Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 109


__ADS_3

Mobil sport Ferarri hitam terparkir indah di depan mansion Pattinson.


Seorang pria berperawakan tinggi kekar keluar dari mobil mewah itu dengan penampilan yang sangat cool dan maskulin. kaos putih polos dan bawahan jeans hitam dan terdapat robek bagian lututnya. pria dengan tulang wajah kokoh itu melepaskan kacamata yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya.


Pria itu membuka pintu mobil sebelahnya dan memerintahkan seorang gadis turun dari mobil itu.


"Turunlah." perintahnya dingin.


Gadis itupun menurut, dengan wajah sedihnya dia turun dari mobil Bram dan dadanya kembali sesak saat menatap mansion mewah di hadapannya.


"Buang, jauh-jauh wajah menjijikan mu itu dan jaga sikapmu." perintah Bram kembali dan mendahului Gaby memasuki mansion Ruby.


"Ternyata, istri kakak bukan wanita biasa." gumam Gaby.


Gadis itupun menarik nafas panjangnya dan memasak raut wajah cerianya.


Gaby mengikuti Bram dari belakang dengan senyum ceria. tapi siapa yang tau didalam hati tersimpan rasa sesak yang begitu menyiksa.


"Aku, pasti bisa." gumam Gaby.


Dadanya kembali sesak bagaikan tertimpa batu besar, saat netra coklatnya melihat pemandangan yang sangat memilukan buatnya. disana. di ruangan luas dan mewah sepasang suami-istri sedang bermesraan dan saling bercumbu tanpa tau tempat.


"Kakak." lirihnya tertahan. Kalau biasanya dia akan segera berlari disaat maniknya melihat sang kakak dan memeluknya erat, maka kali ini Gaby berusaha menahan dirinya.

__ADS_1


Setetes air matanya jatuh, membasahi wajah imutnya. Bram memberi isyarat pada Gaby dengan mengedikkan kepalanya kearah Boy dan Ruby yang sedang bermesraan.


"Ehem." Gaby berdehem halus dan lembut.


"Kakak." terika Gaby riang.


Membuat pasangan pengantin baru itu berpaling kearah Gaby.


"Gaby, ….!? pekik Boy dengan senyum lega-nya.


Dengan segera Gaby berlari kearah sang kakak dan menabrakkan tubuh yang sangat di kaguminya itu. niat hati ingin berusah berhindar tapi apa ada rasa rindu itu terlalu kuat.


Boy menyambut pelukan sang adik tersayang dan mendaratkan kecupan sayang di puncak kepala adiknya. bagaimanapun Boy Sangat menyayangi adiknya itu. meskipun dia mengira kalau Gaby tidak serahim dengannya, tapi Boy tetap menyayangi gadis dalam pelukannya ini.


"Aku, merindukan mu kak." cicit Gaby di sela isakannya.


Boy melepaskan pelukannya dan menatap wajah imut adik. Boy tersenyum dan menghapus jejak air mata sang adik.


"Kakak, juga merindukanmu, girl." balas Boy sambil membelai rambut Gaby sayang.


Ruby menatap lekat interaksi Boy dan Gaby dengan intens. dia merasakan ada yang tidak beres dengan adik suaminya itu. dari tatapan gadis itu, Ruby bisa melihat rasa ingin memiliki dan rasa sayang seorang gadis kepada pria yang disukainya.


"Ehem." Ruby berdehem, menyadarkan suami dan adik itu yang sedang melempaskan rindu. ada rasa tidak terima saat Gaby memeluk paman mesumnya begitu erat.

__ADS_1


"Baby, kemarilah." pinta Boy sambil menyambut tangan Ruby dan menggenggamnya erat. perlakuan manis Boy tidak luput dari perhatian Gaby.


Gaby menatap lekat dan intens terhadap Ruby.


Rasa iri dan juga kagum menyerang hatinya. pantas sang kakak begitu tergila-gila pada wanita di hadapannya ini. wanita dari konglomerat dan keluarga terpandang, wajah cantik dan hati lembut, membuat rasa ingin memiliki Boy makin menyiut.


Dengan senyum tulus dan ramah, Ruby mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama.


"Hai, … aku Ruby. astaga kau manis dan imut sekali." sapa Ruby rumah dan menyematkan pujian untuk gadis itu.


"G-Gaby." balas Gaby gugup.


"Oh, iya girl. kau darimana.?" tanya Boy, yang membuat Gaby membeku dan terpaku di tempatnya.


Gaby menatap Bram yang hanya terdiam di sudut ruangan sambil melipat kedua tangannya di dada.


Bram hanya menatap Gaby tajam dan tentu saja Gaby bisa mengartikan tatapan Bram itu.


"A-ku, …!!


" Dia menginap di rumah temannya."


"iyakan, Gaby."

__ADS_1


__ADS_2