Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 42


__ADS_3

"Selamat pagi, tuan." sapa asisten Bram, saat berada di depan sang tuan muda yang sedang memasak sarapan spesial buat, Rubynya.


Boy, hanya berdehem dan masih fokus pada masakannya. sedangkan asisten Bram terus saja memperhatikan tuan mudanya itu memasak sesuatu, dengan cekatan.


"Ternyata, tuan muda pandai memasak juga.! monolog Bram dalam hati.


"Apa, yang kau lihat? kau kagum pada keahlianku dalam memasak? tanya Boy tiba-tiba yang masih fokus pada masakannya. asisten Bram, hanya tersenyum kikuk karena ketahuan telah memperhatikan tuan mudanya itu.


"Kau, juga bisa membuat sarapan spesial buat, wanita tembokmu." ucap Boy, dengan tersenyum miring.


"It …itu tidak perlu tuan." jawab asisten Bram gugup.


"Cih! Boy mendecih dan mengalihkan pandangannya sesaat kepada sang asisten.


"Kau, tidak bisa membodohiku, Bram! Aku, tau selama ini kau terus saja memperhatikan wanita tembok itu." ungkap Boy, yang membuat asisten Bram salah tingkah.


"Cih! sok menolak waktu aku menyuruhmu membuat bayi dengannya, tapi tiap hari selalu jadi bahan fantasimu di kamar mandi, ck! daripada, kecebongmu terbuang sia-sia di closed, lebih baik kau membanting wanita tembok itu di atas ranjang mu, dan menanamkan kecebongmu di mesin pencetak anaknya." Seloroh Boy, panjang kali lembar, yang mampu membuat asisten Bram terbengong atas saran tuan mudanya yang sedang mode bar-bar.


"Menyingkirlah." seru Boy, yang menyadarkan asistennya itu dari lamunan kotornya.


"Kalian, memang pasangan serasi, satunya muka tembok dan yang satunya muka kaku! aku tidak bisa membayangkan kalau kau mempunyai anak darinya, dan wajah anak kalian kelak akan seperti apa.? ejek Boy sambil membawakan sarapan buat, Rubynya yang masih di dalam kamarnya. meninggalkan asistennya yang masih mencerna kata-katanya tadi.


"Amber! buatkan dia sarapan." perintah Boy, kepada Amber saat dia melihat wanita tembok itu berjalan kearahnya.


Amber menatap asisten Bram yang sedang membeku di tempatnya dengan wajah terkejut.


"Baik tuan." jawab Amber


Boy, tak menjawab dia melanjutkan langkahnya ke kamar Ruby. sedangkan Amber mendekati kitchen set, untuk melakukan perintah tuannya.


"Anda, mau sarapan apa,tuan? tanya Amber tanpa melihat wajah tampan asisten Bram


"Tuan, anda mau makan apa? tanya Amber lagi, saat tak mendapatkan jawaban dari Bram.


"Memakan mu." gumamnya, sambil memperhatikan Amber yang sedang membelakanginya, terlihat jelas tubuh seksi Amber yang pagi ini memakai pakain yang mencetak tubuh seksinya.


"Oh Tuhan." batinnya


"Anda, mengatakan apa tuan? tanya Amber bingung.


"Ti … tidak apa-apa! aku ingin memakanmu, eh memakan bibirmu! Oh, astaga aku kenapa." gumam Bram dalam hati sambil menggerututi ucapannya tadi. sedangkan, Amber menjengitkan keningnya binggung.


"Anda, kenapa tuan? tanyanya binggung


"Hah, lupakan saja." balas asisten Bram, sambil menjauh dari kitchen set, bisa-bisa pagi ini dia habiskan waktunya di kamar mandi.


"Sial! apakah aku harus, mengikuti saran tuan Boy! membanting wanita itu di atas ranjang, tapi itu tidak mungkin,! bisa-bisa bukan aku yang membantingnya, tapi dia yang akan membanting ku dan menghajar wajahku." gerutu Bram sambil berjalan kearah ruang tamu.

__ADS_1


"Aneh! ucap Amber bingung, sambil melanjutkan membuat sarapan.


***********


Boy, tertekun dan menelan salivanya saat melihat pemandangan yang mampu, membuat juniornya terbangun. saat melihat Ruby hanya mengunakan handuk yang melilit tubuh indahnya yang masih setengah basah itu, dan Ruby yang sedang mengeringkan rambutnya mengunakan hairdryer, tidak menyadari kalau paman mesumnya itu sedang memperhatikannya tanpa berkedip yang sedang membeku di depan pintu kamar.


Boy berdehem untuk mengontrol rasa panas yang tiba-tiba dia rasakan. Ruby yang mendengar deheman Boy menoleh, dan membulatkan matanya.


"Pa … paman, sedang apa disini.?" tanya Ruby gugup dan mencoba menutupi tubuh indahnya yang hanya di balut handuk, memperlihatkan punggung dan paha putihnya, rambut panjangnya yang setengah basah tergurai indah.


"Membawakan, sarapan spesial untukmu, baby." balas Boy, dan melangkah mendekati sofa yang ada di kamar itu, boy menyimpan nampan yag berisi sarapan itu di meja dan berjalan mendekati Ruby.


Sepertinya, sangat menyenangkan kalau mengoda wanitanya ini. Boy terus mendekati Ruby, yang terlihat gugup dan berusaha menggapai selimut untuk menutupi tubuhnya. Boy, mencoba bersikap biasa saja meskipun dia harus menekan debaran jantungnya dan juga hasratnya. "Oh, ayolah! siapa yang akan tahan dengan pemandangan indah di depannya ini." monolognya dalam hati.


