Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 79


__ADS_3

Bram dan Amber berjalan mendekati pasang yang sedang menonton tv itu sambil berpelukan.


Bram tidak melepaskan, genggaman tangannya pada Amber saat berada di hadapan tuan dan nyonyanya.


"Selamat malam." sapa Bram.


membuat pasangan romantis itu mengalihkan pandangan mereka kearah Bram dan Amber.


Boy memicingkan pandangannya pada genggaman tangan dua sejoli di depannya.


Sedangkan Ruby bersorak kegirangan saat melihat Amber.


"Amber ….!!! pekik Ruby senang.


Amber hanya tersenyum kikuk dan salah tingkah.


"Lepaskan." bisiknya di telinga Bram.


Ruby mengerut keningnya, melihat tingkah dua manusia di depannya.


Sedangkan Boy masih menatap kedua tangan sejoli itu yang masih menempel.


Boy berdecak kesal, saat mengingat ia menunggui asistennya ini sejak tadi. sedangkan sang asisten hanya tersenyum pongah, memamerkan hubungannya dengan Amber. membuat Boy menjadi tambah kesal dan ingin mejitak kepala asisten durhantonya itu.


"Kalian, jadian.?" tanya Ruby, yang pandangannya tertuju pada tautan tangan Bram dan Amber.


"Tidak."


"Iya." Jawaban serentak mereka membuat Ruby binggung, dan menyengitkan alis.


"Sayang, sekarang kau resmi menjadi kekasihku." ujar Bram dan membuat pipi Amber merona merah.


"Cih." Boy tersenyum sinis saat mendengar, Bram memanggil Amber sayang.


"Jadi, kalian jadian ….!!! ujar Ruby heboh Lulu menarik Amber dan memeluknya.


"Akhh, … selamat, aku senang akhirnya kau memiliki kekasih." pekik Ruby senang dan masih memeluk Amber.


Boy bangkit dan menarik Rubynya. dia tidak terima Rubynya memeluk orang lain selain dirinya.

__ADS_1


meskipun Amber seorang perempuan.


Ruby menatap Boy tajam, tak terima kesenangannya dengan Amber di ganggu.


"Jangan memeluknya, aku tidak suka." rengek Boy dengan wajah memelas.


ucapan Boy, membuat Amber dan Bram menganga dan membulatkan mata mereka.


"Apa, aku salah melihat." Amber berbisik di telinga Bram. dan di jawab anggukkan oleh Bram.


"Astaga, ini sangat mengelikan." gumam Bram bergedik saat melihat ekspresi dan tingkah tidak biasa sang tuan muda.


Sedangkan Ruby hanya mencebikkan bibirnya dan kembali menghampiri Amber.


"Untung, kau ada disini. jadi malam ini kita tidur bersama." ucap Ruby senang.


"No."


"Tidak."


Boy dan Bram bersamaan menyela ucapan Ruby.


"Why." ucap Ruby.


"Baby, kau akan tidur denganku, tidak ada penolakan." titah Boy.


"Tapi, aku ingin tidur bersama, Amber," tolak Ruby.


"No, kau tetap tidur bersamaku, Baby." saut Boy lagi.


"Paman, …!! rengek Ruby.


"No."


"Paman, … please!!! mohon Ruby mengeluar senjata ampuhnya.


"No." tolak Boy tegas.


"Amber, akan tidur bersamaku, nyonya."

__ADS_1


"Bukan begitu, sayang.?" sela Bram dan kembali menggenggam tangan kekasihnya.


"Jadi, malam ini kau tetap bersamaku, baby." ujar Boy dengan senyum puas.


"Terserah." ucap Ruby pasrah dan menarik tangan Amber, membawanya kedalam dapur.


"Dasar, paman mesum, menyebalkan." gerutunya sepanjang jalan memasuki dapur.


"Aku, mendengarmu, baby." teriak Boy.


Ruby tak menghiraukan teriakan Boy, dia terus melangkah kearah dapur.


*


*


*


"Jadi, semua adalah rencana wanita licik itu.?" Boy mengeram dan melemparkan berkas laporan yang di berikan asistennya itu.


"Dasar, wanita rubah sialan.!!! geram Boy tertahan.


"Aku, tidak akan memaafkan wanita itu, kalau sesuatu terjadi pada, Rubyku hari ini."


"Syukurlah, aku datang tepat waktu, sebelum pria brengsek itu mencoba, berbuat jahat pada Rubyku."


"Aku, ingin kau membawa pria brengsek itu padaku."


"Jangan lupa, berikan pelajaran buat wanita rubah licik itu." Boy begitu marah saat mengetahui, Rebecca dan klien Ruby tadi sudah berkerja sama untuk menjebak Ruby.


"Berikan, dia pelajaran yang tidak bisa ia lupakan." perintah Boy dengan raut wajah mengerikan.


"Siap tuan." jawab Bram.


"Jadi, katakan padaku, kenapa kau bisa menjadikan wanita tembok itu kekasihmu." Boy bertanya dengan memicingkan matanya kembali pada Bram.


"Kau, serius dengannya.?" tanya Boy lagi, saat asistennya hanya terdiam.


"Aku, serius dengannya dan aku sudah jatuh cinta padanya, saat pertama kali melihatnya." jawab Bram dengan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2