
"Apa, yang sedang kau pikirkan honey.?" ujar Rebecca sambil memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
"Kau, sedang apa disini.?" tanya Alex balik.
"Aku merindukanmu honey.!" bisik Rebecca sambil tangan mulus itu bermain-main di tubuh Alex.
"Hentikan...Beca.!"erang alex
"Wait…! bukankah kau menyukainya honey.?" kini tangan mulus terampil Rebecca sudah berada di inti tubuh Alex.
"HENTIKAN... Beca,!!!! hardik Alex sambil menghembuskan tangan Rebecca.
"Come on ...Lex! bukankah sudah lama kita tak bercinta? aku merindukannya honey.!" Rebecca tak menyerah dia tetap berusaha mengoda Alex.
"Keluarlah! perintah Alex dingin, tanpa melihat Rebecca yang kini sedang berpose mengoda, membuat pertahanan Alex lama-lama runtuh.
"KELUARLAH JALANG….!!! bentak Alex yang kesabarannya telah habis menghadapi kelakuan Rebecca.
"Ck! Rebecca berdecak sambil mendekati Alex yang sedang memijit pelipisnya.
"Kau kenapa honey,? apa yang membuatmu begitu kacau seperti ini honey.?" ucap Rebecca yang kini duduk di pangkuan Alex sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Alex. Alex yang sudah cegah akan kelakuan Rebecca hanya mampu mendegus kesal.
"Apa, ini ada hubungannya dengan pengacara Carlos.?" tebak Rebecca yang kini sibuk membelai wajah tampan Alex dan mengecup dan melumut bibir seksi itu, Alex hanya terdiam tak menghiraukan cumbuan Rebecca.
"Kenapa, kau tak menyingkirkan saja si tua Bangka itu honey.!" saran Rebecca sambil melanjutkan cumbuannya, Alex yang tahan pun membalas cumbuan itu, mereka kini saling melumut dan mengecup dan saling menyentuh, kini tangan Alex sudah berada di salah satu bukit nan tinggi itu.
"Saran kamu bagus juga sayang.!" ucap Alex dengan suara serak yang sedang di Liputi hasrat.
Rebecca menyerigai di sela cumbuannya di tubuh Alex, pancingannya untuk mengajak Alex naik-naik puncak kenikmatan berhasil, kini penampilan Alex sudah berantakan, kancing kemeja sudah terbuka dan kancing bawahnya sudah terbuka dan memperlihatkan sang pejuang nikmat tegak menjulang karena ulah terampil bibir seksi Rebecca. "Hoh...sayang! suara nikmat Alex lolos dari mulutnya yang kini sedang merasai bukit tinggi Rebecca. karena sudah tak tahan dengan pemanasan,akhirnya Alex melakukan gerakan inti.
Alex menghempaskan tubuh sintal Rebecca di atas meja kerjanya dan langsung pada gerakan inti, gerakannya yang tadinya pelan, kini menambah volume gerakannya, membuat Rebecca, berteriak nikmat.
*********
Boy kini sedang berada di balkon rumah sakit, menemani sang pujaan hati berharganya menikmati pemandangan kota A dari atas balkon.
__ADS_1
Kalau Ruby menikmati pemandangan, lain halnya boy yang sedari tadi memandangi wajah cantik bak bidadari , dia tak melepas pandangannya sedikit pun. "Oh... vitaminku! gumamnya saat Ruby mengerucutkan bibirnya, entah apa yang di pikiran Ruby sehingga raut wajahnya berubah-ubah, yang terlihat sangat mengemaskan di mata boy. "Baby, pliiisss…!berhentilah bertingkah seperti itu.!" teriak boy dalam hati.
"Hemm! asisten Bram berdehem, untuk menyadarkan bos bucin tingkat dewanya itu.
"Brammm!!! geram boy sambil menatap Bram sengit.
"Selamat, sore tuan dan nyonya Ruby.!" sapa Bram sambil tersenyum ramah.
"Sore juga kak Bram!" balas Ruby dengan lembut.
"Brammm!!! geram boy saat Bram merasa tebar pesona kepada gadisnya.
"Berhentilah, tersenyum jelek kepada gadisku.!"
"Baby, jangan tersenyum kepada Bram,! karena senyum cantikmu hanya milik aku, tidak boleh orang lain melihatnya.!" titah boy posesif, yang membuat asisten Bram memutar bola matanya malas. Ruby hanya tersenyum kikuk, dengan sikap boy yang begitu over posesif padanya.
"Tuan, 1 jam lagi kita akan berangkat ke negara K tuan.!" lapor asisten Bram
"Hmm! Boy hanya berdehem.
Ruby hanya diam sambil memandang boy dan asisten Bram bergantian.
Ruby hanya mengangguk. Boy mendorong kursi roda Ruby mendekati ranjang, Boy mengendong Ruby dan meletakkan di ranjang. "Cup! Boy mengecup kening Ruby. "Istirahatlah." ucapnya lembut sambil merapikan selimut Ruby.
