
"Menyingkirlah," perintah Amber saat Ken menghalangi jalannya yang sedang menuntun Ruby.
"Ck! bantu aku, bodoh." pekik Amber lagi, saat Ken masih membeku di tempatnya.
Ken yang begitu terperangah, saat Amber menghajar dua pria, bajingan yang berani membawa Ruby. wanita itu, bagaikan wanderwomen, yang membuat Ken, makin terpesona dengan sosok Amber yang tangguh.
"KEENAN!!! teriak Amber, saat pria itu malah asyik tersenyum sendiri.
"Eh-iya, sayang," ucapnya terkejut.
Amber menatap Ken dengan tajam, "berhentilah, memanggil, sayang ….!!! protes Amber.
"Ok! jawab Ken, dan membantu Ruby keluar dari club.
"Semua, ini karenamu! coba kita terlambat sedikit saja, pasti Ruby sudah dalam bahaya, dan aku pastikan kau akan aku bunuh." gerutu Amber, di sepanjang jalan mendekati mobil Ken.
Ken hanya memutar matanya malas, ternyata wanita ini bar-bar juga.
Amber membantu Ruby yang sudah tak sadar itu , berbaring di kursi belakang. sedangkan dirinya terpaksa duduk di samping Ken.
"Ini, apa.?" tunjuk Ken, di pipi Amber
"Apa? Amber menyentuh pipinya dan memeriksanya.
"tidak ada, sesua ….!" ucapan Amber terhenti saat Ken kembali melumut bibirnya saat dia menoleh kepada pria mesum ini.
"dasar, pria mesum!!!! pekik Amber menghapus kasar bekas ciuman Keenan.
"Bibirmu, manis sweety! membuatku candu." bisik Ken.
__ADS_1
"Pria, mesum," bugh." satu bogem Amber berikan di rahang tegas Ken
"Sial! kau akan merusak wajah tampanku, sweety." ringis Ken sambil mengusap-usap rahangnya, yang terasa kebas.
"diamlah dan jalankan, mobilnya aku sangat lelah,!" perintahnya dan menghempaskan tubuhnya di sandaran mobil.
"tidurlah, sweety! ucap Ken lembut dan mengusap rambut Amber.
*
*
*
Rebecca, hanya mampu mengerang dan memaki, kasar para pria sewaannya, yang dia suruh untuk membawa Ruby dan melecehkannya, tapi yang dia dapatkan, para pria itulah yang sekarang terbaring di lantai dengan keadaan babak belur.
"Akhhh." dengan keadaan yang begitu frustasi, karena lagi-lagi rencananya gagal, Rebecca memasuki club dan memesan beberapa minuman, Rebecca, menghilangkan rasa kesalnya dengan minuman yang sekarang membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri.
*
*
*
Sementara di mansion keluarga Kevin Cole.
Boy, menerawang dengan tatapannya yang hanya pokus kedepan. dia memikirkan Rubynya, yang sudah berani membantahnya dan mengabaikannya.
Sejak tadi Boy, mencoba menghubungi Rubynya, saat dia mendapatkan beberapa foto Ruby yang tampil seksi, di sebuah pesta pernikahan, dan paling membuat Boy meradang dan ingin cepat kembali ke negara K, saat Ruby dengan senangnya berbincang bahkan tertawa lepas dengan beberapa pria.
__ADS_1
Boy menggenggam kuat pagar besi pembatas balkonnya, sehingga urat-urat telapak tangannya terlihat.
"Ternyata, aku terlalu lama meninggalkan mu, baby! sehingga kau sudah berani mengabaikanku dan membantahku, baby."
"Sabarlah, baby! aku akan kembali dan aku pastikan kau tidak akan berani membantahku lagi."
"Sudah, cukup kau bermain-main dan terlalu bebas, baby dan mulai besok aku akan selalu, berada di sisimu."
"Akhh, Baby!!!! geram Boy, saat mengingat foto Ruby bersama salah satu pria yang begitu akrab dengan Rubynya.
"Kau, hanya milikku, baby …, milikku!!! gumamnya dan menghempaskan nafasnya kasar.
Boy, sudah tidak sabar untuk bertemu Rubynya yang dia tinggal 1bulan lebih di negara K. meskipun Boy, tidak bisa menghubungi Rubynya, tapi dia menempatkan salah satu anak buahnya, untuk mengawasi Rubynya setiap hari.
"Sial!! umpatnya, saat dia mencoba menghubungi Ruby kembali, tapi Ruby tak menjawab panggilannya dan Ruby malahan mengabaikan panggilan Boy.
*
*
*
Sedangkan di kamar lain, seorang gadis memuji penampilannya yang dapat mengundang gairah seorang pria yang melihatnya.
Gaby berniat menjalankan rencananya malam ini, untuk menjadikan Boy miliknya.
Gaby memperhatikan penampilannya di depan cermin kamarnya, dia malam ini Gaby memakai gaun malam sangat tipis, memperlihatkan tubuh dan kulit indahnya.
"Malam, ini kau akan menjadi, milikku, kakak." gumamnya dengan senyum yang merekah.
__ADS_1