
Langkah kaki Diana terasa lemas saat meninggalkan gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Ralat, bekas perusahaan tempatnya bekerja, karena sekarang Diana bukan lagi office girl di perusahaan tersebut.
Diana duduk melamun sembari menunggu angkutan umum di halte. Ingatannya terbang menyelami masa lalu, di saat ia dan Rio adalah teman dekat.
Dulu, Diana hidup serba berkecukupan, bahkan bisa dikatakan sangat mewah. Damar, almarhum ayahnya adalah seorang pengusaha ternama, yang menjalankan bisnis di bidang E-commerce dan Marketplace.
Saat itu perusahaan milik ayahnya adalah group raksasa, yang tersebar hampir di setiap Negara besar yang ada di Asia dan Eropa.
Roda kehidupan mulai mengarah ke bawah saat Diana berumur delapan tahun. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Lalu ibu tirinya yang tidak becus, menggantikan sang ayah memimpin perusahaan.
Sejak saat itu perusahaan milik sang ayah mulai mengalami kemunduran, dan penderitaan demi penderitaan mulai merundung hidup Diana.
Semuanya semakin diperparah ketika ibu tirinya menikah lagi dengan seorang pria tidak berguna, yang kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang. Sampai akhirnya pria itu pergi setelah semua aset keluarga Diana habis tak tersisa.
Lalu Diana bersama ibu tiri, seorang saudara tiri, dan juga neneknya yang sakit-sakitan mulai hidup susah. Mereka sering berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lebih kecil.
Diana yang saat itu masih sekolah dasar pun harus berjuang melawan kejamnya dunia. Diana bersekolah sambil membawa bakul kue besar buatan tetangga, dia berjualan kue demi setiap lembaran receh untuk menyambung hidup.
Sepulang sekolah Diana lanjut menjadi buruh cuci pakaian. Malamnya Diana masih bekerja menjadi tukang cuci piring di sebuah warung pecel lele. Diana kecil itu adalah karang penopang ekonomi keluarga.
Diana adalah gadis yang hidup di garis kemalangan, masa kecil yang seharusnya menjadi waktu belajar dan bermain bersama teman-teman tidak dia dapatkan.
Haknya sebagai anak-anak terenggut habis, Dia tidak lagi mengenal kata senang seperti saat ayahnya masih ada.
Pencapaian terbaik Diana adalah saat ia berhasil menamatkan sekolah menengah, lalu diterima bekerja menjadi office girl.
Namun, bukan berarti kehidupan Diana mulai senang. Diana tidak pernah bisa menikmati gajinya, dia hanyalah seekor sapi perah untuk ibu dan saudara tirinya.
Bahkan, Diana harus pintar-pintar menyembunyikan uang agar bisa membeli obat untuk neneknya.
"Ya Tuhan ... aku harus apa? Tunjukkan jalanMu Tuhan," lirih Diana, bulir-bulir bening pun mulai menitik dari sudut matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi.
Diana benar-benar bingung, sekarang semuanya menjadi lebih buruk. Diana tidak lagi memiliki pekerjaan setelah dipecat oleh Mario Richard, CEO sombong yang pernah menjadi teman kecilnya.
__ADS_1
Namun, tidak ada umpatan di hati Diana untuk Rio. Lagi pula menurut Diana wajar Rio tidak lagi mengenalnya. Mereka tidak pernah bertemu lagi selama 20-tahun, dan kalaupun Rio memiliki ingatan yang kuat, CEO kaya raya itu pasti malu untuk mengakui Diana sebagai teman.
Tanpa terasa bus umum yang ditumpangi Diana telah tiba di daerah tempat tinggalnya yang berada di pinggiran kota. Lalu gadis itu turun dan menyusuri gang sempit di perkampungan kumuh, untuk sampai ke rumah kontrakannya.
"Siang, Diana ... kok hari ini pulangnya cepat?" sapa seorang ibu-ibu yang berpapasan dengannya.
"Iya nih, Bu. Kebetulan aja bisa pulang cepat," jawab Diana sembari memperlihatkan senyum ramahnya.
Meski baru menetap selama beberapa bulan di perkampungan ini, Diana sudah bisa berbaur dan disenangi oleh warga, karena dia memiliki sifat ramah, dan peduli pada sesama.