"Paman, akan pergi.?" Ruby bertanya dengan tatapan senduh. "Oh Tuhan, baby jangan melihatku seperti itu, aku merasa tak rela meninggalkanmu.!" gumam boy dalam hati.
"Ehe…, aku pergi hanya sebentar Baby! aku harus mengurus hal yang sangat penting.!" Boy menangkup wajah cantik Ruby dan mengecupinya.
Ruby hanya diam menatap Boy, selama bersama Boy dia merasa di istimewakan oleh sosok Boy Raymond, sikap manisnya dan keposesifan Boy yang selalu di perlihatkan oleh pria itu setiap Ruby melakukan terapi, dan Ruby merasa di lindungi dan merasa berharga, tapi perasaan itu dia buang jauh-jauh, saat teringat sosok Alex yang begitu manis saat mereka bertemu, tapi pada akhirnya dia harus di kecewakan atas penghianatan yang di lakukan Alex dan Rebecca, yang paling menyakinkan bagi Ruby, dia tidak menyangka kalau pria yang selama ini dia cintai tega membunuh orang tuanya. Boy yang melihat mata Ruby yang sudah berair, langsung memeluk sang pemilik hatinya itu.
"Shttt! jangan menangis baby, lupakan semua kenangan yang penuh penghianatan dan luka itu, sekarang fokuslah dengan kesembuhanmu, apa aku mengerti baby.?" Ruby hanya mengangguk di pelukan Boy.
"Kau, ingin kembali ke sana.?" pertanyaan Boy sukses membuat tubuh Ruby menengang, dia mendongakkan kepalanya menatap Boy.
"Cup! satu kecupan mendarat di bibir Ruby.
__ADS_1
"Kau, tak ingin membalas perbuatan mereka baby, dan mengambil semua milikmu, yang di nikmati oleh mereka di atas penderitaan mu.!" Perkataan Boy sukses membuat raut muka Ruby berubah marah penuh dengan rasa benci.
"Kalau, kau ingin membalas mereka, maka sembuhlah dan aku akan membantumu baby.!"
"Apa, paman serius ingin membantuku menghancurkan mereka.?" kata Ruby dengan penuh aura dendam, kini tangannya mengepal di atas selimut, tatapan lembut kini berubah tajam tersirat oleh kebencian saat membayangkan Alex dan Rebecca bersenang-senang di atas luka hatinya.
Ruby berjanji akan membalas semua perbuatan manusia-manusia licik itu dan menghancurkan mereka. Boy menggenggam lembut tangan Ruby dan mengecupnya.
"Tenanglah baby, aku akan selalu membantumu dan berada di dekatmu, sekarang yang terpenting kesembuhanmu, jadi cepatlah sembuh dan kita kembali, untuk membalas mereka! apa kau mengerti baby.?" Ruby mengangguk dan menghapus air matanya.
"Aku, mohon berhentilah menangisi perbuatan mereka baby, air matamu ini hanya bisa menangis kepergianku dan saat kau merindukanku.!" goda Boy sambil menghapus air mata Ruby dan mengecup kedua mata indah itu. kelakuan manis itu sukses membuat Ruby merona malu.
"Paman….! rengeknya manja.
"Oh baby, bisakah kau berhenti memanggilku paman? dan berhentilah memanggil Bram kakak, aku merasa itu terlalu berlebihan, apa kau tak melihat kalau aku lebih muda dari Bram jelek itu.!"
Protes Boy yang tak terima di bandingkan oleh asistennya itu. sedangkan Bram hanya bisa mengumpat tuan mudanya itu.
"Tuan, saatnya kita berangkat.!" lapor Bram.
"Baby, kau harus sembuh dan jangan banyak berpikir, ok! Cup," Aku pergi dulu baby.!"
"Bi, aku titip Ruby kalau terjadi sesuatu cepat hubungi aku, dan aku sudah menyiapkan bodyguard, nanti dia akan kesini.!" pesan Boy kepada bibi lili.
"Anda, jangan khawatir tuan, saya akan menjaga nyonya Ruby.!"
"Hu'um! "Baby, aku pergi dulu, cup! satu kecupan terakhir Boy berikan di kening Ruby sebelum melangkah meninggalkan kamar rawat Ruby.
"Dia, sangat menyayangimu nyonya.!" sela bibi lili saat Ruby terus menatap pintu kamar itu.
"Tapi, aku tak pantas buat paman Boy bi,!"
"Aku, seorang gadis cacat yang malang bi.!" ucap Ruby sambil kembali menangis.
"Nyonya, anda harus kuat dan bangkitlah, bukankah tuan Robert berkata kalau anda harus memperjuangkan kebahagian anda dan anda harus kuat dan jangan lemah.?" bibi lili menguatkan Ruby dengan kata-kata terakhir sang Daddy.
__ADS_1
"Bibi, benar aku harus bangkit dan kuat.!" Ruby bertekat takkan lemah, dia harus memberi balasan kepada Alex si brengsek itu.
"Tunggu, aku Alex Graham, aku pastikan kau dan Rebecca hancur.!" geram Ruby dalam hati yang penuh dendam.