
"Aku, tidak menyangka caramu, menghabisi wanita itu sangatlah mengerikan." Boy mendelik Bram yang ada di hadapannya.
Sedangkan pria dengan manik abu-abu itu hanya tersenyum miring.
"Ck! ternyata kau tidak pernah berubah. tetap mengerikan dan gila." cibir Boy.
Sedangkan yang dicibir hanya mengangkat bahunya acuh.
"Aku, penasaran. melihat reaksi wanita tembok itu, kalau dia tahu. kalau pria yang dia cintai seorang psikopat mengerikan seperti mu." perkataan Boy, berhasil membaut Bram alias Griffin menegakkan punggungnya.
Bram mengeraskan rahangnya dan menghunus Boy dengan tajam. dengan gigi yang saling bergesekkan, Bram memberi peringatan kepada sahabatnya.
"Jangan, pernah mengatakan apapun padanya. kalau tidak aku akan melupakan kalau kita adalah sahabat. dan kau pasti tau setelah itu." raut wajah Bram begitu menakutkan dan suaranya pun berubah mengerikan.
Boy hanya tersenyum miring, menangkapi ancaman Bram.
"Ternyata, si psikopat gila ini, sudah bertemu pawangnya ternyata."
"Kau, begitu mencintainya. tapi kau harus ingin nyawanya juga dalam bahaya."
"Aku, tau itu. dan aku akan selalu melindunginya. bagaimana pun dia wanitaku sekarang. tidka ada yang akan melukainya, termaksud tua Bangka itu."
Bram berkata dengan pandangan tajam kedepan.
"Hm, … dan kau harus hati-hati dengannya, dude. Kakekmu, itu sangat kejam." ujar Boy sambil menepuk pudak Bram.
"Kau, ingin kembali sekarang.?" Bram bertanya dengan alis tebalnya terangkat satu, saat melihat sahabatnya itu berdiri dari duduknya.
"Hm, … aku takut dia terbangun dan mencariku. Rubyku begitu manja hari-hari ini." ujar Boy dan tersenyum.
"Ck! Bram hanya berdecak. ia pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Boy keluar dari cafe yang mereka datangi.
*
*
*
__ADS_1
"Ingin, pulang sekarang.?" Bram menanyai Amber yang tidak mengetahui kehadirannya.
Amber mendongak sebentar dan kembali menatap ponselnya.
Amber yang sedang duduk di sofa untuk menjaga Ruby, saat Boy dan Bram pamit ingin makan malam sebentar.
"Sayang, …!" seru Bram, saat sang kekasih tidak menghiraukan keberadaannya.
Amber tidak menyaut, karena sekarang dia masih fokus dengan ponselnya.
"Sayang, …!!!! seru Bram dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Amber kembali mengalihkan fokusnya pada ponselnya dan mendongak menatap wajah kesal Bram.
Dengan wajah tanpa dosa, Amber beetanya kepada Bram yang sedang menahan rasa kesal.
"Ada apa.?" tanyanya acuh.
Kening Bram terangkat dan dia menatap lekat wajah Amber.
"Mau, pulang sekarang.?" tanyanya lagi dengan menghela nafas.
"Tuan, saya. pamit pulang." pamit Amber.
Boy hanya mengangguk dan melirik kebelakang dimana wajah Bram yang terlihat kesal.
Amber melewati Bram tanpa menghiraukannya.
Wanita itu keluar dari kamar rawat Ruby dan berjalan dengan setengah tergesa. entah apa yang terjadi pada Amber.
Bram mengejar langkah kekasihnya itu yang sudah memasuki lift.
Bram menahan pintu lift itu saat akan tertutup.
Pria itupun meringsut masuk dan mendekati Amber yang membuang wajahnya kesamping.
Pintu lift tertutup dan hanya mereka berdua berada didalam.
__ADS_1
Bram mendekati Amber yang sedang bersandar di dinding lift dengan mata terpejam. pria itu menghapus jarang diantara mereka dan mengurung Amber dengan kedua tangannya dia letakkan di dinding lift.
Amber membuka matanya saat merasakan nafas hangat dengan aroma mint Bram. kini mereka saling bertatapan dengan lekat.
Bram mencium kening wanitanya lama. setelah itu pria itu kembali menatap wanitanya.
"Ada apa,? tanyanya lembut didepan wajah Amber.
Amber tidak menjawab, wanita terus menatap Bram.
"Hei, … ada apa? Apa aku melakukan kesalahan? apa aku menyakiti mu, sayang.?" Bram bertanya dengan nada panik. saat mata Amber sudah berkaca-kaca.
"Sayang, ada apa.?" tanyanya lagi,
"Katakan padaku, ada apa, Amber Wilson.!! Bram yang sudah tidak sabaran dengan sikap diam Amber meninggikan suaranya.
"Amber!!! geram Bram. saat wanitanya hanya menitikkan air mata.
"KATAKAN, AMBER ADA APA!!! teriak Bram emosi dan memukul dinding lift, membuat tangannya terluka.
Amber mengambil tangan terluka Bram dan memeriksanya.
Amber meniupi luka Bram dengan air mata yang berjatuhan.
" Sayang,!!! seru Bram lembut.
"Maaf, karena sudah membentak mu, sayang." mohonnya dengan lembut.
Amber tidak menjawab dia lalu masuk kedalam pelukan Bram dan menangis di dalam pelukannya.
"Aku, mencintaimu, dear … sangat mencintai mu."
"Berjanjilah, kau tidak akan meninggalkan ku."
"Berjanjilah, dear."
"Bawa, aku pergi dan mari kita hidup bahagia."
__ADS_1
"Aku, tidak mau berpisah denganmu. aku tidak mau menikah dengannya. aku hanya mau menikah dengan mu, dear."
Entah apa yang sedang di hadapi Amber, sehingga wanita itu meracau tidak jelas.