Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 38


__ADS_3

Kini mobil mewah yang membawa Alex dan Rebecca, telah tiba di, basment perusahaan Pattinson group. Alex dan Rebecca turun dari mobil, setelah sang sopir membukakan pintu mobil untuk mereka.


Alex turun terlebih dahulu, merapikan stelan jas mewahnya sejenak, setelah itu Alex mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya itu turun. Demi menjaga image mereka di depan publik, yang di kenal pasangan serasi dan harmonis itu, Alex dengan terpaksa bersikap manis kepada wanita menjijik ini.


Para pemburu berita, sejak tadi menunggu sang pemimpin baru perusahaan Pattinson group itu.


Para memburu berita itupun mengambil setiap gambar, Alex dan Rebecca saat mereka turun dari mobil, dan setiap gerak-gerik Alex dan Rebecca, tidak luput dari pantauan kamera para wartawan.


Alex dan Rebecca, memasukinya lobby perusahan, dengan langkah penuh percaya diri, setiap langkah mereka tak luput sari cahaya blis kamera para wartawan, Rebecca tidak akan menyia-nyiakannya momen ini, untuk pamer kemesraan dan ketenaran, Rebecca ingin semua orang tau, kalau dia sekarang adalah istri dari seorang Alex Graham, Pemiliki dari perusahaan Graham group. senyum ramah dan lembut, Rebecca berikan kepada para karyawan dan kolega bisnis Alex, saat mereka memasuki ballroom mewah yang cukup luas yang bisa menampung banyak tamu.


Sedangkan, Alex hanya menampakkan wajah dinginnya yang penuh wibawa. dia sebenarnya muak dengan sikap, Rebecca yang selalu mencari kesempatan untuk terlihat mesra, padahal dalam hati, Alex ingin sekali dia melemparkan wanita ular ini di rooftop perusahaan.


"Ck! memuakkan." gumam Alex saat salah satu wartawan meminta fotonya dan Rebecca berfose saling ciuman.


"Jaga, sikapmu Lex! bisik Rebecca di sela ciuman mereka. Alex tak menanggapi peringatan Rebecca, dia lantas melangkah untuk mendekati salah satu koleganya yang datang dari, Dubai.


"Terimakasih," ucap Rebecca kepada kameraman yang sudah mengambil foto Rebecca dengan beberapa pose.


Rebecca menyusul Alex untuk menyapa kolega sang suami. "Hai … mr jones." sapa Rebecca lembut, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kolega Alex dari Dubai itu.


"Hai, juga nyonya Graham." balas tuan jones.


"Anda, datang sendiri tuan, jones.? tanya Rebecca ramah, yang penuh kepura-puraan itu. sedangkan Alex hanya menatap Rebecca jengah.


"tidak, nyonya! saya datang dengan pasangan saya." ujar tuan jones sambil melirik wanita cantik disampingnya.


"cih! pasangan, sugar baby lebih tepatnya." gumam, Rebecca dalam hati sambil menatap intens, wanita yang bersama tuan jones, yang memiliki body seksi.


"Ck! dasar gadis murahan." Rebecca berdecak saat wanita bersama tuan jones, begitu sok manja.


"Menjijikan." batinnya lagi.


"Kau, tak pantas menghina wanita itu,! bisik Alex tiba-tiba, "karena dia sama denganmu, sama-sama wanita murahan." bisik Alex sinis.


Rebecca hanya bisa menatap Alex tajam, dan mengepalkan telapak tangannya, Alex yang melihat berubah wajah Rebecca, tersenyum licik dan meninggalkan, Rebecca yang masih memandangnya tajam.


"Alex Graham ….!!! geram Rebecca tertahan, sambil masih menatap punggung Alex tajam.


Alex melangkah untuk menyapa beberapa koleganya, yang sangat penting dan membahas tentang kerjasama mereka. saat ini Alex sedang asyik berbincang dengan koleganya, tapi perbincangan mereka terhenti, saat asisten Alex mendekati Mereka dan berbisik di telinga Alex.


