Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 35


__ADS_3

"Kau, siap baby.? tanya Boy, saat pesawat pribadi miliknya mendarat di negara K.


Ruby tak menjawab dia masih membeku di tempatnya, bayang-bayang perlakuan Alex padanya masih tersimpan jelas di ingatan Ruby.


"Aku harus bisa, aku tidak boleh lemah, ayo Ruby lawan rasa takutmu dan ingat tujuanmu." ucap Ruby dalam hati yang memberikan semangat pada dirinya sendiri. Ruby menghela nafas panjang dan membuangnya secara berlahan.


"You are okay? Boy bertanya kembali kepada Ruby, saat pujaan hatinya itu terdiam, dengan lembut boy menggenggam tangan Rubynya.


"Calm down, baby." bisik Boy. Ruby hanya mengangguk dan menatap Boy.


"Ayo " ajak Boy, sambil menarik lembut tangan Ruby dan menuntunnya menuruni tangga pesawat pribadinya, diikuti bibi lili dan para bawahan Boy.


Boy terus menggenggam tangan Ruby mendekati beberapa mobil mewah yang sejak tadi menunggu kedatangan tuan muda Boy Raymond Cole dan rombongannya.


Boy meletakkan telapak tangannya di kepala Ruby saat pemilik hatinya itu akan masuk kedalam mobil, Boy juga membantu Ruby memasang seat beltnya, setelah dirasa sang Pemilik hatinya itu sudah aman dan nyaman, Boy mengitari mobil itu dan duduk di samping Ruby. " Kita ke apartemen." perintah Boy kepada sang sopir. Kini mobil mewah dengan harga selangit itu membelah jalanan yang cukup macet di kota K dan di ikuti beberapa mobil mewah lainnya yang di gunakan bibi lili dan bawahan Boy.


Ruby terus memandang keluar jendela mobil, merenungi masa lalunya di negaranya ini, masa-masa bahagianya sebelum bertemu Alex dan masa-masa di mana dia begitu bahagia bersama kedua orang tuanya, dan kebahagiannya itu berubah kesedihan, setelah mengenal dan menikah dengan Alex.


Seandainya, waktu bisa di putar kembali dan Ruby pasti tidak akan menerima, Alex sebagai suaminya dan pasti sekarang kedua orang tuanya masih bersamanya sekarang, "mungkin ini sudah takdirku." katanya dalam hati, dan mata indah Ruby sudah mulai mengembun dan detik itu juga air mata yang sejak tadi di tahannya keluar juga membasahi pipi mulus Ruby. dan tangisnya meledak saat melihat bangunan tinggi dan mewah yang dia kenali adalah perusahaan sang Daddy, kini berubah nama menjadi nama si brengsek yang telah menghancurkan hidupnya. Boy yang sedang memeriksa beberapa pekerjaannya di ipadnya terkejut mendengar tangisan Ruby yang tiba-tiba, dia lantas menarik lembut Ruby membawanya ke pelukan hangatnya.


"Hey, what happened,baby? tanya Boy khawatir saat tangis Ruby makin kencang. Ruby tak menjawab dia terus menangis dan meraung saat melihat perusahaan yang Daddynya bangun dari nol kini sudah berubah nama dan di kuasai oleh orang yang telah menghancurkan kebahagian dan hidupnya.


"Shustt." tenanglah, baby,! ujar Boy yang masih memeluk Ruby dan mengusap punggung wanitanya lembut sembari mengecupi rambut Ruby.


Setelah beberapa lama Ruby menangis, kini dia sudah mulai tenang, tapi masih terdengar nafas sesenggukan sisa-sisa tangisnya tadi. Boy menunduk kepalanya dan melihat Rubynya itu sudah tertidur akibat terlalu lelah menangis. Boy menidurkan Ruby di pangkuannya dan memberikan kenyamanan buat wanitanya itu.


"Istirahatlah, baby." Cup." Boy mengecup kening Rubynya penuh cinta yang ada di pangkuannya.

__ADS_1


"Aku, bersumpah takkan membiarkanmu menangis lagi baby, cukup hari ini kau menangis seperti tadi, yang bisa membuatku terluka, "cup."


