
Ruangan operasi itu terbuka, menandakan operasi telah selesai, yang telah memakan waktu 2 jam lebih. Boy mendekati Ruby yang masih belum sadar, akibat pengaruh suntikan bius yang menyeluruh di berikan oleh sang dokter. Semua orang yang menunggu jalannya operasi begitu legah saat melihat keadaan Ruby baik-baik saja. Dengan tidak sabarnya Boy bertanya kepada sang dokter, saat mereka sudah berada di kamar pasien mewah yang di tempati Ruby.
"Apa, operasinya berhasil.?" tanya Boy dengan tidak sabarnya.
"Berhasil," tapi kita akan melihat hasilnya beberapa hari kedepan, saat kondisi nyonya Ruby stabil tuan." sang dokter menjawab pertanyaan Boy, sambil melihat berkas keberhasilan operasi tadi.
Boy tak bertanya lagi, dia merasa puas atas hasil operasi yang di jalani Ruby dan semua turut bahagia terutama bibi lili yang tak menyangka sang nyonya dapat berjalan lagi, setelah 2 tahun di vonis dokter lumpuh dan harus menghabiskan hari-harinya di kursi roda. bibi lili tak hentinya bersyukur atas kesembuhan sang nyonya.
"Selamat nyonya, semuanya berhasil dan anda akan berjalan lagi." gumam sang bibi sambil menggenggam tangan Ruby yang belum sadar, dia menitikkan air mata bahagia atas keberhasilan operasi yang di jalani nyonyanya itu. bibi lili menjauh saat tuan Boy mendekat ke arah pembaringan, bibi lili berjalan keluar kamar dan mengajak Amber untuk mencari makanan, karena sejak tadi mereka belum sarapan. Boy menggenggam tangan mungil itu dan sesekali mengecupinya. Boy meletakkan kepalanya di dekat kepala Ruby dan membelai wajah pucat sang Pemiliki hatinya itu dengan lembut. Jari telunjuk Boy berhenti di bibi mungil Ruby dan menyentuhnya lama di sana yang berakhir dengan kecupan dan lumutan lembut.
"Manis dan lembut," gumam Boy di atas bibir Ruby.
"Ini adalah milikku baby,"bisiknya sambil membelai bibir mungil berwarna pink alami Ruby dan kepalanya masih dia letakkan di dekat kepala Ruby.
"Cepatlah, sadar baby," dan kita akan melihat hasil operasi yang kau jalani."
"Kau, pasti akan dapat berjalan lagi, baby.!"
"Aku, akan melakukan apapun, untuk kesembuhamu, baby.!"
"Setelah kau sembuh, kita akan membalas semau perbuatan pria brengsek dan wanita ular itu," jadi cepatlah sadar, baby."
"Setelah semua selesai, kau akan menjadi milikku seutuhnya, baby." menjadi satu-satunya nyonya Boy Raymond Cole," cup."
Boy terus berbisik di telinga Ruby sambil membelai rambut dan mengecupnya.
"Cepatlah sadar, baby." bisiknya lagi dan ikut memejamkan mata, akibat lelah yang di rasakannya.
************
"Tuan Bram,! panggil bibi lili dan menyerahkan seporsi makanan yang bibi lili beli di kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Makanlah, tuan pasti lapar.!" ujar sang bibi dan duduk di samping asisten Bram. Asisten Bram menerima pemberian bibi lili dia menoleh sekilas kesamping di mana Amber masih berdiri dan jangan lupa muka datarnya. "Cantik, tapi sayang muka tembok," ejak asisten Bram dalam hati.
"Tuan …," sela bibi lili saat asisten Bram akan menyuap makanan yang di berikannya tadi. Asisten Bram menatap bibi lili sebentar dan melanjutkan suapannya.
"Apa, ada berita yang anda ketahui di negara A.? dengan nada ragu-ragu bibi lili bertanya kepada asisten Bram. dia ingin mengetahui tentang kabar para pengkhianatan itu, siapa lagi kalau bukan Alex dan Rebecca. Asisten Bram hanya mengangguk kepalanya sambil terus menyuap makanannya hingga habis dan meneguk air mineral yang di berikan bibi lili hingga habis setengah, asisten Bram membersihkan mulutnya dengan tissue yang terdapat dalam kotak makanan yang di beri bibi lili.
"Berita apa tuan.?" tanya bibi lili penasaran.
"Mereka, mencari keberadaan nyonya Ruby." ujar asisten Bram dengan nada santai.
"Mencari nyonya? tanya bibi lili meyakinkan. Asisten Bram mengangguk dan menoleh kearah Amber yang masih betah berdiri di tempatnya sambil menyimak obrolan bibi lili dan asisten Bram. "Apa dia itu robot.?" batin asisten Bram, yang langsung mengalihkan pandangannya saat Amber menatapnya tajam. " Sangat mengerikan." batinnya lagi sambil bergedik. "Untuk apa mereka, masih mencari nyonya Ruby,? Bukankah, mereka sudah mendapatkan semua harta kekayaan keluarga Pattinson? dan aku yakin, pasti mereka sudah menganggap nyonya Ruby sudah tiada."ucap bibi lili dengan nada khawatir.
