
Suara tautan mulut terdengar di salah satu ruangan kosong yang ada di mansion milik Ruby. Tautan bibir itu turun ke leher jenjang nan putih milik gadis itu.
Sang wanita terkesiap saat tangan kekar sang pria menari-nari di setiap tubuh indahnya. Suara indah nan mengoda milik wanita tertahan saat pria itu memainkan pusat tubuhnya dan pu *** gunung kembar indahnya.
"Apakah kita akan melakukannya di sini Alex?" Sang wanita bertanya dengan suara seksi yang sangat menggoda.
"Tidak sekarang sayang! Tahanlah sebentar dan tunggu aku malam ini! Oke?" kata Alex dengan suara seraknya.
"Harus sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini, Alex? Aku tidak suka kau terlalu mesra dengan istri bodohmu itu!" Wanita itu berkata sinis sambil mencebikkan bibirnya.
"Sabarlah, Sayang! Setelah semuanya sudah ada di tangan Ruby dan rencana kita berhasil, aku janji akan meninggalkan gadis manja itu!"
Alex menjawab perkataan wanita itu.
Alex mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal, giginya bergemerutuk dan tatapannya menghunus tajam ke depan. Dia sangat membenci keluarga Ruby terutama Daddy Ruby. Dia berjanji suatu saat dia akan menghancurkan keluarga itu dan menguasai semua kekayaan yang dimiliki orang tua Ruby.
Salah satu caranya adalah membuat Ruby jatuh cinta kepadanya meskipun dia harus menahan rasa benci. Dia ingin Ruby menjadi pion untuk menguasai harta ke dua orang tua Ruby.
Entah dendam apa yang dimiliki Alex kepada keluarga Ruby sehingga dia ingin menghancurkan keluarga Pattinson yang menerima Alex apa adanya. Hanya daddy Ruby yang selalu menatap Alex penuh curiga dan selalu mengawasinya.
"Sayang, berhati-hatilah! Dan jaga emosimu! Jangan sampai semua usaha kita sia-sia, Sayang!" Wanita itu mengingatkan Alex.
"Kau juga berhati-hatilah! Karena Tuan Robert selalu mengawasi kita! Jadi, jaga sikapmu dan jangan menemuiku dulu! Oke, Sayang?"
"Baiklah, Sayang! Kabari aku kalau kau membutuhkanku, Sayang!" Wanita itu mematuhi Alex dan mengecup bibir Alex sebelum mereka berpisah.
"Padahal aku sangat merindukan adikmu yang gagah ini, Sayang!" Wanita itu mengoda Alex sambil mengelitik adik gagah dan kokoh milik Alex.
"Tunggu aku, Sayang! Nanti aku akan datang ke tempatmu, aku juga merindukan lembahmu dan goyangan indahmu yang mamapu membuatku terbang!" Alex berkata sambil tangan besarnya berkeliaran di tubuh si wanita.
Mereka pun melanjutkan cumbbuan mereka yang penuh hawa panas itu.
Sedang di taman, Ruby yang sejak tadi menunggu Alex yang tak kunjung datang merasa gelisah karena acara inti akan segera dimulai. Ruby pun menyusul Alex masuk ke dalam masion mewah yang bergaya klasik itu.
Ruby menaiki tangga menuju kamarnya. Ia ingin memanggil Alex yang sudah dari tadi menghilang, yang katanya ingin ke kamar mandi. Ruby membuka pintu kamarnya tapi dia tidak melihat Alex. Dia pun memeriksa kamar mandi.
"Kosong. Ke mana Alex?" batin Ruby.
Ruby keluar dari kamar mewahnya itu kemudian memeriksa setiap ruangan yang ada.
"Alex β¦ Alex... Alex sayang ... Alex sayang β¦!"
"Kau mencari Tuan Alex, Nyonya?" Wanita itu bertanya kepada Ruby.
__ADS_1
"Iya, apakah kau melihatnya?" Ruby menjawab dan bertanya kepada wanita itu.
"Aku melihat Tuan Alex di balkon sana, Nyonya."
Wanita itu menunjuk di mana Alex berada.
"Baiklah, terima kasih," ujar Ruby sambil tersenyum.
"It's ok, Nyonya." Wanita itu berkata dan tersenyum sinis saat Ruby melangkah ke arah Alex.
"Cih! Alex cuma milikku, dasar bodoh!" Wanita itu berkata sinis dan melangkah menjauh.
Ruby yang melihat pundak kokoh Alex, lantas mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Sayang, aku mencarimu dari tadi," kata
Ruby sambil menghirup wangi tubuh Alex.
Alex tidak menjawab. Dia masih mengontrol perasaannya karena tadi dia hampir ketahuan saat Ruby mencarinya di setiap ruangan.