"Sekarang, kau adalah wanitaku yang tangguh, jadi mari kita hancurkan mereka, baby," dan berhentilah menangisi kelakuan mereka padamu, yang hanya membuatmu kembali terluka." Boy terus saja berbisik di telinga Ruby, memberikan semangat buat wanitanya itu.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kini mobil yang di gunakan Boy, beserta rombongannya, telah memasuk basemen apartemen mewah yang terdapat di negara K.


Boy keluar dari mobil dengan Ruby yang masih berada di pangkuannya, setelah salah satu bodyguardnya membukakan pintu mobil. Boy memasuki apartemen itu sambil mengendong Ruby yang masih terlelap, Boy berjalan kearah lift untuk membawa mereka ke unit apartemennya, di lantai paling atas. Boy memasuki lift khusus untuknya yang langsung terhubung dengan unit apartemennya, di ikuti asisten Bram, bibi lili, Amber dan beberapa bodyguard yang selalu mendampingi boy.


"Ting." lift khusus itu telah sampai ke unit Boy, asisten Bram dengan sigap menekan tombol lift khusus, itu yang kalau terbuka langsung berada di ruangan apartemen Boy.


Boy, membawa Ruby di kamarnya dan meletakkan tubuh mungil sang pemilik hatinya itu, dengan hati-hati di ranjang king size miliknya, menyelimutinya dan terakhir mengecup kening Ruby.


"Istirahatlah, baby." Boy menuju ruang kerjanya setelah menidurkan wanitanya di ranjang.


"Bibi, tolong jaga Rubyku." perintah Boy kepada bibi lili.


"Baik tuan." jawab bibi lili.


"Baik tuan." setelah memberi perintah kepada bibi lili, boy melanjutkan langkahnya ke ruangan kerjanya yang di ikuti asisten Bram di belakangnya.


"Informasi, apa yang kau dapatkan." ucap boy tegas,


"Tuan, A-! ucapan asisten Bram terhenti saat mendengar bentakan dari tuan mudanya.


"Jangan sebut nama brengsek itu di depanku, Bram ….! geram Boy sambil mengebrak meja kerjanya.


"Iy ...iya tuan! jawab asisten Bram terbata.

__ADS_1


"Lanjutkan." ujar Boy.


"Mereka, menganti nama perusahaan Pattinson group, menjadi Graham group, tuan! dan besok mereka akan mengadakan pesta untuk menyambut pemimpin baru di perusahaan keluarga Pattinson, serta untuk pesta pergantian nama perusahaan Pattinson tuan.!" asisten Bram melaporkan semua informasi yang ia dapat dari orang suruhan.


"Brengsek …! berang Boy sambil mengebrak meja kerjanya kembali.


"Sa … satu lagi tuan!" ucap asisten Bram gugup.


"Katakan." perintah Boy dingin


"Me … mereka memalsukan kematian nyonya Ruby, kepada media tuan." dengan penuh keberanian asisten Bram mengatakan berita yang akan membuat tuan mudanya itu mengamuk dan dugaannya benar, setelah mendengar informasi itu Boy mengamuk sejadi-jadinya sambil mengumpat dan memaki Alex dan Rebecca.


"Brengsek, kau Alex Graham! berani-beraninya kau mempermainkan kematian wanitaku ….!!!


"Akkhhh …! akan aku hancur kau, Alex Graham ….!! Boy terus mengamuk dengan membanting semua barang yang ada di ruang kerjanya.


"Tunggu aku, Alex Graham, aku pastikan kau akan hancur," kau sudah berani menyakiti dan membuat wanitaku menangis, sekarang giliranmu yang akan aku hancurkan." monolog Boy dengan geraman yang mengerikan.


"Kita, mendapatkan undangan untuk acara mereka besok tuan.!" lapor asisten Bram.


Seringai licik, muncul di bibir seksi Boy, dia memiliki rencana untuk menghancurkan Alex besok di pestanya sendiri. Bukankah lebih cepat, menghancurkan Alex akan lebih cepat pula, ia meminang sang puja hatinya?


"Baiklah, persiapkan rencana untuk menghancurkan pria brengsek itu. perintah Boy dengan tersenyum licik.


"Siap tuan." jawab asisten Bram


"Aku, sudah tidak sabar, melihat kehancuran mereka besok," hehehe." gumam boy sambil terkekeh.

__ADS_1


Sedangkan asisten Bram, hanya terdiam melihat tuannya itu, dia masih bertanya dalam hati, kira-kira rencana apa yang akan di lakukan oleh tuan muda arogan ini.



__ADS_2