
pagi ini Ruby, sudah rapi dengan stelan kerja yang terlihat anggun dan modis.
hari ini Ruby, akan mengambil alih semua pekerjaan di perusahaan Pattinson. Ruby sudah mendepak Alex dan Rebecca berserta antek-anteknya dari perusahaan Pattinson.
mulai hari ini, Ruby akan menjalankan amanah sang Daddy untuk menjaga haknya dan memperjuangkan kebahagiaannya sediri.
ia akan membuang jauh-jauh, masa lalunya yang penuh luka dan penghianatan.
Ruby menarik nafas dan menghembuskannya secara berlahan, dia memandangi dirinya di depan cermin meja riasnya.
"Ayo, Ruby kamu pasti bisa." semangatnya dalam hati.
Ruby pun menerbitkan senyum cerahnya yang begitu manis, yang mampu membuat Boy Raymond Cole berhenti bernafas sesaat.
"Paman, mesumku yang tampan." ujarnya dengan pipi yang sudah merona, mengingat kelakuan manis dan tingkat keposesifan Boy naik level parah.
"clek." tiba-tiba kamar Ruby terbuka, dan muncullah sosok tampan bak pahatan dewa Yunani itu. Ruby tersenyum lembut kepada Boy yang sedang mendekatinya.
"Morning, baby," cup.! sapanya dan mendaratkan kecupan lembut di kening Ruby.
Ruby memejamkan matanya, menikmati perlakuan manis Boy, Ruby membalas ucapan Boy dan memeluk paman mesumnya, yang mampu membuat Ruby merona malu.
"kau, ingin berangkat sekarang, baby.? tanya Boy sambil menatap dan membelai lembut wajah Rubynya. Boy yang tak pernah bosan memandangi wajah Rubynya yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Ruby, mendongakkan wajahnya di sertai anggukkan kecil dan diakhiri senyum manis.
Boy, lantas menyambar bibir manis Ruby dan menyesapnya lembut, sejak tadi Boy ingin menyesap vitaminnya itu yang terus menyapanya untuk di rasai.
"Ayo, kita sarapan sekarang, baby.! bisik Boy yang masih terlihat sisa-sisa penyatuan bibir mereka. apalagi Boy, yang nampak terlihat bekas bibir Ruby di bibirnya.
"Ayo." ajak Boy sambil menggenggam dan menarik lembut Ruby untuk keluar dari kamar.
bisa bahaya kalau terlalu lama di kamar.
"bisa-bisa, bukan cuma bibir atas yang ku rasai, tapi bibir bawah juga," sial." decaknya kesal dalam hati, saat kepala bawahnya berdenyut.
"paman, kenapa.?
"tidak, apa! mungkin pertigonya sedang kambuh." selorohnya sambil menatap letak kepala bawahnya, yang penyakit pertigonya kambuh.
"paman, sakit pertigo.? tanya Ruby dengan polosnya, dan mengikuti arah pandang Boy.
"sial! umpat Boy, yang merasa gemas dengan wajah polos Ruby.
"paman, liatin apa.? tanya Ruby lagi dengan alis matanya terangkat sebelah.
"kepala." lirih Boy, yang sedang mati-matian menahan hasratnya.
"oh, sial,! bisakah kau berhenti memperlihatkan wajah mengemaskanmu itu, baby." erang Boy, saat Ruby menatap kepadanya dengan raut bingung.
"bisa-bisa, si kepala tanpa tulang ini, memakanmu, baby." lirihnya dalam hati dan masih memandangi kepala bawahnya yang dilanda pertigo.
"paman." sentak Ruby, menyadarkan Boy dari hayalan indahnya bersama kepala bawahnya tanpa tulang itu.
__ADS_1
"baby, bisakah kau menungguku di meja makan.?
"aku, ingin kekamar mandi dulu," pinta Boy lembut, yang di balas anggukkan kepala oleh, Ruby.
"baiklah, cepatlah menyusul." balas Ruby, dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Boy yang mengerutut kesal.
"dasar, kepala bawah, sialan! karena penyakitmu kambuh, akau harus merelakan kecebongmu, terbuang sia-sia dan di tempat yang sangat memalukan," Boy terus saja mengerutut dan memijat kepala bawahnya agar sakit pertigonya hilang.
"mulai, besok aku akan membeli closed yang terbuat dari emas, agar kecebong berhargaku tidak terbuang sia-sia." Boy terus saja berdecak kesal yang masih memijat kepala bawahnya.
