Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 12 sarapan


__ADS_3

Bab 12


Cahaya mentari telah bersinar, mengusik tidur gadis cantik nan manis yang memilki garis wajah teduh. Wajah itu dihiasi hidung mancung, mata besar dan berderet bulu mata lentik. Jangan lupa alis yang terukir rapi.


Mata indah itu mulai mengerjap dengan perlahan. Beberapa detik kemudian mata dengan netra hazel itu terbuka sempurna. Ruby menggeliat dengan perlahan dan hati-hati.


Hari ini dia akan mengumumkan perpindahan nama hak waris untuk semua kekayaan peninggalan orang tuanya, terutama perusahaan peninggalan sang Daddy yang terbesar di kota K. Ruby sudah yakin akan menyerahkan semuanya kepada Alex Graham suami yang begitu Ruby cintai.


Dia berpikir toh selama Daddy pergi, Alex lah yang mengantikan sang ayah dan membuat perusahaan itu makin sukses. Ditambah, Ruby tidak mungkin memimpin perusahaan besar itu dengan kondisi cacat seperti ini, pikir Ruby dalam hati.


Ruby bangkit dari pembaringannya. Dia menggapai kursi roda dan pindah dengan perlahan. Setelahnya, Ruby mendorong kursi rodanya itu ke arah kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Ruby melepas semua pakaiannya dengan perlahan. Kini Ruby sudah polos di bawah air shower yang mengalir membasahi tubuh putih mulusnya.


Ruby keluar setelah usai mandi. Dia keluar dengan berbalut handuk di tubuh mungilnya. Di kursi rodanya masih terdapat sisa-sisa air. Ruby kemudian mendorong kembali kursi rodanya ke walk in closet.


Kini Ruby terlihat anggun dan cantik bak putri. Dia mengenakan dress cantik tanpa lengan berwarna pink dibalut blazzer berwarna hitam. Rambut Ruby yang panjang di biarkan terurai cantik.


Seseorang mengetuk pintu kamar Ruby. Dia tahu betul siapa orang di balik pintu yang memang setiap hari melayani dirinya.


Bibi Lili muncul setelah Ruby memberi izin masuk.


"Anda sudah siap, Nyonya?" tanya Bibi Lili sembari memandangi sang nyonya dengan tatapan kekaguman. "Anda cantik sekali, Nonya," puji Bibi Lili.


Ruby tersipu malu atas pujian pelayan setianya. Dia pun tersenyum ke arah Bibi Lili.


"Terima kasih atas pujiannya, Bi."


"Nyonya, apakah anda yakin untuk menyerahkan semuanya kepada Tuan Alex?"


"Aku yakin, Bi. Ini demi kebaikan dan bukti cintaku kepada Alex." Ruby menyakinkan dirinya dan tersenyum, semoga setelah ini Alex kembali kepadanya, batin Ruby.


"Waktunya sarapan, Nyonya. Tuan Alex sudah menunggu Anda di bawah."


"Alex ada di sini, Bi?" seru Ruby dengan wajah berbinar.


"Iya, Nyonya. Dia sudah menunggu Anda bersa--"


Belum selesai Bibi bicara, Ruby langsung memerintahkan Bibi Lili ntuk mengantarnya ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, dia tertegun. Bukan hanya Alex yang ada di sana, tapi ibu mertua dan wanita muda yang tempo hari datang. Wanita muda itu kini duduk di samping Alex dan bergelayut manja di lengan Alex.


"Ehem ...." Ruby berdehem untuk menelisir perasannya.

__ADS_1


Bibi Lili mendorong kursi roda Ruby mendekat ke meja makan di mana telah tersedia macam-macam menu sarapan. Ruby duduk di sisi sebelah kanan Alex.


"Ck ... dasar lamban!" decih sang mertua.


"Maaf," ujar Ruby.


Saat ini Ruby memandangi wajah tampan suaminya. Sedangkan Alex tak menghiraukan. Dia asyik dengan ponsel canggihnya.


"Apa kabar, Lex?" Ruby menanyakan kabar sambil ingin menyentuh tangan suaminya. Alex yang melihatnya cepat-cepat menghindar.


"Ehem ... sarapanlah cepat dan kita berangkat ke kantor!" kata Alex kepada Ruby.


"Baiklah." Ruby hanya tersenyum getir saat Alex menghindarinya.


Sedangkan wanita yang di sebelah kiri Alex tersenyum sinis. Diamenggenggam tangan Alex yang ada di sisinya tanpa sepengatahuan Ruby.


"Makanlah yang banyak supaya kandunganmu sehat dan kuat, Lexi sayang."


Jantung Ruby berdegung kencang dan menatap ibu mertuanya dan wanita itu bergantian.


