
Amber dan Bram terus mencari Ruby, mereka bahkan berpencar untuk mencari keberadaan Ruby.
Air danau yang kerah dan gelap menyulitkan mereka untuk menemukan Ruby.
Amber terus menyelam hingga hampir kedasar danau. tapi tak ada tanda-tanda Ruby berada di sana.
Bram menghampiri Amber dan menggeleng di dalam air.
Amber yang tidak menyerah, terus saja menyelam untuk mencari Ruby.
Hingga akhirnya netranya melihat seluit Ruby, yang hampir menyentuh dasar danau. dengan segera Bram dan Amber menghampiri Ruby.
Sedangkan di daratan. Boy yang sejak tadi meraung dan mengamuk. perasaannya begitu campur aduk. perasaan khawatir, takut , marah dan emosi bercampur menjadi satu.
Apalagi sudah hampir setengah jam Amber dan Bram di dalam danau, dan belum ada tanda-tanda mereka menemukan Rubynya.
Boy yang siap untuk melompat itupun, di cegah oleh salah satu bodyguard setia Boy.
"Jangan, tuan," cegahnya.
"Lepaskan, aku brengsek," bentak Boy.
"Tidak, tuan. Anda tidak bisa berenang, nanti siapa yang akan menyelamatkan Anda." ujar bodyguard itu, membuat Boy hanya mampu berteriak frustasi.
"RUBY, … BABY!!!! teriaknya meraung-raung.
Boy tidak bisa berbuat apapun, karena dia sendiripun tak bisa berenang. dia hanya bisa mengeruruti dirinya sendiri, karena tidak becus melindungi kekasihnya dan tidak mampu menyelamatkan Rubynya itu.
"Kenapa, mereka lama sekali," gumamnya dengan gusar.
__ADS_1
Tak lama Boy melihat Amber muncul dari air dan segera melompat keatas jembatan. dia mengatur nafasnya.
"Bagaimana, mana Rubyku," tanya Boy tidak sabaran.
"Amber, mana Rubyku,!!! pekik Boy.
tiba-tiba Bram muncul dengan Ruby di rangkulan tangan kirinya.
"Baby, !!!! teriak Boy.
dengan segera Boy, meraih tubuh lemas dan tak berdaya Ruby.
Dengan tangan gemetar Boy memeriksa keadaan Ruby, dan melakukan pertolongan pertama.
"Baby, bangun, … baby," ucapnya lirih, sambil menekan dada Ruby dan memberika nafas buatan buat Rubynya.
"Baby, … bangunlah, … baby … bangun!!! racau Boy saat tak mendapatkan respon apapun dari Ruby.
"Baby, … please bangunlah, ….!!! bisik Boy, dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.
"Please, … bangunlah,!!!
"Bangunlah, … baby!!!
"BABY, … BANGUNLAH!!! teriak Boy frustasi, saat tidak mendapatkan respon dari Ruby.
denyut nadi Ruby pun sudah melemah, dan seluruh badan dan wajahnya sudah pucat dan dingin.
"BABY, !!!! teriak Boy, histeris.
__ADS_1
Amber yang sejak tadi mengusap-usap telapak kaki dan tangan Ruby. dia bahkan sudah menangis. dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai sesuatu terjadi pada Ruby.
Bram memeluk kekasihnya yang terlihat kacau, dia menenangkan sang kekasih yang menangis dalam diam.
"Ruby, ….!! lirihnya dan menatap Bram sedih.
"Baby, bangunlah, … baby, ….!!! Boy sudah terisak dengan keadaan yang tak kalah kacaunya.
"PANGGIL DOKTER!!! teriak Boy.
Bodyguard itupun segera, menghubungi dokter terdekat di daerah villa itu.
*
*
*
*
"Hahahah, akhirnya dia mati juga," sorak Rebecca di dalam kamarnya.
"Oh, Tuhan. aku begitu bahagia, akhirnya Ruby wanita cacat itu mati, …" hahaha." tawa bahagia Rebecca mengema di dalam kamarnya.
"Selamat tinggal, Ruby Pattinson. semoga kau bertemu dengan mantan suamimu disana," hahahah." tawa bahagia Rebecca, tak pernah hilang dari wajahnya.
"Oh, Ruby! selamat jalan sahabat,"
"Semoga, kau selalu bahagia di sana," hahahh." Rebecca terus saja tertawa, seperti orang tidak waras.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa melenyapkan wanita sialan itu. sekarang giliran mendapatkan tuan, Boy Raymond Cole," gumamnya dan tersenyum miring.