" Mereka, belum mendapatkan yang mereka mau bi,! karena mereka membutuhkan stempel nyonya Ruby, untuk menguasai harta keluarga Pattinson."
"Stempel,? cicit bibi lili.
"Iya, stempel khusus yang hanya di miliki nyonya Ruby."
"Aku, tidak yakin kalau stempel yang anda maksud itu, adalah benda yang di titipkan nyonya Robert padaku." ungkap bibi lili ragu-ragu, sambil mencari sesuatu di dalam tas selempangnya. alis asisten Bram menjengit keatas saat mendengar ucap bibi lili. "Benda? Tanyanya yang masih memperhatikan bibi lili yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. "Ketemu," gumam bibi lili saat mendapatkan benda yang dia nyari dan memperlihatkan kepada asisten Bram. Dahi asisten Bram mengerut saat bibi lili memberikan kotak berwarna perak, "apa ini bi? tanya binggung sambil memperhatikan kotak itu dan membukanya. "Liontin," gumamnya, sambil terus menelisik liontin seukuran jari jempol orang dewasa, detik berikutnya senyum sumringah terlihat dari wajah tampan asisten Bram, saat membelah liontin tersebut. "Kapan, nyonya Robert, menitipkan ini pada bibi.?" seru asisten Bram.
"Sebelum, keluarga Pattinson kecelakaan, tuan.!" jawab bibi lili senduh.
"Nyonya Robert, menitipkan ini kepadaku buat nyonya Ruby tuan, beliau berpesan, kalau suatu saat nyonya Ruby, mendapatkan masalah besar maka, saya di perintahkan untuk memberikan ini padanya, beliau berkata, ini sangat penting dan berharga." bibi lili bercerita sambil menitikkan air mata.
"Saya, belum bisa memberikan ini pada nyonya Ruby, karena saya takut akan membuat dia kembali sedih tuan,!" ucapnya lagi sambil menangis mengingat penderita dan perlakuan buruk Alex dan Rebecca kepada sang nyonya.
"Cukup, sudah nyonya Ruby, menderita tuan,!"
"Dan semoga, tuan Alex tidak menemukan nyonya Ruby dan melukainya.!" ucap bibi dengan lirih.
"Itu, tidak akan terjadi bi! nyonya Ruby akan aman bersama tuan Boy, dan tuan Boy tidak akan membiarkan wanitanya di sakiti." dengan yakin asisten Bram menenangkan bibi lili, yang kini menatapnya sendu.
__ADS_1
"Biarkan, liontin ini bersamaku bi,karena liontin ini sangat penting dan berharga buat keberhasilan juga kehancuran tuan Alex Graham. ucapnya dengan seringai penuh arti.
" Tapi …!
"Percayalah pada kami bi," ini semua demi, kebaikan nyonya Ruby. Asisten Bram mencoba menyakinkan bibi lili.
"Bibi, tau kalau tuan Alex menghabisi nyawa pengacara keluarga Pattinson,! bibi lili menutup mulut kaget saat mendengar berita kematian pengacara Carlos. "Tuan, Alex menghalalkan berbagai cara untuk menguasai semua kekayaan keluarga Pattinson," ungkap asisten Bram dengan nada geram, sedangkan bibi lili masih shock mendengar kematian pengacara Carlos.
"Dasar manusia kejam, teganya mereka menghabisi nyawa orang-orang yang tak bersalah, demi harta yang bukan milik mereka." ucap bibi lili dengan nada emosi.
"Meraka, akan mendapatkan balasannya kelak, bi."
"Dan, kita tunggu waktu kehancuran mereka."
ujar asisten Bram dan bangkit dari duduknya berjalan mendekati pintu kamar rawat Ruby.
Saat telapak tangan kekar asisten Bram ingin mengetuk pintu, sebuah pelintiran dia dapatkan dari Amber. "Anda di larang menggangu, ketenangan tuan dan nyonya." ucap Amber dingi yang masih memelintir tangan Bram dan mendorong tubuh Bram kembali di tempatnya. bibi lili yang melihat aksi Amber hanya bisa melongo.
"Eh …! wanita setengah robot, apa yang kau lakukan padaku,!!! geram Bram sambil menyentuh tangannya yang terasa sakit.
"Dasar wanita robot aneh." batin Bram yang menatap Amber sengit.
Asisten Bram kembali ingi mengetuk pintu dan Amber bersiap untuk menghalanginya lagi, "menyingkirlah wanita aneh." Bram mencoba menyingkirkan tubuh Amber dari hadapannya, tapi tubuh Amber terlalu kuat untuk Bram singkirkan.
"Apa? wanita ini makannya batu?, kenapa kuat sekali.?" batin Bram bingung, sambil menelisik Amber.
"Cantik! tapi sayang setengah robot." cebiknya dalam hati. Bram terus menelisik setiap wajah Amber, sedangkan yang di tatap hanya diam dengan wajah datarnya.
tatapan boy saat bersama Rubynya
__ADS_1