"Hamil?" cicitnya. "Dia sedang hamil, Ma?" tanya Ruby penasaran.


"Iya, dia hamil anak Al--"


Belum selesai wanita itu berbicara, Alex langsung menyela.


"Ini semua karenamu Alex tak menghabiskan sarapannya. Kau memang istri tak becus!" sinis ibu mertua kepada Ruby.


"Aku hanya bertanya, Mama," cicit Ruby lagi.


"Cepatlah habiskan sarapanmu dan jangan banyak tanya urusan kami! Oh iya, mulai sekarang Mama dan Lexi tinggal di sini. Mama akan memakai kamar orang tuamu yang itu," ujar ibu Alex sambil memandang kamar dengan pintu mewah di lantai atas yang mencolok.


"Tidak bisa, Nyonya Lemi! Kamar itu milik mendiang Tuan Robert dan Nyonya Liza. Dan di kamar itu masih banyak barang-barang Nyonya Liza dan Tuan Robert."


"Saya tetap mau kamar itu. Bereskan semua barang-barang yang ada di sana!" Mama Alex bersikeras sembari menunjukkan wajah sombongnya.


"Ruby tidak bisa, Mama. Hanya kamar itu lah pengobat rinduku kepada Daddy dan Mommy." Ruby menolak dengan halus dan hati-hati.


Tidak mungkin Ruby menyerahkan kamar itu karena di kamar itulah Ruby habiskan waktu apabila ia merindukan kedua orang tuanya.


"Apa kau bilang?! Jadi kau menolak permintaanku? Dasar menantu pelit!" hardik mama Alex


"Bukan begitu, Ma. Hanya kamar itu satu-satunya pengobat rindu Ruby kepada mendiang Daddy dan Mommy. Sekali lagi maaf, Mama, Ruby tidak bisa."

__ADS_1


Mama Alex yang mendegar penolakan Ruby atas perintahnya, lantas berdiri dan mendekati Ruby. Dengan wajah memerah menahan amarah, dia mengangkat tangannya bermaksud menampar Ruby. Namun, suara dari belakang menggagalkan niatnya.


"Mama! Apa yang kau lakukan?!" Suara berat dan dingin Alex menghentikan aksi wanita paruh baya itu.


Tangannya menggantung, dadanya naik-turun berusaha menekan amarah. Mama Alex pun menurunkan tangannya dan memandang tajam Ruby.


"Pokoknya, Mama mau kamar itu! Titik!" sang mertua bersikeras.


"Tapi, Mama ...."


"Sudah biarkan saja Mama menempati kamar Daddy dan mommy!" perintah Alex, dingin tak terbantahkan.


"Haaah ...." Ruby hanya bisa menarik napas dan memejamkan matanya.


"Bibi Lili, suruh pelayan lain membersikan kamar Daddy dan Mommy. Nanti simpan barang-barang Mommy dan Daddy di kamarku yang lama!" Ruby akhirnya mengalah dan memerintahkan Bibi Lili


"Tapi, Nyonya ...."


Bibi Lili tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat Ruby memberi kode dengan gelengan.


"Dan jangan lupa, siapkan kamar juga buat Lexi," perintah mama Alex.


"Baiklah, Nyonya Lemi."


Sedangkan Lexi wanita yang bersama ibu Alex itu hanya terdiam menyaksikan semua drama pagi ini dengan senyum kemenangan dan licik.


"Tunggu sebentar lagi, Ruby! Dan kau akan aku buang!" batin Lexi diiringi seringai kelicikan dalam hatinya.


"Apakah kalian sudah siap? Kalau sudah ayo kita berangkat sekarang! Krena semua orang menunggu kita," kata Alex sambil melihat jam tangan mewah dan mahalnya.


"Bibi Lili, bantu Ruby masuk ke mobil!" perintah Alex kepada Bibi.


"Baik, Tuan."


Kini mereka sudah ada di dalam mobil untuk menuju perusahan. Ruby sedari tadi hanya diam, sesekali melirik Alex dan Lexi yang duduk berdekatan.


Ruby masih penasaran siapa Lexi. Apa hubungannya dengan Alex dan mertuanya itu? Anak siapa yang dikandung Lexi? Ruby terus bertanya dalam hati sambil melirik Alex dan Lexi yang sekarang sedang berbicara.


Sesekali mereka tertawa. Hati Ruby teramat perih melihat kedekatan mereka. Suaminya bersikap lembut dan hangat kepada orang lain sedangkan kepadanya selalu bersikap dingin dan datar.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih atas dukungan kalian yang sudah membaca karya saya yang masih banyak typo ☺️☺️☺️


__ADS_2