
Semua orang yang berada di ballroom perusahaan Pattinson,bertepuk tangan dan terkagum-kagum, atas kata sambutan yang di sampaikan oleh, Alex di atas pedium. Alex dengan sikap gagah penuh wibawa menyampaikan, kata-kata sambutannya dan di akhiri doa atas mendiang keluarga Pattinson.
Boy, hanya mampu mengertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya yang berada di saku celananya, saat Alex mendoakan atas kematian, Ruby dan kedua orangtuanya, bukankah itu sama saja mendoakan Rubynya meninggalkan?
"Brengsek! maki Boy dalam hati.
Sedangkan Rebecca sejak tadi pandangannya, hanya tertuju pada Boy semata, dia memikirkan cara, agar bisa memiliki sosok Boy Raymond Cole.
"Aku, pasti bisa memilikinya." monolog Rebecca dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Aku, pastikan kau akan hancur, Alex Graham.!" ujar wanita yang berada di pojok dinding, penuh benci.
kini tiba pada acara inti dimana Alex akan memotong sebuah pita di atas tulisan "Graham group." seorang wanita yang sedang memegang nampan yang berisi gunting yang di hiasi pita merah, wanita itu mengarahkan nampan berisi kunting itu kepada alex, dengan segera Alex meraih gunting tersebut dan bersiap untuk memotong pita itu, para wartawan pun, bersiap mengambil gambar Alex saat pemotongan pita. Suasan hening sejenak saat Alex akan melakukan peresmian nama baru perusahaan Pattinson. dengan perasaan bangga Alex akan bersiap memotong pita tersebut.
Tapi saat Alex akan mengunting pita itu, sebuah tepuk tangan yang mengelegar di ballroom itu, menghilangkan suasana sepi di sana. semua orang yang ada di ballroom tersebut mengarahkan pandangan mereka, kepada orang tersebut dan detik itu juga semua mata yang ada di sana melotot dan mulut mereka menganga, saat mereka melihat sosok wanita cantik berjalan mendekat kearah Alex.
Sedangkan Alex dan Rebecca membeku di tempat mereka, gunting yang di pegangnya jatuh seketika dilantai, sedangkan Rebecca masih dengan mata membola dan mulutnya yang terbuka, menandakan dia begitu terkejut, sampai-sampai seluruh tubuhnya menjadi lemas, Rebecca hampir terhuyung kebelakang saat tak mampu lagi menopang tubuhnya, untung asisten Alex sigap menangkapnya. Alex masih membeku Santa tak bergeming dari tempatnya, sampai sosok yang sangat dikenalnya makin mendekat kepada.
"Ru … Ruby! gumamnya terbata tanpa mengeluarkan suara.
Ruby terus mendekati Alex dan tersenyum manis, penuh arti, yang membuat seseorang menahan amarahnya saat wanitanya memperlihatkan senyum manisnya itu pada semua orang, terutama pada laki-laki brengsek itu.
"Oh, baby! jangan tersenyum seperti itu, kau akan membuat semua, laki-laki yang ada di sini akan terpesona padamu, baby! karena senyummu itu, memiliki kadar kemanisan yang tinggi." Boy terus saja bergumam sambil mendegus kesal, tak terima wanitanya tersenyum manis.
Alex terus saja memperhatikan Ruby dengan intens.
yang kini bisa berjalan kembali dan jangan lupa wajah dan penampilan Ruby berubah. Ruby yang lugu dan wajah yang teduh, berganti Ruby yang terlihat dewasa.
Kini Ruby sudah berada dihadapan Alex dengan jarak tiga langkah.
Hay …, Alex sayang." sapa Ruby dengan menyematkan kata sayang, yang membuat seorang Boy Raymond Cole membulatkan matanya.
"Babyyyyy ….!!! erang Boy
"Ini, tak bisa di biarkan terlalu lama, bisa-bisanya, Rubyku memanggil si brengsek itu sayang! sedangkan padaku dia masih memanggilku, paman." gumam Boy dengan nafasnya yang naik turun.
"Bramm! Hancurkan tempat ini, sekarang juga.! perintah Boy dengan nafas yang masih naik turun.
"Tuan, sabarlah! ucap asisten Bram.
"Apa katamu, aku harus bersabar!!! sentak Boy dengan suara pelan.
__ADS_1
"Ingat, tuan kita disini ingin membantu nyonya Ruby, untuk memberi pelajaran kepada tuan ,Alex
Jangan buat nyonya, Ruby kecewa karena anda mengagal rencana nyonya Ruby tuan." Bram memberi peringat panjang kali lebar kepada sang tuan muda bucinnya itu.
Boy hanya mampu terdiam kembali saat mendengar perkataan Bram, dia masih menatap ke depan dengan tajam.
"Apa kabar Alex Graham.? sapanya lagi saat tak mendapatkan jawaban dari Alex, kini tatapan Ruby berpindah ke arah Rebecca yang sedang mengatur nafasnya, karena terkejut.
