
"will you Marry me, Ruby Pattinson.?" Boy berlutut dengan satu kaki dan tangannya memegang sebuah kotak berhiasan yang terdapat cincin berlian yang sangat indah.
Dengan perasaan berdebar kencang Boy, menunggu jawaban Ruby dengan wajah cemas.
Ruby yang terkejut dengan lamaran Boy, hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
air matanya pun meleleh dan dengan cepat dia pun menganggukkan kepalanya pelan.
Boy bersorak dan berlomba-lomba kegirangan saat Ruby menerima lamarannya.
Boy meraih cincin berlian itu dan mengarah kepad jemari Ruby. Ruby pun menjulurkan jari manisnya kepada Boy.
mereka pun berpelukan dan tersenyum bahagia. Boy mengangkat tubuh Ruby dan menatap wanitanya dari bawah dengan yang saling bertautan. Ruby menggesek hidung mereka dan memejamkan matanya saat Boy mengecup dan menyesap bibir ranumnya.
"terimakasih, baby ... terimakasih, kau sudah menerima ku sebagai pendampingnya mu. aku berjanji akan selalu setia kepadamu baby dan aku berjanji akan selalu membahagiakan mu." ucap Boy tulus dan kini matanya sudah berkaca-kaca karena bahagia dan terharu.
"aku, bercaya padamu, paman dan aku yakin kau tidak akan membuatku sedih dan kau akan selalu memberiku kasih sayang." ujar Ruby dan melingkarkan kakinya di pinggang Boy.
"love you, baby." bisik Boy.
"aku, juga mencintaimu, paman." balas Ruby.
mereka pun melanjutkan tautan bibir mereka dengan perasaan bahagia.
Boy berjalan kearah meja, yang sudah tersedia menu makanan, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Boy melepaskan cumbuannya dan mendudukkan Ruby di kursi yang sudah ia siapkan untuk Rubynya yang sekarang menjadi calon istrinya.
"jadi, paman menghilang seharian ini, hanya untuk menyiapkan ini.?" tanya sambil memandangi ruangan yang sudah disulap seindah mungkin.
"hu'um, apa kau menyukainya, baby.?"
__ADS_1
"iya, aku suka. ini indah sekali, paman."
"baiklah, nanti kita akan membuat lebih indah di acara pernikahan kita Minggu depan."
"uhuk, uhuk, uhuk." Ruby tersendat makannya, saat mendengar ucapan Boy.
"Minggu depan.?" Ruby membeo.
"iya ,kita akan menikah Minggu depan. jadi bersiaplah, baby." jawab Boy, tersenyum senang.
"apa, itu tidak terlalu cepat, paman.?" tanyanya lagi dengan gusar.
"tidak, lebih cepat kan lebih baik." tolak Boy.
"tap-,"
"no, ... tidak ada penolakan. Minggu depan kita akan menikah titik." sarkas Boy.
"jangan, khawatir, baby. semaunya sudah siap, kita tinggal bersiap untuk Minggu depan, baby."
"dasar, paman mesum pemaksa." cebik Ruby.
boy hanya mengusap rambut Ruby sayang, dan kini mereka sedang, menikmati makan malam penuh romantis itu.
"jadi, gadis itu akan kesini.?" Bram yang sedang menerima panggilan dari orang suruhannya.
" ...
"awasi, terus dia dan jangan biarkan dia kesini Minggu depan."
"aku, tidak mau tau, kau harus menahannya atau menyekapnya disuatu tempat terpencil. jangan sampai dia mengagalkan pernikahan Boy dan Ruby.
__ADS_1
" ...
"habisi, saja dia dan buang jauh-jauh mayatnya."
" ...
"aku,. tidak peduli. yang terpenting jangan biar gadis itu menginjak kakinya kesini."
" ...
"hm."
Bram meletakkan kembali ponselnya setelah sambungan telepon di seberang sana terputus.
"aku, tidak akan membiarkan gadis licik, itu menghancurkan semua acara Boy." gumam Bram.
"halo,"
" ...
"aku, ingin kau menculik gadis itu, dan bawa ketempat ku." perintah Bram, pada anak buahnya.
" ...
"hm,
panggilan itupun terputus. dan Bram keluar dari kamar dan mendapati Amber sedang membuat sesuatu di dapurnya.
"Hay, sayang," cup." sapa Bram dan mengecup pipi Amber
"kamu, sedang apa,?" tanya Bram, yang melihat Amber sibuk dengan kuali diatas kompor.
__ADS_1
"sedang masak buat makan malam."
Bram mendekati Amber dan meraih pinggang ramping wanita itu dan memeluknya dari belakang.