
Sebuah mobil Rolls-Royce Boat Tail, terparkir di sebuah restoran paling mewah dan terkenal di kota K. Seorang pria gagah turun dari mobil mewah itu, dengan penampilan yang sangat berkarisma, stelan jas mahal berwarna hitam, wajah tampan nan dingin, rambut pria itu tertata rapi dan jangan lupa pandangan mata elang sang pria yang mampu membuat wanita-wanita di sana menjerit kagum.
Dengan wajah dingin dan arogannya, Boy melangkah memasuki restoran itu dan berjalan kesebuah ruangan VIP yang sudah di pesan dari pihak Alex , Boy terus melangkah dengan di ikuti beberapa bodyguard terpilih. Boy tak menghiraukan para wanita yang sedang mencari perhatiannya.
Dari jauh Boy sudah melihat Alex dan Rebecca lewat dinding kaca ruangan itu. "Cih! menjijikan." batin Boy, saat melihat Rebecca dan Alex bercumbu. "Apa, kau sudah menyiapkan semaunya Bram.?" Boy bertanya pada sang asisten.
"Sudah tuan." sahut asisten Bram. Boy tak menjawab, dia mulai memasuki ruangan VIP saat salah satu bodyguardnya membukakan pintu untuknya.
Alex dan Rebecca menyambut sang tamu kehormatan itu dengan ramah dan jangan lupa sikap Rebecca yang menurut Boy sangat menjijikan.
Rebecca yang penampilannya sekarang begitu sangat seksi, kemeja putih yang beberapa kancingnya sengaja dia buka yang memperlihatkan dada padatnya dan bawah rok mini di atas paha yang apabila Rebecca duduk akan memperlihatkan paha dalamnya. Dengan kepercayaan tingkat tinggi Rebecca menyambut Boy dengan senyum penuh godaan syahwat, itu menurut alex dan tidak bagi seorang Boy Raymond Cole yang anti wanita. hanya Rubylah sang pawang hati Boy.
"Selamat datang tuan Boy.!" sambut Alex dan Rebecca sambil bersalaman. Rebecca yang bermaksud ingin bercipika-cipiki dengan Boy langsung di halangi oleh bodyguard Boy.
"Jaga sikap anda nyonya." ujar asisten Bram dingin.
"Silakan duduk tuan.!" sela Alex yang suasana
ruangan itu berubah canggung.
"Jaga sikapmu Beca.!" bisik Alex memperingati Rebecca. Rebecca tak peduli, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari perhatian Boy. Meskipun mendapat penolakan dan tatapan datar dari Boy, dia tetap mencoba mengoda Boy.
"Langsung saja pada intinya." kata Boy dengan dingin dan penuh kharisma.
"Bram! asisten Bram yang sudah mengerti maksud tuan mudanya itu, menyerahkan sebuah map berisi kontak kerja.
"Anda, tidak ingin mendengar presentasi tentang perusahaan kami tuan.? tanya Alex heran, itu di karenakan Boy langsung ingin menandatangani kontrak kerjasama.
"Kita, langsung saja tuan Alex, kami percaya atas kenerja perusahaan anda. ucap Boy dingin tanpa menghiraukan Rebecca yang sedari tadi mencoba mengodanya. Alex yang mengetahui kalau tuan Boy merasa terganggu dengan sikap Rebecca, langsung menandatangani surat kerja itu tanpa membacanya dulu. "Anda tidak ingin melihat surat kontraknya tuan Alex.?" tanya Boy.
"Tidak perlu, kami percaya kepada anda tuan Boy.!"
"Anda, seorang pengusaha mendunia tidak mungkin menipu kami.!" ujar Alex yakin. Boy hanya tersenyum senang dalam hati, karena rencana untuk mendapatkan tandatangan Alex akhirnya berhasil.
__ADS_1
Boy tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis menangkapi penjelasan Alex. "Cih! laki-laki bodoh sepertimu memang tak pantas buat gadisku.!" ejeknya
"Tampanmu juga tak setampan aku.!" Narsisnya
"Rubyku, hanya pantas untukku yang sangat tampan dan menawan ini.!" narsisnya lagi. Karena terlalu merindukan gadisnya, Boy tak menyadari dirinya tersenyum manis, yang mana membuat Rebecca menjerit dalam hati.
"Oh God, dia tampan sekali!
"Pokoknya dia harus aku dapatkan." batinnya menjerit. Rebecca mencoba mengoda Boy dengan, membuka satu kancing lagi baju kemeja yang dia pakai, dan menarik naik rok pendeknya yang memperlihatkan dalamnya, dia selalu memakai cara itu, untuk menggaet pria yang menjadi mangsanya dan usahanya itu berhasil, tapi tidak dengan Boy Raymond Cole yang hanya memandang Rebecca jijik.
"Oh iya, apakah dia istri anda tuan Alex.?" tanya Boy.
"Bu… bukan! tuan dia sekertaris saya.!" balas Alex gugup.
"Kemana istri anda.?" tanya Boy dengan memperlihatkan wajah binggung yang di buat-buat.
