masuk ke dalam villa, sedangkan Ruby hanya bisa menyembunyikan wajahnya karena malu di dada boy.


"istirahatlah, baby," ucap Boy lembut.


"terimakasih," jawab Ruby tersenyum tulus kepada Boy.


"hm! tidurlah, aku akan menjagamu disini," cup"


tak lama Ruby pun terlelap, karena lelah mengikuti terapi terakhirnya di rumah sakit tadi.

__ADS_1


dan Boy masih setia di samping Rubynya.


"cup." semoga kau mimpi indah baby." setelah mengecup kening Ruby, boy pun keluar dari kamar Ruby, untuk memeriksa beberapa berkas yang di bawa asisten Bram tadi.


__ADS_2