
" clek! kamar rawat itu terbuka, dan memperlihatkan sosok tampan bak dewa Yunani itu, yang sekarang melangkah mendekati ranjang pasien, bukan lebih tepatnya, mendekati sosok yang sedang tertidur di samping wanita, paruhbaya.
"Baby, kenapa tertidur disini.? ucap Boy setengah berbisik di telingan Ruby. tidak lupa Boy meninggalkan kecupan sayang di pipi Rubynya.
Ruby menggeliat, dan mendongak saat matanya terbuka lebar. dia tersenyum dan langsung memeluk pinggang kokoh pria tampan di sampingnya.
"kenapa, tidak istirahat disana, baby.? Boy, bertanya dan mengarahkan pandangannya ke bed yang sudah tersedia untuk, Ruby.
"aku, tidak mau meninggalkan mommy sendiri, aku takut, mommy akan pergi," lirih Ruby, yang masih mendongak ke atas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Boy, menghapus air mata Rubynya, saat air mata itu lolos dan jatuh membasahi pipi mulus Ruby.
"stttt, jangan menangis, baby! itu tidak akan terjadi, ada beberapa pengawal di luar, jadi mommy tidak akan bisa kabur, baby." Boy, mencoba menenangkan Rubynya, sembari menciumi kepala Ruby yang sekarang memeluk pinggangnya erat.
"sekarang, istirahatlah." perintah Boy.
Ruby menolak dengan gelengan kepala.
Boy, menghela nafas panjang dan membuangnya berlahan, Boy begitu sabar menghadapi keras kepalaan Rubynya.
"untuk, aku mencintaimu, baby." batin Boy, sambil tersenyum manis saat Ruby menatapnya dari bawah. dan itu sukses membuat Boy mengerang dalam hati, melihat wajah sedih Rubynya, menurutnya sangat mengemaskan, dengan hidung memerah, mata bengkak, pipi Ruby yang merona dan tatapan Ruby yang sendu.
"sial! dasar kepala tidak tau malu." maki Boy pada daerah pusat bawahnya, saat dengan tidak tahu malunya bangun dan berdiri tegang.
" oh, Tuhan! pertigo kepala bawahku kambuh." decaknya saat merasakan inti pusatnya mulai berdenyut-denyut.
Boy, bergerak tidak nyaman di dekat Ruby, yang sudah melepaskan pelukannya, dia juga merasakan ada sesuatu yang mengeras tapi bukan batu, Ruby pura-pura merapikan selimut mommy, dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
sedangkan Boy, berdiri dengan wajah yang memerah juga, tapi bukan karena dia malu, tapi penyakit kepala bawahnya kambuh.
"sial ....!!!! umpatnya dalam hati.
"Baby, aku ke toilet sebentar," pamitnya dengan suara serak tertahan.
Ruby hanya mengangguk dan masih menyembunyikan wajahnya.
Boy berjalan ke arah toilet dengan langkah yang aneh, Ruby yang melihatnya hanya menahan tawanya.
"dasar, paman mesum." gumamnya dalam hati.
"oh, kepala kapan kau akan mendapatkan obatmu." lirih, Boy sambil melihat kearah pusat tubuhnya.
"akkhh, aku akan mengurungmu dan menghajarmu berhari-hari, baby, tunggu saja,"
"sedangkan Ruby tertawa diatas penderita Boy Raymond Cole, yang sedang mengobati kepala bawahnya yang kambuh.
**********
"clek! dengan wajah lega dan decakan malas Boy, keluar dari toilet. dia melihat Ruby sedang menangis di hadapan mommynya, yang menatap Ruby cegah.
"mom, aku Ruby! anak mommy," ujar Ruby dengan tangisannya yang membuat Boy mengerang marah.
"kau, bukan anakku." tuduh mommy dan menyingkirkan Ruby dengan kasar dari hadapannya.
Ruby mengelekkan kepalanya dan masih berusaha memeluk tubuh sang mommy yang begitu dia rindukan.
__ADS_1
"dimana,. anakku, Alex!! pekik sang mommy.
"apa, yang kalian lakukan padanya, hah ....!!!! pekik sang mommy makin menggila bahkan sang mommy sudah histeris.
"mom, tenanglah.! hibur Ruby, yang mencoba menenangkan sang mommy, tapi di tolak bahkan sang mommy menepis kasar tangan Ruby.
Boy hanya terdiam, menyaksikan semua perdebatan Ruby dan mommynya.
Boy tak bisa melakukan apapun, dia takut mendekat, dan tidak bisa mengontrol dirinya.
jalan satu-satunya, Boy keluar dan memanggil dokter,. untuk menenangkan mommy yang semakin histeris sambil memanggil nama Alex.
"mom, tenanglah," ujar Ruby yang kesekian kalinya. tapi sang mommy tak menghiraukannya.
sang mommy, bahkan mencoba kabur dan keluar dari kamar rawat.
"mommy," pekik Ruby, saat sang mommy mencoba melukai dirinya.
bertepatan juga sang dokter dan Boy muncul, terpaksa sang mommy diberikan, obat penenang lagi.
"bagaimana, dokter.? tanya Ruby, saat sang mommy sudah tertidur di ranjang dengan, penampilan berantakan.
"bersabarlah, nyonya." jawab sang dokter.
"jangan, terlalu memaksanya, itu bisa membuat mentalnya terganggu." ujar sang dokter, yang membuat Ruby membeku.
Boy memeluk Rubynya yang sedang menangis itu, dia terus mengusap-usap punggung Ruby, memberikan ketenangan buat Rubynya.
__ADS_1