"Istri saya sudah meninggal tuan.!" ujar Alex dengan raut sedih.
Boy mencoba menahan semau emosinya saat mendengar perkataan Alex, dia mencoba bersikap biasa.
"Meninggal? jadi anak tuan Robert Pattinson sudah meninggal.?" kena kau brengsek. umpat Boy, saat melihat wajah tegang Alex.
Pertanyaan Boy itu sukses membuat Alex dan Rebecca menengang. "Sial, kenapa aku melupakan wanita cacat itu.!" umpatnya saat menyadari ucapannya.
"Istri, tuan Alex sedang keluar negeri tuan, dia itu seorang wanita cacat, jadi dia ingin berobat keluar negeri.!" Dengan tenang Rebecca menjawab pertanyaan Alex.
"Dasar wanita ular…! beraninya dia menghina Rubyku. geram Boy yang tak tahan sang pemilik hatinya di hina oleh wanita menjijikan seperti Rebecca.
"Yang, dikatakan sekestaris saya benar tuan, kalau sekarang istri saya sedang melakukan pengobatan untuk kelumpuhannya.!" Jelas Alex.
Boy yang tak tahan dan merasa panas saat Alex menyebut Rubynya istri. Boy memberikan kode kepada Bram dengan lirikan mata tajamnya, asisten Bram yang paham pun melakukan yang di perintahkan sang tuan muda.
"Tuan waktunya kita kembali ke negara A.!" lapor sang asisten.
__ADS_1
"Baiklah tuan Alex, semoga kerjasama kita berjalan lancar.!" ujar Boy, sambil bangkit dari kursi yang di dudukinya.
"Apa anda tak memasan makanan dan minuman dulu tuan Boy.?" tanya Rebecca dengan suara mengoda. Boy tak menjawab pertanyaan Rebecca dia langsung berjalan mendekati pintu keluar. saat Boy akan keluar waktu sang bodyguard membuka pintu, sebuah tangan mulus mencegal pergelangan tangan kekar Boy. Asisten Bram dan bodyguard yang melihat kelancangan Rebecca, langsung menghempaskan dan mendorong Rebecca dengan kasar. "Auww! ringis Rebecca saat bokong sintalnya mendarat mulus di lantai.
"Jangan, coba-coba menyentuh tuan kami nyonya.!" Hardik asisten Bram
"Dan, anda harus ingat tuan kami tidak suka di sentuh oleh wanita seperti anda.!" Hardiknya lagi.
"Tuan, Alex memohon kerjasama.!"
"Permisi! kini rombongan Boy sudah melangkah meninggalkan restoran itu, kini Boy sudah duduk di kursi belakang, sambil mengelap tangannya yang di pegang Rebecca tadi dengan tissue basah.
"Dasar perempuan menjijikan.! Berani-beraninya dia menyentuhku, apa dia tidak tau kalau tubuhku ini sangat berharga dan hanya boleh di sentuh oleh Rubyku saja.!" gumam Boy cengkel.
Kini mobil Boy menjauh dari restoran, menuju landasan di mana pesawat pribadinya dan para maskapai menunggu. Setelah pertemuan dengan Alex, Boy langsung kembali ke negara A, Boy tak mau meninggalkan gadisnya terlalu lama.
"Mana berkasnya Bram.!" Boy meminta berkas yang di tandatangani Alex tadi. Boy membaca berkas-berkas itu dan tersenyum puasa, ternyata sangat muda membodohi Alex si brengsek itu. Sekarang tinggal meminta tandatangan Ruby dan semua akan selesai,. Dia akan bebas bersama sang pemilik hatinya yang berharga. Siapa yang menyangka kalau salah satu berkas itu adalah surat perceraian Alex dan Ruby. Dengan kepintaran dan kelicikan seorang Boy Raymond Cole semua rencana untuk memiliki Ruby seutuhnya akan terkabul.
"Dasar bodah." sinis Boy.
***********
"Karena, ulahmu kita hampir kehilangan kontrak kerjasama dengan perusahaan ternama Beca.!" Bentaknya kepada Rebecca, kini mereka sudah berada di dalam mobil.
" Aku, tak peduli kontrak kerjasamanya." Yang aku inginkan bisa mendapatkan Boy Raymond Cole.!" ucap Rebecca dengan sinis.
"Ck! Seorang Boy Raymond Cole, takkan mau dengan ****** licik sepertimu.!" Sinisnya kepada Rebecca.
"Aku tak perduli, Boy harus menjadi milikku! milik Rebecca stawart.!" tegas Rebecca.
Alex tak menjawab, dia terus mengemudi mobilnya, kembali ke perusahaan. dia memiliki begitu banyak pekerjaan yang beberapa hari ini dia abaikan.
"Aku, pasti akan mendapatkan mu Boy Raymond Cole.!" batin Rebecca dengan yakin mampu mendapatkan Boy. Entah apa yang akan dilakukan Rebecca, untuk mendapatkan Boy Raymond Cole sang pria arogan itu.
__ADS_1