"Hm! Baiklah." ujar Alex sambil mengangguk kepalanya.


"Baiklah, tuan-tuan, nikmatilah pestanya dan bersenang-senanglah. ujar Alex pada tamunya itu.


"tentu, kami akan bersenang-senang, tuan Alex. balas sang tamu.

__ADS_1


Alex melangkah mendekati asistennya, yang sudah menunggunya sejak tadi.


Sedangkan di basement perusahaan.


Ruby dan Bo, yang baru tiba di besemant perusahan, tapi mereka belum keluar dari mobil. Boy dan Ruby, masih duduk tenang di kursi penumpang, Ruby masih dengan hati yang berdebar-debar dan berusaha melawan rasa takut yang tiba-tiba datang, sedangkan Boy masih menyakinkan Ruby dan memberikan beberapa peringatan kepada sang puja hatinya itu.


"Kau, yakin baby! siap untuk menghadapi mereka.?


tanya Boy saat melihat Ruby, terdiam dan tangannya mulai dingin. Ruby menarik nafas dan menghempaskannya perlahan, dia menatap Boy dengan wajah yang sangat yakin.


"Aku siap." ujarnya dengan yakin.


"Baiklah, aku duluan dan ingat jaga jarak dengan pria brengsek itu,!" titah Boy penuh peringatan.


"Aku, pasti jaga jarak paman! karena aku tak ingin dekat-dekat dengan bajingan itu."


"Ok, aku duluan baby! berhati-hatilah," cup." ucap Boy dan mengecup kening Ruby. Setelah itu Boy pun turun dari mobil dan melangkah memasuki perusahaan Pattinson. Ruby terus memandangi Boy yang sudah menjauh, beberapa wartawan berusah mangambil foto Boy, tapi dihalangi para bodyguardnya.


Boy berjalan dengan penuh wibawa dan wajah dinginnya dan arogan itu, mulai memasuki ballroom perusahaan Pattinson, semua mata langsung tertuju padanya, apalagi mata para kaum hawa yang langsung berbinar, mereka pun masing-masing memperbaiki penampilannya dan mencoba mencari perhatian seorang Boy Raymond Cole, tapi mereka harus kecewa karena tuan, Boy tak menghiraukan mereka, yang hanya menatap mereka jijik.


"Selamat datang tuan Boy Raymond Cole." Sambut, Alex ramah yang di ikuti oleh Rebecca juga tentunya. yang sejak tadi berusaha bersikap anggun.


"Jaga sikapmu." bisik Alex mengingat Rebecca untuk tidak terlalu bersikap murahan.


"Terimakasih, karena anda sudah hadir di acara saya, tuan.! ujar Alex lagi yang hanya di balas sikap dingin Boy.


Rebecca yang sejak tadi menahan sikapnya, agar tak bersikap memalukan itu, hancur sejak melihat senyum tampan boy, dia lantas mendekati Boy dan berusahalah untuk berpura-pura memperbaiki jas Boy.


"Maaf, tuan Boy! jas anda-" langkah Rebecca dihentikan oleh Bram , saat berusaha mendekati boy dan menyentuh tubuh seksi boy Raymond Cole.


"Sial! kapan aku punya kesempatan untuk mendekati tuan boy."


"Dasar, j*l*ng akan tetap menjadi j*l*Ng," bisik Alex.


Rebecca hanya mencebikkan bibirnya, dan masih perusahaan mencari perhatian Boy.


"Cih! Menjijikkan." decih boy dalam hati, saat Rebecca mengeluarkan suara lembut nan menggodanya itu.


"Anda, datang sendiri tuan boy." tanya Alex.


"Tidak, aku bersama kekasihku." Balas Boy yang menekan kata kekasihku, agar wanita menjijikkan yang berada di dekatnya menjauh.


"Kekasih! cicit Rebecca.