"Sayang ...." Ruby membalikkan badan Alex dan mendongak untuk melihat wajah tampan Alex. Dia membelai wajah suaminya dengan lembut.
Alex memejamkan mata saat Ruby membelai wajahnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ruby dengan tatapan binggungnya.
Alex hanya menggeleng dia tidak mampu berkata-kata karena jantungnya masih berdegup kencang.
"Aku tidak apa-apa, Sayang." Akhirnya Alex mengeluarkan suara beratnya setelah jantungnya normal kembali.
"Tapi tadi muka kamu pucat, Sayang." Ruby masih bertanya dengan nada khawatir.
"Aku sehat, Sayang! Tadi aku hanya memikirkan kerjaan saja. Ada masalah sedikit di perusahan, Sayang. Jadi tenanglah, oke?" Alex menyakinkan Ruby.
"Kamu yakin?"Ruby menyakinkan lagi.
Alex hanya mengangguk.
"Syukurlah," ujar Ruby dan langsung memeluk Alex menengelamkan wajahnya di dada bidang dan seksi Alex.
Alex membalas pelukan Ruby dengan tatap datar dan tersenyum licik.
Pesta ulang tahun pernikahan Ruby dan Alex masih berlanjut meriah. Tamu undangan masih berdatangan meski sudah tengah malam, kebanyakan dari teman-teman Alex dan Ruby.
Ruby dan Alex sekarang sedang berdansa dengan mesra. Alex mengecup puncak kepala Ruby sesekali.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Alex, sangat mencintaimu." Ruby menatap Alex dengan penuh cinta. "Berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkanku, Sayang! Kau akan selalu bersamaku." Ruby mengungkapkan cinta yang terdalam dengan tulus dan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku berjanji, Sayang." Alex langsung melumaat bibir mungil Ruby dengan lembut.
Para tamu pun bersorak dan bertepuk tangan, melihat keromantisan pasangan bahagia itu. Tidak dengan gadis dengan gaun seksi berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Gaun itu mencetak sempurna tubuh sintal nan seksi gadis itu.
Gadis itu menghampiri pasangan kasmaran yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan itu.
"Hay, Ruby, Alex, selamat semoga kalian selalu bahagia," ucal gadis itu sembari mengulurkan tangan kepada Ruby dan Alex.
"Rebecca, kau datang? Kapan kau tiba dari luar negeri?" Ruby senang sahabatnya sejak kecil datang ke pestanya. Dia langsung memeluk sahabatnya dengan gembira.
"Tadi pagi." Gadis itu membalas pelukan Ruby.
Ruby melepas pelukannya dan menatap Rebecca. "Kenapa kau tidak pulang ke mansion?" Ruby menatap sahabatnya itu sambil memicingkan mata.
"Hahaha, aku bersama kekasihku, Ruby." Rebecca terkekeh menjawab pertanyaan Ruby.
"Oh, God." Ruby memutar matanya jengah. "Terus, mana kekasihmu?" Ruby bertanya lagi sambil celingkuk kesana kemari mencari kekasih yang Rebecca maksud.
"Dia tidak ikut. Kekasihku itu sibuk, By," jawab Rebecca sambil menatap Alex dengan penuh maksud.
"Begitu, yah? Padahal aku ingin mengenalnya, Becca," ujar Ruby dengan nada kecewa.
"Nanti aku kenalkan denganmu, oke?"
"Oke." Mereka pun tertawa.
Orang tua Ruby melihat putri tunggal mereka yang sangat bahagia malam ini ikut merasa senang. Namun, ada juga rasa khawatir di wajah mereka, terutama sang daddy.
"Daddy yakin akan melakukannya?" Mommy Ruby bertanya kepada sang suami yang sudah berumur setengah abad itu tapi masih terlihat tampan dan bugar.
"Iya, Sayang. Ini demi putri kita Ruby." Sang daddy berkata sambil melihat anak kesayangan mereka.
"Tapi Mommy takut Ruby terluka, Dad!" Mommy tak tega melihat putri cantiknya itu terluka nanti.
"Ruby akan lebih terluka nantinya kalau dia tahu kelicikan pria itu yang hanya memanfaatkan putri kita, Mom."
"Hah, semoga putri kita akan baik-baik saja, Dad."
"Pasti! Itu pasti, Mom! Aku melakukannya demi kebahagian putri kita meskipun dia akan terluka. Tapi, Daddy yakin itu tidak akan lama, Mom!" Daddy menerawang ke depan dia memikirkan sesuatu demi keselamatan sang putri.
"Semoga yang kau katakan itu benar, Dad!"
__ADS_1
Mereka masih menatap putri mereka yang masih bercengkrama dengan sahabatnya. Mereka memiliki firasat,bahwa akan terjadi hal buruk terhadap putrinya, apa bila mereka tidak bertindak cepat.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·