"Stop, di situ paman! perintah Ruby.


"Kenapa, baby! aku sudah melihatnya dari tadi." ucapnya yang kini berada di depan Ruby dengan jarak yang sangat dekat.


"****! umpat Boy, saat jantungnya berdebar lebih cepat dan hasratnya makin menggebu.


"Apakah, aku bisa menahannya,? "oh, sial." gerutu Boy dalam hati.


Ruby mendongakkan wajahnya guna melihat wajah tampan Boy, yang tingginya hanya sebatas dada Boy saja, sedang boy juga menunduk wajah tampannya saat tak ada lagi jarak di antara mereka.


Boy membelai wajah Ruby yang masih merona dan mengecup kening Ruby sayang.


Ruby menahan nafas, dan memejamkan matanya saat Boy mengecup punggung polosnya.


"Aku, suka wangimu, baby." bisiknya yang masih sibuk menciumi leher dan punggung Ruby.


"Pa … paman, hentikan! ujar Ruby yang meronta ingin lepas dari lilitan tangan kekar boy yang ada di pinggangnya.


"Sebentar saja, baby! izinkan aku menghirup aroma tubuhmu sebentar saja," dan ini akan menjadi canduku, baby." Tolak Boy yang masih mengendus tubuh Ruby dan sesekali memberi kecupan di sana.


Ruby semakin gugup saat merasakan ada yang mengganjal di belakang tubuhnya dan dia tau itu apa. "Ini tak bisa dibiarkan, aku takut paman mesum ini akan khilaf." monolog Ruby dalam hati.


Dia berusaha mencari ide untuk lepas dari paman mesum ini yang sekarang sedang mengecupi leher Ruby dan meninggalkan bekas di sana.


"Oh Tuhan, aku harus berbuat apa." batinnya yang berusaha menahan desahannya saat ciuman Boy yang makin menjadi.


"Baby! bisik Boy serak yang akan membuka handuk Ruby, tapi detik itu juga Boy mengerang sakit, saat Ruby menginjak kakinya kuat. dan Ruby yang sudah terlepas dari pelukan Boy, segera berlari masuk ke walk in closet.


"Baby ….!!! pekik Boy sambil mengangkat kakinya yang sakit.


"Rasakan, makanya paman jangan mesum." ejek Ruby dan tertawa puas.


"Baby, kau jahat sekali, untung aku menyayangimu, kalau tidak aku pasti sudah memperkosamu." gerutu Boy kesal.

__ADS_1


"Oh, juniorku! bisiknya dan menatap sang adik yang masih tegang.


"Sial! kenapa aku harus seperti Bram, membuang kecebong berhargaku di kamar mandi," sial! Boy mengomel sambil melangkah ke kamar mandi.


***********


"clek! Ruby menoleh kearah pintu kamar mandi saat terbuka dan Boy keluar dengan wajah di teguk, dia baru saja melakukan pembuangan kecebong berharganya. Boy mengerutkan keningnya saat melihat penampilan Ruby yang sudah rapi dan terlihat sangat cantik. Ruby yang memakai stelan kerja, yang membuatnya terlihat anggun dan modis.


"kau mau kemana, baby! tanya Boy sambil mendekat dan duduk di samping Ruby, yang sedang meminum susu yang di buatkan Boy.


"ke perusahaan." jawab Ruby pendek.


Boy memicingkan matanya kearah Ruby. dia tidak suka ini, Rubynya akan ke kantor dan pasti Rubynya itu bertemu dengan pria brengsek itu, memikirkannya saja Boy sudah mengerang, apalagi kalau itu benar terjadi.


"tidak, Rubyku tidak boleh bertemu pria brengsek itu," bagaiman kalau pria sialan itu membawa Rubyku pergi jauh, tidak ... itu tidak akan aku biarkan. gumamnya dalam hati sambil mengepalkan tangan.


"paman kenapa? seru Ruby yang melihat Boy begitu kesal.


"aku akan mengantarmu, baby." ujar Boy, tanpa menjawab pertanyaan Ruby.


"itu tidak perlu, paman! dan jangan khawatir Amber bersamaku, pasti kerjaan paman juga banyak." tolak Ruby.


"baby, aku tetap akan mengantarmu, titik! ucap Boy yang tak ingin di bantah.


"tapi kerjaan paman gimana? ujar Ruby lagi.


"ada Bram! jawab Boy cepat.


"tap-! ucapan Ruby terhenti saat boy melumut bibirnya.


"jangan membantah, dan makan sarapanmu, aku membuatnya dengan cinta." ucap Boy bangga. Ruby hanya tersenyum dan menyuapkan sarapan buatan Boy kedalam mulut.


"apakah enak, baby? tanya Boy


"enak! ujar Ruby sambil mengacungkan ke dua jempolnya kearah Boy.


"syukurlah! ujarnya sambil mengusap rambut Ruby.


"tapi, paman aku mau ke mansion dulu."


"aku, mau ke mansion Daddy dulu, aku ingin menyingkirkan mereka dulu, sudah cukup mereka mengunakan, barang-barang peninggalan Daddy dan mommy." ujarnya yang tak terima saat Rebecca dengan bebas memakai semua barang-barang berharga sang mendiang Daddy dan mommynya.


"tunggulah aku akan melemparkan kalian keluar dari mansion milikku." seringai muncul dari bibir Ruby.


a


__ADS_1


__ADS_2