"Hay, Beca! sapanya kepada Rebecca, yang kini sudah sadar dari keterkejutannya.
"A … apa, yang kau lakukan disini? Rebecca balik bertanya pada Ruby.
Kening Ruby mengerut saat mendengar pertanyaan Rebecca.
"Kau, serius bertanya itu padaku.? ujar Ruby sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Ti ...tidak, mungkin kau Ruby, putri tunggal Pattinson, karena Ruby sudah meninggal! jadi katakan siapa kau, jangan coba-coba menipu kami j*l*ng." bentak Rebecca dengan wajah tanpa dosa.
"Wah, seorang pewaris tahta dari Pattinson group, di ragu di kandangnya sendiri."
"Tutup, mulutmu wanita murahan." bentak Rebecca lagi, yang membuat Boy mengerang marah, tak terima wanitanya di hina.
Alex menyipitkan matanya, saat Ruby berkata mantan suami, dan dia juga terkejut atas perubahan Ruby.
"Maaf, nyonya apa benar anda Putri, tuan Robert Pattinson? tanya salah satu tamu sekaligus kolega bisnis Alex.
"Anda benar sekali, tuan! kalau aku anak dari tuan Robert Pattinson, dan juga aku seorang istri cacat yang terbuang oleh suaminya sendiri dan di khianati sahabatnya sendiri, setelah itu mengambil semua milikku." ungkap Ruby yang membuat suasana ballroom kini ramai dari orang-orang di sana yang masih binggung dan tak percaya atas perbuatan tuan Alex.
Rahang Alex mengetak, giginya saling bergesekkan, dan tangannya mengepal, saat mendengar ucapan Ruby.
"Bukan, begitu Alex Graham? kalau kau sudah membuangku di tebing, tapi lihat aku selamat bukan? tapi kau dengan teganya, memalsukan kematian ku. "Ck! kau memang suami kejam, demi harta kau tega membuangku. ungkapan Ruby sukses membuat ruangan itu makin kacau.
Kini semua orang mengumpat dan menyumpah serapai kedua orang itu.
"Dasar penipu, licik! maki mereka.
"Dasar wanita tidak tahu malu, benalu yah tetap jadi benalu." maki para wanita di sana kepada Rebecca.
Sedangkan para wartawan sejak tadi mengambil semua informasi tentang penipuan dan pengkhianatan, itu merasa senang karena mendapatkan berita yang menggemparkan di seluruh negara K.
"Astaga Beca, kau memakai kalung mommyku, kau tau harga berlian, ini sangatlah mahal, mungkin menjual harga dirimu pun, kau tak mampu membelinya." sinis Ruby.
__ADS_1
"kau ....! bentak Rebecca, yang tak terima di hina oleh Ruby.
kembali para wanita sosialita yang ada sana memaki dan memandang rendah Rebecca yang seorang penipu.
"Dasar, wanita murahan."
"Penipu."
"Benalu yang tak sadar diri."
"dasar wanita sampah."
begitulah beberapa makian yang di berikan kepada Rebecca, kini suasana ballroom menjadi kacau. Boy memberi perintah kepada asistennya untuk mengurus para tamu, yang berada di ballroom tersebut.
hingga kini, semua tamu sudah meninggal ballroom perusahaan Pattinson. menyisakan Ruby, Alex, Boy, Rebecca, Amber yang sejak tadi mengekori Ruby.
"apa, yang kau mau! akhirnya Alex mengeluar suara beratnya, bertanya kepada Ruby.
"menghancurkanmu." ujar Ruby the poin.
"hehehe! apa aku salah dengar, menghancur kami? sinis Rebecca sambil terkekeh.
"ya, menghancurkan kalian, hingga kalian takkan ingin hidup lagi." ucap Ruby, penuh dendam dan menatap dua orang di depannya penuh benci.
"satu, lagi aku akan mengembalikanmu, ketempat di mana, kau semestinya berada."
ujar Ruby yang di tujukan kepada Rebecca.
"dasar wanita j*l*ng.!" sentak Rebecca, yang sedang mengayunkan tangannya untuk menampar Ruby, tapi tangannya di cekal oleh Amber.
"jangan, coba-coba melukai, nyonya kami." ujar Amber dingin dan menghempaskan tangan Rebecca.
"siapa yang kau sebut murahan? aku? seru Ruby.
"bukankah, kau suka dengan suami yang sudah di buang oleh istrinya, dan kau memungutnya?
"oh iya, aku sudah mengikhlaskan kau mengambil sampah, yang tak ada gunanya seperti dia, yang hanya menjadi benalu bagiku." ujar Ruby dengan nada menghina yang di tujukan untuk Alex.
Alex menatap Ruby tajam, dia paling membenci kata benalu, yang membuatnya di cemooh semua orang, Ruby menatap balik Alex tak kalah sengitnya, tatapan cinta yang selalu dia berikan kepada pria ini berubah benci.
"Awal, dari kehancuranmu baru di mulai, Alex Graham.!"
__ADS_1