"Dimana kekasih anda tuan.? tanya Alex lagi sambil mengedarkan pandangannya, untuk mencari sosok kekasih dari tuan Boy Raymond Cole.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia kesini." ucap Boy, "dan menghancurkanmu." gumam Boy dalam hati.


"Anda, ingin minum tuan? tawar Rebecca, dengan suara menggoda, dia tidak kehabisan cara untuk mengambil perhatian tuan Boy.


"Tidak." tolak Boy dingin.


Rebecca yang mendapatkan penolakan, terus mencari cara untuk dekat dengan tuan boy, dan seringai licik muncul di bibir seksinya, saat mendapatkan ide untuk, menyentuh tubuh kekar dan seksi tuan Boy. Rebecca berjalan mendekat kearah, minuman yang tersusun rapi di atas meja. dia lantas mengambil sebuah minuman berwarna merah, sambil berjalan kembali ketempatnya.


Tapi saat berjalan di dekat Boy, Rebecca pura-pura tersandung dan minuman yang dia pegang, sengaja menumpahkannya ke stelan jas Boy, yang membuat sang tuan muda arogan itu mengerang marah.


Rebecca yang pura-pura merasa bersalah itu, ingin membersihkan stelan jas Boy, tapi belum tangan, Rebecca berhasil menyentuh stelan jas Boy, sebuah tangan kekar mencekal pergelang tangannya yang cukup kuat, yang membuat Rebecca mendesis.


"Jaga, sikap anda nyonya." ujar asisten Bram dingin dan menatap Rebecca nyalang.


"Lepaskan! hey …, siapa kau berani-beraninya, menyentuhku dan berbicara kasar kepadaku, ingat, kau hanya seorang pelayan, dan tak pantas memperlakukan aku seperti itu." pekik Rebecca dengan wajah yang sudah memerah akibat amarah.


"Dasar, pelayan rendahan! ciuh". hina Rebecca sambil meludah sesamping.


Boy yang tak terima bawahannya di hina seperti itu, mengertak giginya dan menatap Rebecca tajam.


Sedangkan Alex berusaha, menghentikan kegilaan Rebecca, saat melihat raut wajah Boy dan para tamu undangan yang memandangi kelakuan Rebecca.


"Rebecca, berhentilah." bentak Alex, saat berhasil membawa Rebecca menjauh dari tuan Boy.


"Tapi, dia berani berbuat tidak sopan padaku Lex!!! teriak Rebecca balik.


"Aku, tidak terima di perlakukan seperti itu, oleh pelayan rendahan seperti dia." amuk Rebecca masih menatap Bram.


" Stop, Rebecca! kau tidak lihat, semua orang memperhatikanmu? dan kau tak lihat wajah tuan Boy yang tak terima, kau menghina asistennya."


"Jadi, berhentilah bersikap bodoh dan menjijikkan seperti tadi, karena tuan Boy Raymond Cole tak akan tertarik dengan sampah sepertimu."


"Brengsek kau Alex,!!! pekik Rebecca, saat Alex sudah meninggalkannya sendiri di pojok ballroom itu.


"Aku, pasti bisa mendapatkan tuan boy, pasti." monolognya dengan rasa percaya diri.


"nyonya! waktunya acara inti." lapor asisten Alex. karena sebentar lagi acara inti akan di Laksanakan. Rebecca pun melangkah kearah pedium di mana Alex sudah berdiri dengan gagahnya.


"ck! masih saja murahan." sinis seorang wanita cantik, yang sejak tadi melihat dan mendengar ucap Alex dan Rebecca.


"nyonya! Anda siap.?" ujar bodyguard yang sejak tadi menemaninya.


"siap!


"sudah saatnya, nyonya."

__ADS_1


"baiklah!


"Alex Graham, kehancuranmu akan di hitung mundur dari sekarang." seringai licik muncul di bibir mungil wanita itu.


__ADS_2