Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 119


__ADS_3

"Kakak, tidak mengantar aku ke apartemen.?" Gaby bertanya kepada sang kakak saat sudah berada di dekat mobil. Hari ini Gaby akan tinggal mandiri di apartemen Boy.


"Maaf, tidak bisa. Kakak tega meninggalkan Ruby sendiri." Jawab Boy lembut, sambil menggenggam tangan Ruby erat.


"Apa, kakak tega menyuruh ku tinggal sendirian di apartemen, kakak? Kakak bisa mengantar ku sebentar saja, bukankah dia masih mempunyai mommy yang menjaganya." Racau Gaby dengan linangan air mata.


"Maaf, girl. Kakak tidak bisa, ini sudah tanggung jawab kakak untuk selalu menjaga istri, kakak tercinta." Balas Boy, yang tidak memperdulikan isakan Gaby.


"Jadi, tanggung jawab, kakak sama saya sudah tidak ada.?" Tanya gadis itu dengan tatapan sendu.


"Kau, sudah dewasa dan kakak yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri. Sedangkan Ruby adalah istriku, yang sekarang jadi tanggung jawab untuk selalu membahagiakannya dan menjaganya."


"Tidak, mungkin kakak akan terus-menerus, berada di dekatmu, kau butuh mencari jati dirmu sendiri, dan belajar hidup sendiri, kau akan merasakannya saat kau menjadi milik orang lain." Perkataan Boy, bagaikan seribu anak panah yang menusuk hati dan tubuh Gaby. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa berusaha untuk menjadikan Boy miliknya.


"Aku, hanyalah milikmu, kakak."


"Berangkat, sekarang.?" Sela Bram dengan wajah cegah.

__ADS_1


Gaby masih menatap Boy dengan tatapan penuh harap. Dia berharap kakaknya itu berubah pikiran.


"Bolehkah aku memelukmu, kakak.?" Pinta Gaby dengan manik yang merah dan berkaca-kaca.


"Maaf, girl. Aku sudah berjanji pada istriku, tidak akan menyentuh wanita lain selain dia." Tolak Boy.


"Tapi, aku adikmu, kakak." Lirih Gaby tertahan.


"Walaupun, kau adikku, tetap aku tidak bisa menyentuh wanita lain." Tolak kembali Boy.


"Pergilah." Suruh Boy, dengan wajah tenang.


"Kakak." Lirihnya sedih.


"Cih." decih Bram, dan menatap gadis itu ,lewat spion mobil yang ada di atas kepalanya.


Mobil Bram pun melaju meninggalkan pengarangan mansion megah Ruby. Gaby masih menatap kebelakang dia masih berharap kakaknya mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Apa, yang kau harapkan." Cebik Bram.


Bram yang mengendarai mobilnya dan di temani sang kekasih di sampingnya yang asyik dengan ponsel pintarnya itu.


"Gaby, tak menggubris ejekan Bram. Ia hanya pokus memperhatikan jalan kota K di siang hari ini.


"Kau, bertanya dengan siapa, dear." Amber meletak ponselnya dan menegakkan punggungnya, ia menoleh sekilas pada Gaby dan kembali menatap sang kekasih.


"Tidak, apa-apa, sayang." Balas Bram, lembut dan meraih telapak tangan Amber dan mengeggamnya sambil menyetir mobil mewahnya.


Amber mengerutkan alisnya hingga kedua alisnya hampir bertautan. Dia menatap jalanan yang setaunya ini bukan jalanan untuk ke Apartemen Boy. Amber meneloh kearah Bram dan menatapnya penuh tanda tanya.


Bram hanya tersenyum dan menggangkat kedua pahunya pelan.


Amber hanya cemberut dan kembali merebahkan punggungnya ke sandaran kursi. Bram meraih kaki Amber yang hari ini wanita itu menggunakan celana pendek saja, dan meletakkannya di pahanya. Bram mengelus-elus paha mulus wanitanya sambil menyetir mobilnya dengan tangan satunya.


Gaby hanya menyimak perlakuan manis seorang Bram pada wanita yang ada di sampingnya, yang terlihat begitu cantik.

__ADS_1


"Bandara.?"


"K-kenapa aku di bawa kesini.?"


__ADS_2