Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 80


__ADS_3

"Clek." 


"Kau, belum tidur, Baby.?" Boy yang baru menyelesaikan pekerjaan bersama Bram mendapati, Rubynya yang belum tidur.


Ruby menggeleng, "aku, tidak bisa tidur," jawabnya dan merentangkan kedua tangannya, kepada Boy.


Boy melepaskan kaosnya dan berjalan mendekati Ruby, memamerkan perut kotak-kotaknya dan punggung kokohnya.


Ruby menganga, dan menghentikan nafasnya sejenak saat melihat tubuh sempurna Boy. Ruby meneguk salivanya pelan saat paman mesumnya itu, semakin mendekat padanya.


"Ke-napa, paman tidak memakai baju.?" Ruby menyembunyikan wajah memerahnya dan bertanya dengan gugup.  jantungnya sudah terasa ingin melompat pada tempatnya.


Boy mengangkat sebelah alisnya, dan detik berikutnya dia menyeringai, saat melihat kegugupan sang kekasih.


"Kenapa, aku harus memakai baju? bukankah kau sangat suka menghirup tubuhku tanpa baju.?" ujar Boy dan menaiki ranjang dan merebahkan tubuh tingginya di samping Ruby.


Ruby tak menjawab, dia menolehkan wajahnya kesamping dan wajahnya tambah merona.


"Kemarilah, baby." panggil Boy sambil membuka lebar tangan kirinya.


"Ayolah, baby … come on, bukankah kau mengatakan tidak bisa tidur? jadi kemarilah aku akan memeluk mu, aku yakin kau pasti tertidur nyenyak dalam pelukan ku. goda Boy pada wanitanya itu.


Ruby pun mendekat dan merapatkan tubuhnya kepada Boy, menyelusup kepalanya pada dada bidang Boy dan menghirup wangi tubuh pria itu, yang membuatnya tenang. dada bidang yang penuh kehangatan dan wangi maskulin yang sangat menyenangkan.  


Boy mengusap-usap rambut panjang Ruby dan mengecupi kepala wanitanya dengan perasaan sayang.


"Tidurlah, baby." ucap Boy dengan suara yang mulai serak dan suhu tubuhnya mulai merasa panas.

__ADS_1


"Sial." umpatnya dalam hati saat, merasakan kepala bawahnya on.


Boy memandangi wajah cantik alami Ruby, yang sudah tertidur dengan nyenyak. sedangkan dirinya menarik nafas kasar dan mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.


"Oh, Tuhan … sepertinya aku harus cepat-cepat menikahinya."  gumam Boy dan menatap pada kepala bawahnya yang sudah tegak.


*


*


*


Sementara di kamar lain.


"Sayang, masuklah disini dingin," Bram menyampirkan jaket pada tubuh Amber yang sedang memandangi langit malam di balkon.


Menyingkirkan rambut panjang dengan warna coklat itu kesamping dan menyelusupkan wajahnya di ceruk leher Amber.


 Mengecup dan bahkan menghisap leher wanitanya.


membuat tubuh Amber menegang.


"Dear," lirih Amber sambil mengigit bibir bawahnya, saat Bram masih asyik di ceruk lehernya.


"Dear." panggilannya lagi dan memutar tubuhnya.


"Aku, hanya melakukannya di sini, sayang, … aku janji tidak akan melakukan itu, sebelum kita menikah." ujar Bram dengan wajah yang sudah merah dan suaranya yang sudah serak.

__ADS_1


Amber kembali memeluk erat tubuh Bram, dia tersenyum bahagia saat merasa hidupnya sangat berarti buat seseorang dan dia berjanji akan berusaha membuka hatinya dan mencintai pria yang sekarang membalas pelukannya tak kalah eratnya.


"Ayo, kita masuk, udaranya semakin dingin." bisik Bram dan menuntun sang kekasih masuk kedalam kamar.


Amber mendekati ranjang, berniat mengambil bantal dan selimut, dia ingin melangkah kearah sofa dan tidur disana. tapi langkahnya terhenti saat Bram menghalangi jalannya.


"Kau, mau kemana, sayang.?" tanya Bram dengan kedua alis tebalnya terangkat keatas.


"Mau, tidur di sofa." balas Amber enteng dan meneruskan langkahnya kearah sofa.


"No, … kau harus tidur denganku." tolak Bram dan langsung  mengendong Amber, membawanya ke ranjang.


"A-aku, tidur disana saja." tolak Amber, dia berusaha turun dari ranjang. tapi tangan kekar Bram menarik tubuhnya hingga jatuh di atas dada Bram.


"Kau, tidak boleh kemana-mana, kau akan tidur bersamaku." ujarnya dan menghadiahi dahi Amber dengan kecupan tulus.


"Tapi, aku tidak bisa tidur dengan posisi seperti ini, dear."  tolaknya dan mengeliyakan badannya agar terlepas dari kurungan tangan kekar Bram di pinggang rampingnya.


"Dear." rengek Amber saat usahanya untuk lepas, sia-sia.


"Diamlah, dan tidurlah, sayang."


"Kau, bisa membangunkan, si kepala batu di bawah sana." ungkap Bram dan menggesek-gesekkan kepala bawahnya di perut Amber.


"Apa, kau merasakannya.?" tanyanya dengan senyum lebar.


"Berkenalanlah, dia kepala bawahku yang gagah perkasa." ucapnya dengan alisnya yang naik turun.

__ADS_1


__ADS_2