"cara, paling aman untuk kecebong, yaitu menikahi Rubyku." baiklah aku akan menikahi Rubyku demi kalian." ucap Boy, yang sedang menatap sedih kecebong berharganya.
**********
Boy yang keluar dari kamar dengan wajah masih terlihat kesal itu, membuat asisten oon-nya, menukikan alisnya heran.
"Anda, sedang sakit tuan.? tanya asisten Bram saat, tuan mudanya itu duduk di samping Ruby.
Boy hanya mendelikkan matanya malas kepada asistennya itu yang juga ikut sarapan bersama, Ruby sudah memberi wejangan, kalau setiap pagi mereka akan sarapan bersama, tanpa memandang status, majikan dan bawahan.
bagi Ruby, bibi lili, Amber dan asisten Bram adalah keluarganya sekarang.
"kata, paman kepala bawahnya, sakit pertigo.!
jawab Ruby, yang sukses membuat Boy, bibi lili dan Amber terbatuk-batuk karena keselek makanan mereka.
"minum paman." tawar Ruby sambil memberikan gelas berisi air putih.
"apakah, aku-? Boy menyela ucapan asisten oon-nya ini, dia tidak ingin membahas tentang kepala bawah tanpa tulang, megalami pertigo lagi.
"ayo, baby! kita berangkat.! ajak Boy, sambil membantu Ruby berdiri dari duduknya.
"hm, ayo! seru Ruby, membalas genggaman tangan Boy.
mereka pun meninggalkan bibi lili sendiri di apartemen mewah boy.
Ruby terpaksa, tinggal di apartemen Boy, karena tuan muda arogan itu memaksa.
dia tidak akan membiarkan, Rubynya jauh dari pandangannya dan juga Boy takut, tiba-tiba Alex datang menemui Rubynya, di belakangnya.
sedangkan Ruby, yang ingin melupakan masa lalu buruknya, dia menjual mansion mewah keluarga PATTINSON dan, menyumbangkan uang hasil penjualan itu pada panti asuhan.
Ruby, tidak mau tinggal di mansionnya lagi, terlalu sakit hati Ruby, bila terlalu lama disana.
bayang-bayang perlakuan acuh dan kasar Alex padanya, masih tersimpan di ingatannya.
Ruby, yang ingin membeli rumah sederhana, buatnya beserta bibi lili dan Amber.
tapi Ruby mengurungkan niatnya itu, saat Boy menentangnya dan memaksanya untuk tinggal di apartemen Boy.
**********
"jadi, hari ini dia mulai memimpin perusahan Pattinson.?
__ADS_1
" ... "
"hm! terus awasi dia."
" ... "
"besok, aku kembali."
" ... "
"hm!
Alex, menutup panggilan teleponnya dan memasukkan kembali ke saku celananya.
Alex, menatap sang mommy yang sedang merawat tanaman bunga, yang menjadi hobinya sekarang.
"ternyata, kau sudah tidak, sabar bertemu dengannya, sayang."
"tunggulah, aku akan datang dan membawakan kejutan, yang bisa membuatmu memohon dan bersujud padaku." seringai licik muncul di bibir Alex.
"mom," serunya, yang sedang berjalan mendekat kearah sang mommy.
"ada, apa nak.? jawab sang mommy lembut.
"bersiaplah, mom! kita akan ke kota sekarang. ucap Alex sambil melirik jam tangannya.
"ke- kota? tanya sang mommy gugup, dan menatap lekat netra biru Alex.
Alex mengangkuk dan menuntun sang, mommy ke kursi kayu yang ada di halaman belakang villa itu.
"mommy, maukan? menemaniku ke kota." bujuk Alex dengan tatapan memohon.
"baiklah, mommy akan menemani, nak." akhirnya sang mommy setuju ikut dengan Alex.
"kalau, begitu bersiaplah, mom, sebentar lagi kita, berangkat.
sang mommy menurut dan langsung memasuki villa untuk bersiap.
"tunggu, kejutan istimewa, sayang.! Alex terkekeh dan menerawang kedepan,, dia sudah tidak sabar untuk memberi Ruby kejutan.
Hai .... teman-teman tersayang.
terimakasih yah sudah mampir ke karya saya
dan terimakasih juga atas dukungan kalian.
jangan lupa dukung Uma dengan
komen, like, hadiah dan vote🤭🤭🤭
lope lope lope buat kalian.
oh iya follow Ig Uma yah\= Uma bie/qiefary_ caem.
__ADS_1