Diana ini adalah gadis yang memiliki hati seluas samudra, dia selalu terlihat riang di mata semua orang. Sehingga tidak ada yang tahu di setiap langkah Diana ada beban berat, yang tak pernah lepas dari pundaknya.
Bahkan di saat hidupnya tengah kacau seperti sekarang, Diana masih bisa memperlihatkan senyum terbaiknya.
Diana tiba di kontrakan kecilnya, dia membuang napas berat untuk menegarkan hati. Sepertinya hari esok akan jauh lebih berat, karena Diana harus mencari pekerjaan baru.
Saat melangkah masuk, Diana disambut tatapan penuh tanya oleh Nenek Dewi. "Dian, kenapa jam segini sudah pulang?"
"Dian udah nggak kerja lagi, Nek ... jadi sekarang Dian punya lebih banyak waktu buat jaga Nenek."
Nenek Dewi mengerutkan dahi. "Kamu dipecat?"
Diana mengangguk. "Iya, tapi Nenek tenang aja, Dian akan mencari pekerjaan baru secepatnya."
Diana kembali tersenyum menenangkan, dia tidak ingin neneknya itu ikut cemas memikirkan nasib mereka kedepannya.
"Kamu tidak perlu mencari pekerjaan, mulai sekarang kita tidak akan hidup susah lagi!" Tiba-tiba terdengar suara yang disusul langkah kaki mendekat.
Diana menoleh ke belakang, terlihat seorang wanita paruh baya mengenakan dress tanpa lengan. Wajahnya terlihat seperti ondel-ondel berkat tempelan bedak yang nyaris setebal 5-centi, dan alis matanya berbentuk aneh menyerupai pedang orang Arab.
Dia adalah Amara, ibu tiri Diana.
"Apa maksud, Mama?" tanya Diana bingung.
__ADS_1
"Mama sudah menemukan pria yang mau menikahimu. Dia akan memberi kita kemewahan, jadi kau tidak perlu lagi bekerja menjadi office girl rendahan, itu menjijikkan!" seru Amara.
Diana tercekat mendengarnya, menjadi office girl memang termasuk pekerjaan rendah.
Tapi apa ibu tirinya itu tidak sadar dengan keadaan? Selama ini mereka bisa bertahan hidup karena hasil yang didapat Diana dari pekerjaan yang disebutnya menjijikkan.
"Me-menikah, Ma?" Diana tergagu.
Amara mengangguk cepat. "Ya, kau akan menikah dengan Tuan Jhoni?"
"Tuan Jhoni siapa, Ma? Dian belum siap untuk menikah."
"Siap tidak siap, kau tetap harus menikah dengan Tuan Jhoni! Hanya dengan begitu kita bisa hidup senang. Apa kau tidak bosan seumur hidup tenggelam dalam kemiskinan? Apa kau tidak rindu hidup mewah seperti dulu?"
"Tapi, Ma ... Dian nggak mau nikah sama pria yang nggak Dian kenal."
"Jangan membantah mama, Diana! Apa kau ingin menjadi anak durhaka, huh? Apa kau tega melihat nenekmu terus sakit-sakitan? Dengan menikah dengan Tuan Jhoni, kau bukan hanya menyelamatkan keluarga kita dari kemiskinan, tapi kau juga bisa memberi pengobatan terbaik untuk nenekmu!" bentak Amara memaksa.
Diana terdiam, kesialan macam apa lagi yang mendatanginya hari ini. Sebelumnya dia sudah dipecat dari pekerjaan, dan sekarang malah dipaksa menikah oleh ibu tirinya.
"Sekarang cepat mandi, setelah itu kau harus berdandan yang cantik. Sebentar lagi Tuan Jhoni akan datang ke sini!" perintah Amara.
Diana menghela napas berat.
"Baiklah, Ma," jawab Diana pasrah, lalu beranjak ke kamarnya.
Diana sebenarnya tidak mau, tapi posisinya sekarang benar-benar sulit, dan dia tidak punya pilihan.
Diana ingin nenek yang sangat dicintainya bisa sembuh, dan untuk itu Diana tidak akan keberatan mengorbankan hidupnya.
Bersambung.
__ADS_1