
"besok, aku akan kembali ke negara K." ucap Boy, di sela acara makan malam di mansion.
semua, orang yang ada di meja makan menatap Boy, dengan raut wajah berbeda-beda.
"tidak, ... ini tidak boleh terjadi, aku harus mencegah kakak, agar tetap disini ," ucap Gaby dalam hati.
"baguslah, kalau dia segera pergi, aku sudah muak melihat dia di sini, dan itu juga akan membuat posisiku aman dan gadis sialan ini tidak akan berbuat bodoh, yang bisa membuat posisi nyonya Cole-ku terancam." batin ibu sambung Boy yang menatap Gaby sinis.
"kenapa, secepat itu, boy? tanya sang Daddy.
"Daddy, masih memerlukan mu, son! dan Daddy juga sudah tua tidak bisa lagi mengurus perusahaan, jadi Daddy tidak mengizinkanmu untuk kembali kesana, dan ini adalah perintah." ucap sang Daddy dengan nada tegasnya.
"ck, aku tidak membutuhkan izin dari anda, dan aku juga tak peduli, yang terpenting semua pekerjaan di perusahaan Daddy sudah aku, selesaikan, dan sudah waktunya aku kembali." tolak Boy sengit.
"apa, kau tidak kasihan kepada, Daddy yang sudah tua dan sakit-sakitan ini,? ujar sang Daddy dengan wajah sendu.
"aku, tidak peduli, meskipun Daddy mati sekalipun," ujarnya santai.
"dasar, anak kurang ajar ....!! maki ibu tiri Boy.
"bisa-bisanya, kau menyumpahi, Daddy mati ....!!! sentak ibu tiri Boy dan mengebrak meja makan, dan terjadilah ketegangan di meja makan itu.
"jangan, membentak ku, wanita sialan,!!! bentak Boy, langsung berdiri dan melemparkan makan yang ada di depannya, dan menatap ibu tirinya itu tajam.
"praanggg."
"Boy, ... jaga ucapanmu,!!!! teriak sang Daddy, yang mengelegar di ruang makan itu.
"kakak," cicit Gaby, pura-pura ketakutan, yang biasa dia lakukan apabila terjadi keributan antara Boy dan sang mommy.
__ADS_1
Boy, menundukkan kepalanya dan melihat sang adik yang matanya, sudah berkaca-kaca.
Boy, menghela nafas untuk mengontrol emosinya, dia tidak ingin membuat sang adik ketakutan dan membuat penyakitnya kambuh.
"pelayan," teriak Boy, memanggil salah satu pelayannya.
"antarkan, dia kekamar nya,!" perintah Boy, saat seorang pelayan datang menghampirinya.
Gaby, menolak dengan menggelengkan kepalanya, dia berharap Boy yang mengantar dirinya ke kamar.
"sayang, masuklah ke kamarmu,! perintah Boy, lembut. tapi Gaby, kembali mengelekkan kepalanya dan memeluk pinggang Boy.
"kakak, jangan pergi,!! pintanya dengan wajah sedih.
sedangkan ibu tirinya menatap cegah dan jijik, melihat tingkah Gaby, yang berlebihan.
"antarkan, dia.! perintah ibu tiri Boy, menjela rengekan Gaby.
"ikutlah,!" ucapnya dan membantu sang adik bangkit, Boy mengecup kening Gaby sebelum pelayan itu mengantarnya ke kamar.
kini, ruang makan itu kembali tegang dengan sorotan mata Boy dan ibu tirinya saling melemparkan tatapan tajam.
*
*
*
*
__ADS_1
"apa, ini ada hubungannya dengan, wanita itu.?" pertanyaan sang Daddy, mehilangkan keheningan di ruang makan tersebut.
pertanyaan sang Daddy, sukses membuat Boy menatapnya tajam dan tangannya sudah mengepal.
"jadi, kau serius ingin kembali karena, wanita itu,?" sang Daddy kembali bertanya dengan senyum mengejek.
"apa, kau tidak bisa mencari, wanita yang lebih baik darinya? dia hanya seorang janda yang di buang oleh suaminya, dan Daddy yakin kau bisa mendapatkan wanita, yang lebih baik darinya," sinis sang Daddy dengan nada menghina.
"jangan, menghinanya ...!! karena dia lebih baik dari jalangmu itu,!!! ujar Boy sambil melirik ibu tirinya.
"dasar, anak ajar ...!!! protes ibu tiri Boy tak terima di katai ******.
"beginikah, ibumu yang kau puja itu mendidik mu, sinis ibu tirinya itu sambil melipat kedua tangannya di dada.
"JAGA, ... UCAPAN MU, NYONYA LESI ....!!! teriak Boy, dan membalikkan meja makan itu.
Boy, tidak terima sang ibu yang begitu menyayanginya di hina oleh, wanita ****** seperti ibu tirinya itu.
Boy, mendekati nyonya lesi, lantas mencepit kuat rahang yang mulai keriput itu, Boy tidak akan terima wanita-wanita yang berharga,
dalam hidupnya dihina.
"aku, peringatkan! jangan pernah menghina ibuku dan wanitaku, kalau tidak aku akan merobek mulut hinamu, ini." ancam Boy dengan wajah dan tatapan mematikan, kini tatapannya beralih ke sang Daddy yang hanya diam, menyaksikan kelakuan Boy, kepada istrinya.
"jangan, pernah menyentuhnya, kalau sampai dia terluka karenamu, maka aku tidak akan memandangmu sebagai ,daddyku lagi dan aku tidak akan segan membunuhmu, cukup mommy yang menjadi korban keegoisan mu itu, tuan Kevin Cole." ucapnya dengan nada ancaman kepada sang Daddy yang menatap Boy dingin, Boy melepaskan wajah nyonya lesi dan meninggalkan, ruang makan itu dengan amarah yang menguasainya.
sedangkan sang Daddy hanya menyeringai dan menatap punggung Boy yang sudah menjauh.
Gaby mengepalkan tangannya, saat mengetahui, sang kakak akan pergi karena seorang wanita yang begitu dicintainya.
__ADS_1
Gaby sejak tadi mendengarkan perdebatan di ruang makan itu, dia menolak kembali ke kamar dan mengancam sang pelayan untuk pergi, dia pun kembali ke ruang makan tanpa sepengatahuan siapa pun.
"kakak, Boy hanya milikku ...!! aku tidak akan membiarkan wanita itu, merebut Boy Raymond Cole dariku." batin Gaby dan meninggalkan ruangan itu, dengan dada yang naik turun dan raut wajah yang menahan marah.